Sabtu, 20 April 2019

THE POWER OF CELEBRATION

THE POWER OF CELEBRATION

Ketika kita kehilangan "perayaan" akan sesuatu yang penting, maka kita dapat dengan mudah kehilangan makna & pesan penting yang ada pada sesuatu yang kita rayakan.

Saya adalah orang yang tidak suka merayakan sesuatu. Momen penting seperti hari ulang tahun, bagi saya biasa saja. Sampai saya mulai belajar memahami pentingnya sebuah "perayaan" (celebration).

Dulu saya berpikir bahwa ada banyak perayaan yang dilakukan hanya sekedar formalitas. Menghambur-hamburkan uang, namun kita kehilangan makna. Karena itu, saya perlahan-lahan mulai berhenti merayakan segala sesuatu.

Namun saya menemukan bahwa perayaan-perayaan di dalam Alkitab merupakan "perintah Tuhan." Di balik setiap perayaan, umat Tuhan dipanggil untuk mengingat kembali perbuatan-perbuatan Allah dalam hidup mereka. Di dalam perayaan terdapat "pengulangan." Pengulangan yang muncul dalam perayaan memiliki tujuan, yaitu untuk menanamkan iman dalam sebuah komunitas. Iman itu harus dipelihara. Konten iman kita harus terus-menerus dihidupkan kembali. Sebuah perayaan adalah upaya untuk menghidupkan kembali konten iman kita akan Tuhan. Iman kita tidak dapat lepas dari ingatan (memori) kita. Pengulangan dapat menghasilkan pemahaman yang lebih baik.

Sebuah perayaan hanya dapat terjadi jika ada komunitas. Kita tidak dapat merayakan sesuatu seorang diri. Paling tidak ada 2 atau 3 orang, barulah kita dapat merayakan sesuatu.

Pentingnya sebuah perayaan:
1. Mengingat perbuatan Tuhan (memelihara iman).
2. Tujuan tertinggi dari sebuah perayaan ialah hubungan, bukan sekedar acaranya.
3. Mewarisi iman pada generasi berikutnya.


Senin, 23 Januari 2017

Perkelahian Dua Ekor Kucing 03.50 Dini Hari

Pukul 03.50 dini hari, saya terpaksa harus bangun karena mendengar sebuah bunyi keras di dalam kediaman kami yang begitu tenang. Dua ekor kucing bertengkar, naik ke atap rumah melalui loteng rumah tetangga & melanjutkan perkelahian di atas rumah kami hingga mereka menjebol plafon (langit-langit) rumah & jatuh ke dalam ruang jemuran kami.

Saya punya pengalaman yang mirip dulu, ketika masih tinggal dengan orang tua saya. Papa saya menghajar kucing yang jatuh menjebol plafon rumah tepat di depannya yang sedang asyik nonton TV hingga kucing tersebut tewas (walaupun papa saya harus mengalami luka cakar & beberapa barang pecah karena ulah si kucing yang coba melawan & kabur).

Belajar dari pengalaman tersebut, saya berusaha bersikap tenang walaupun harus bangun dengan sedikit kesal. Saya tidak ingin ada barang-barang di rumah yang rusak apalagi mengalami luka cakar di pagi buta. Dengan tenang saya coba membuka pintu ruang jemuran, dengan maksud mengintip untuk mengetahui apa yang terjadi. Dengan secepat kilat kedua kucing tersebut masuk ke dalam rumah. Waduh gawat!!! Saya takut mereka bertengkar & mengacau di dalam rumah.

Ternyata mereka hanya berusaha mencari jalan keluar. Tapi sayangnya semua pintu masih tertutup. Pelan-pelan saya menyalakan lampu & berusaha membuka pintu rumah tanpa membuat mereka marah sehingga pertengkaran menjadi lebih hebat & menghancurkan barang-barang di rumah. Untungnya waktu saya tenang, kedua kucing tersebut juga dapat ditenangkan.

Begitu pintu terbuka, salah satu kucing langsung lari keluar. Sedangkan satu lagi masing sembunyi sambil berusaha mencari jalan keluar melalui jendrla yang ada di balik tirai.

Waktu saya menyingkapkan tirai tersebut, ternyata si kucing terjepit tidak bisa bergerak di jeruji jendela. Kembali saya harus bersikap tenang untuk membuka jendela tersebut tanpa membuatnya marah. Kembali dengan tenang saya berusaha membuka jendela tersebut, dan akhirnya kucing kedua pun keluar.

Pertengkaran dan perkelahian pasti mendatangkan kerugian. Bukan hanya bagi mereka yang berkelahi, tetapi juga bagi orang-orang yang ada di sekitar mereka. Coba, salah apa saya dengan kedua kucing "nakal" tersebut. Saya tidak pernah mengganggu mereka (menendang, menyiram air atau menimpuk pakai batu). Apalagi anak saya Adriel yang berusia hampir 2 tahun, ngefans berat sama mereka. Setiap kali melihat kucing, dengan antusias Adriel akan berteriak: pusss!!! pusss!!!" Salah apa saya sampai harus terbangun dalam keadaan kaget setengah mati pada pukul 03.50 dini hari ketika sedang enak-enak tidur karena kecapekan.

Kadang pada waktu bertengkar & berkelahi, kita tidak berpikir panjang. Kata-kata kasar yang dilontarkan, serangan fisik, dan berbagai tindakan yang tanpa penguasaan diri, semua itu juga bisa dirasakan & berdampak pada orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang tua yang bertengkar, kadang tidak menyadari dampak psikologis yang ditimbulkan kepada anak-anak yang menyaksikannya. Terkadang orang-orang (anak-anak kita) yang ngefans dengan kita menjadi ikut dirugikan waktu kita bertengkar & berkelahi tanpa penguasaan diri.

Orang yang tidak bisa menguasai diri, tidak bisa jadi berkat buat orang lain. Itu pelajaran penting. Orang yang menguasai dirinya bisa menjadi berkat bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

"... sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:20)

"Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya." (Amsal 25:28)

Ayat ini mungkin bisa dimodifikasi menjadi: "Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kucing yang bikin jebol plafon rumah orang yang lagi asyik tidur jam 03.50 dini hari."

Sungguh terlaluuu....

Jumat, 15 Juli 2016

BADAI TELAH USAI, INI WAKTUNYA MEMBANGUN KEMBALI!


Melewati badai saja tidak cukup. Ini waktunya membangun. Membangun sesuatu tidak mudah. Banyak orang hanya senang badai telah berlalu. Sekarang kita berada di comfort zone. Membangun itu beresiko. Bagaimana seandainya apa yang coba kita bangun itu gagal?

Membangun sesuatu membutuhkan keberanian. Berani menghadapi kemungkinan akan kegagalan. Ada orang-orang yang terlalu lelah dengan badai yang baru saja berlalu. Badai-badai p ktelah menimbulkan banyak ketakutan yang belum tersembuhkan meskipun badai telah berhenti. Badai yang sesungguhnya ada di dalam kita, berkecamuk dan mengendalikan setiap keputusan. Logika kita dicemari oleh ketakutan, sehingga membawa kita untuk main aman.

Iman menantang kita untuk tidak main aman dalam kehidupan ini. Orang yang selalu main aman akan selalu menyesali sejarah hidupnya. Karena kurang berani, hidupnya tidak banyak hal menarik untuk dikisahkan. Tidak banyak hal berarti untuk diteladani. Tidak ada nilai yang diperjuangkan. Bahkan mungkin tidak ada hal yang perlu di ubah, karena rasanya semua baik-baik saja.

Anggapan bahwa hidup yang kita jalani hari ini baik-baik saja merupakan sebuah jebakan. Membawa kita kehilangan kewaspadaan (sense of alertnesss). Akibatnya kita tidak merasa urgent untuk berlatih dan mempertajam diri.

Sungguh, tanpa tujuan yang benar memimpin kita dari dalam, hidup hampir tidak ada artinya. Hidup ranpa masalah bukanlah kehidupan itu sendiri. Kita baru benar-benar hidup ketika kita hidup menaklukkan masalah. Menang atas masalah & tetap berdiri untuk bisa membantu orang lain untuk menang atas masalahnya.

Meski badai telah selesai, ini bukan waktunya berdiam diri... Ada sesuatu yang harus dibangun. Bukan karena kita yang mau atau tidak... Melainkan karena ini adalah "perintah."

Seperti kitab Nehemia memberi tahu kita, bahwa inilah waktu untuk membangun kembali puing-puing. Jangan biarkan "kota" ini tetap menjadi reruntuhan. Kita membangun karena kita percaya bahwa Allah belum selesai dengan kita. Ia masih ingin berkarya melalui "kota" kita. Di sinilah tempat di mana Allah pernah memulai sesuatu yang baru. Dan Ia terus akan melakukan hal-hal yang baru di generasi ini.

Kamis, 12 Mei 2016

Bertumbuh Dalam Kompetensi & Penyerahan Diri

Tahun ini saya semakin menyadari pentingnya menggunakan waktu di masa lalu untuk membangun kompetensi yang hasilnya bisa dinikmati saat ini. Entah kenapa, kata "kompetensi" menjadi kata yang muncul dengan kuat sepanjang tahun ini. Tanpa kompetensi, kita tidak akan dapat terus menjadi berkat & hidup berdampak.

Kadang kita gemes sama orang-orang yang nggak mau mengembangkan kompetensinya sehingga tetap dengan kemampuan atau skill seperti 3 atau 5 tahun lalu, tapi mengharapkan hasil & kepercayaan lebih di tahun ini.

Ada banyak gereja meminta agar Tuhan mengirimkan jiwa-jiwa ke dalam gerejanya, namun orang-orang yang ada tidak memiliki kompetensi untuk mengatasi berbagai masalah & krisis yang dialami oleh jiwa-jiwa baru yang datang ke gereja.

Seiring saya terus membangun kompetensi & kompetensi tersebut menjadi sebuah kontribusi yang dapat dinikmati & diakui oleh orang lain, ternyata jika kita tidak berjaga-jaga, kompetensi dapat menjadi rintangan untuk kita berserah kepada Tuhan. Kompetensi dapat melunturkan tingkat penyerahan diri kita kepada Allah. Sehingga tanpa sadar kita berhenti mengandalkan Allah & mulai mengandalkan kekuatan sendiri.

Waktu kita bertumbuh dalam kompetensi, kadang kita menjalani hidup dengan "perasaan mampu." Ketika kita mengandalkan kemampuan (kompetensi) yang semakin bertumbuh & diakui orang lain, kita tidak lagi merasa memerlukan kasih karunia Allah.

Malam ini saya berhenti sejenak dari segala kesibukan, & mulai memeriksa kehidupan saya... Apakah saya tanpa sadar sudah berhenti mengandalkan Tuhan oleh karena kompetensi saya yang semakin bertumbuh & diakui orang lain.

Saya tidak ingin hidup di luar kasih karunia. Kompetensi terbatas, sehebat apapun kompetensi itu. Saya harus kembali untuk hidup dalam penyerahan diri & selalu mengandalkan Allah, meskipun kompetensi saya terus semakin berkembang.

Saya berhenti mengakui kompetensi saya & mulai mengakui betapa besarnya kasih & kuasa Allah atas kehidupan saya.

Kita harus hidup dengan kesadaran akan anugerah Allah setiap hari. Penyerahan diri setiap hari kepada Allah akan membawa kita untuk mengerti & berjalan di dalam rencana Allah.

Sabtu, 26 Desember 2015

TONY STARK VS IRON MAN

Terkadang kita begitu arogan seperti Tony Stark yang bangga dengan semua prestasi & pengakuan manusia, seakan kita adalah orang yang tak terkalahkan (undefeated & unbeatable). Hingga semua kebanggaan tsb menggiring kita ke dalam sebuah goa yang menjadi TITIK TERENDAH SEKALIGUS TITIK BALIK di mana kita MENGALAMI PERJUMPAAN DENGAN KEBENARAN, yang membuat semua kesombongan kita runtuh & kita MULAI MENDEFINISIKAN ULANG APA YANG ADA DI HADAPAN KITA sehingga berakibat pada PERUBAHAN PRIORITAS, FOKUS & TUJUAN mengapa kita melakukan sesuatu. Ini yang seharusnya terjadi: kita masuk ke goa sebagai TONY STARK, namun kita keluar dari sana sebagai IRON MAN. TITIK TERENDAH DALAM HIDUP ANDA SEHARUSNYA MENGUBAH ANDA MENJADI SESUATU YANG LEBIH BAIK! Anda harus tentukan, apakah anda "keluar sebagai TONY STARK" yang kalah akibat tekanan, kegagalan & intimidasi; atau anda "keluar sebagai IRON MAN" (super hero) yang menemukan IDENTITAS BARU dengan sebuah VISI YANG BESAR untuk menolong sebanyak mungkin orang yang Allah percayakan ke dalam hidup anda. #HolySpiritInside #FromZeroToHero #TruthEncounter #ManOfVision #FromIdentityToDestiny

Jumat, 25 Desember 2015

BERJALAN DI DALAM KEMATIAN DAGING

Belajar mematikan kedagingan merupakan sebuah keputusan penting yang akan menentukan bagaimana kita dapat mengalami terobosan rohani. Ada banyak kegagalan dalam membangun kehidupan doa, hidup kudus, kegagalan dalam pelayanan, menghidupi panggilan maupun menuntun hidup orang lain, karena kita tidak bersedia hidup sebagai orang Kristen yang mematikan kedagingan setiap hari.

Mematikan kedagingan sepertinya sebuah pesan penting yang mempersiapkan saya lebih lagi untuk memasuki tahun 2016.

Tanpa mematikan kedagingan, kita akan sulit untuk mendengar suara Tuhan. Jika kita tidak mematikan kedagingan, kita akan cenderung melayani Tuhan dengan pengertian kita sendiri. Ketika kita tidak bersedia mematikan kedagingan, maka kita tidak akan dapat hidup menggenapi rencana Allah.

Mematikan kedagingan menuntut harga "kehilangan kesenangan." Tubuh kita selalu mengejar & menginginkan kesenangan serta kenyamanan. Hal yang berbahaya dari dosa ialah karena kenikmatan & kesenangan yang ditawarkannya.

Kita tidak dapat bertumbuh & berbuah tanpa mengalami kematian daging. Itu sebabnya setiap orang percaya harus hidup dengan GAYA HIDUP SALIB setiap hari.

Berulangkali Alkitab membahas kata "keinginan," sebagai hal yang mencobai manusia untuk hidup dalam dosa. Kita harus dapat menguasai keinginan kita sebelum keinginan tersebut yang menguasai kita.

Firman Tuhan yang kita terima sebagai makanan rohani, seharusnya membantu kita untuk mematikan kedagingan kita supaya Roh Kudus dapat memanifestasikan kehidupan Yesus melalui kehidupan kita. Yang berbahaya ialah jika khotbah-khotbah yang kita dengar justru membangkitkan keserakahan & bukannya mematikan kedagingan. Sungguh ceroboh jika kita menyelenggarakan ibadah & mengajarkan pengajaran yang justru membangkitkan kedagingan dalam kehidupan orang-orang yang kita pimpin.

Gereja yang sejati ialah gereja yang berjalan di dalam kematian daging. Supaya kehidupan Kristus dapat termanifestasi melalui kita & menjamah hidup banyak orang.

Pelayanan yang mengalirkan pengurapan Allah ialah pelayanan yang dijalani di dalam kematian daging, bukan kebanggaan diri. Waktu daging kita mati, Roh Allah baru dapat bergerak secara bebas untuk bekerja melalui kita.

Sikap kitalah yang seringkali menjadi PENYUMBAT bagi kuasa Allah untuk dapat bekerja di dalam kehidupan kita.

Selamat belajar untuk berjalan di dalam kematian daging setiap hari!

Kamis, 08 Oktober 2015

DON'T LEAD BY ASSUMPTION

Akhirnya saya mengalami sendiri betapa berbahayanya memimpin berdasarkan asumsi. Saya adalah seorang yang berkepribadian Intim-Stabil yang sangat "people-oriented." Saya menyadari bahwa "relationship" merupakan area kekuatan saya. Namun, saya pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa kekuatan & kelemahan seseorang terletak di area yang sama. Kekuatan yang "tidak diurus" & dikembangkan, dapat berubah menjadi kelemahan yang mendatangkan kekalahan di hidup kita. Relationship ternyata merupakan area kekuatan sekaligus area kelemahan yang harus saya waspadai & atasi.

I love people... Saya bahkan bertumbuh sebagai seorang anak yang mudah percaya kepada orang lain. Tidak pendendam meskipun bisa saja terjadi keributan. Cepat memaaafkan. Tidak suka adanya konflik hubungan. Saya menyukai banyak teman. Lebih tepatnya, saya suka ketika ada banyak orang menyukai saya.

Namun ternyata, kepemimpinan membawa hidup saya ke dalam banyak zona berbahaya yang penuh dengan konflik & konfrontasi. Ada kalanya disalahpahami, difitnah, ditinggalkan, tidak dianggap, dimanfaatkan bahkan ada orang-orang yang menginginkan kegagalan & kehancuran saya.

Apa yang terjadi baru-baru ini membuka mata saya akan sebuah pelajaran penting di dalam kepemimpinan, yaitu: asumsi. Don't lead by assumption. Bagaimana caranya menggambarkan asumsi? Mungkin dengan kata-kata berikut: saya pikir... kirain sudah tahu... tadinya gue anggap dia sudah ngerti...

Ketika melihat "orang-orang hebat" yang Tuhan berikan di gereja kami, saya berasumsi bahwa mereka sudah hidup dengan kapasitas seorang pemimpin. Dengan melihat & berinteraksi dengan mereka, saya menaruh harapan yang besar akan kapasitas & kemampuan mereka. Ternyata saya salah. Bukan salah mereka jika mereka tidak memenuhi ekspektasi kita. Kitalah yang kurang objektif dalam mengenal mereka. Kita harus mengenal lebih dulu sebelum menaruh ekspektasi pada diri mereka. Karena menyukai hubungan dengan orang-orang tertentu, kadang kita menutup mata terhadap hal-hal kecil (sinyal-sinyal kecil) yang seharusnya kita waspadai. Ketika kita mengabaikan sinyal-sinyal kecil tersebut, kita sedang membiarkan benih yang salah tumbuh di dalam diri mereka.

Ternyata bukan hanya "leadership" yang harus dipandu dengan "prinsip," tetapi "hubungan" juga perlu dijalani dengan pemahaman akan prinsip-prinsip hubungan yang tepat. Prinsip-prinsip yang salah mengenai hubungan dapat membawa kita pada kegagalan & masalah besar seputar hubungan dengan orang lain.

Pengampunan merupakan langkah awal dari pemulihan. Iman membawa kita untuk terus melangkah maju dalam rencana Allah. Pasti ada sesuatu yang besar yang Allah ingin kerjakan melalui peristiwa ini. Kita harus kembali membenahi perspektif kita bahwa seluruh pelayanan kita merupakan milik Allah. People come & go. Sebagai pemimpin kita harus siap dengan pertambahan & kehilangan. Ketika ada orang yang masuk di bawah kepemimpinan kita, mungkin ada pemimpin lain yang kehilangan orang tersebut. Sebagai seorang pemimpin kita harus bersikap fair ketika orang datang & meninggalkan kita. Kita harus kembali mengingat bahwa kita cuma hamba. Kita bukan pemilik segala sesuatu; kita hanya dipercaya untuk mengelola apa yang Tuhan percayakan. Jika apa yang ada pada kita diambil, maka kita tidak boleh terpuruk dalam kekecewaan & masuk ke dalam kubangan mengasihani diri.

Tidak ada yang fatal di dalam Tuhan. Allah bisa mengubah & memperbaiki keadaan kita, melampaui kelemahan kita, asalkan kita memiliki kerendahan hati untuk memperbaiki setiap kesalahan yang Allah singkapkan kepada kita. Setiap pemimpin bukan hanya membutuhkan karunia untuk memimpin, mereka juga membutuhkan kasih karunia untuk memimpin. Agar ketika mereka berhadapan dengan konflik & konfrontasi, mereka tidak menjadi lelah, terluka & berhenti di tengah jalan. Melainkan tetap mengandalkan Allah yang telah memanggil mereka untuk sebuah tugas yang sulit, yang hanya bisa diselesaikan dengan kemampuan-Nya.

Pengurapan di dalam diri anda akan selalu mengundang konfrontasi. Semakin anda sungguh hidup dalam rencana Allah, Iblis akan semakin ingin menghentikan anda.

Saya bersyukur untuk "godly advice" yang diberikan oleh beberapa pemimpin yang telah lebih dulu melewati berbagai medan sukar di dalam kepemimpinan mereka. Hikmat yang mereka membantu saya untuk melihat jalan keluar & mengetahui hal-hal apa saja yang harus saya lakukan.

Senin, 05 Oktober 2015

The Hardest Lesson of Fatherhood Leadership

Seorang sahabat meminta saya menggantikan dia mengajar di kelas Christian Leadership di sebuah STT tempat ia mengajar. Saya diminta mengajarkan materi FATHERHOOD LEADERSHIP (Kepemimpinan Pembapaan). Ini adalah salah satu tema yang telah saya pelajari & praktekkan sejak bertahun-tahun yang lalu.

Namun hari-hari ini, saya sedang berada di waktu yang sangat sukar untuk mengajarkan kebenaran tentang FATHERHOOD LEADERSHIP. Saya berada diambang kegagalan untuk mempraktekkan materi yang akan saya ajarkan. Kepemimpinan Pembapaan bukan sekedar paradigma, materi, konsep atau pun sebuah slogan. Melainkan sebuah proses yang sukar untuk dijalani karena di dalamnya terdapat banyak tantangan & asumsi.

Kehilangan terbesar dalam hidup saya bukanlah kehilangan harta benda, melainkan kehilangan hubungan-hubungan yang berarti. Malam ini, saya dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Daud ketika ia dikejar & hendak dibunuh oleh Absalom, anaknya sendiri.

Daud melalui saat-saat yang sangat sukar dalam soal hubungan setidaknya dua kali, yaitu saat ia dikejar-kejar & ingin dibunuh oleh Saul mertuanya & saat ia dikejar-kejar & ingin dibunuh oleh Absalom anaknya sendiri.

Daud sang pemimpin hebat, harus melewati badai besar & krisis dalam kepemimpinannya. Yes, Daud memang terbatas & tidak sempurna. Namun, selalu saja ada orang yang tidak suka atau membenci Daud. Sang pemimpin hebat ini sempat mengalami apa artinya gagal menjadi seorang pemimpin sesungguhnya, yaitu menjadi seorang ayah untuk Absalom.

Dalam kepemimpinan pembapaan yang kita lakukan, kita mengharapkan muncul Salomo-Salomo yang dapat mewarisi pelayanan & nama baik kita. Namun tak jarang yang muncul malah Absalom-Absalom yang menyerang & mengambil otoritas kita untuk menggunakannya dengan cara yang keluar dari kehendak Allah.

Seperti halnya Daud, kita tidak suka keadaan di mana yang menjadi musuh kita adalah anak-anak rohani kita sendiri. Sehebat-hebatnya Daud memenangkan berbagai pertempuran, namun ia tak sampai hati untuk bertempur melawan anaknya sendiri. Daud difitnah, reputasinya dirusak & harus hidup sebagai pelarian bersama sisa-sisa pengikutnya.

Anak-anak rohani yang mudah meninggalkan kita & menikam kita biasanya adalah anak-anak yang terluka. Mereka belum sembuh dari luka terhadap otoritas di waktu yang lampau. Menjadi seorang bapa rohani tidak terjadi hanya karena seseorang memanggil kita "bapa." Melainkan waktu kita mendapatkan hati Tuhan untuk membawa orang lain pada penggenapan rencana Allah.

Pada akhirnya, kita bukan hanya bisa mengajarkan keberhasilan kepada orang lain, tetapi kita juga bisa mengajarkan hikmat dari kegagalan yang kita alami.

Daud mampu bangkit dari kegagalannya. Ketika anaknya Absalom meninggalkannya, Ia tetap tidak meninggalkan Allah. Daud tetap berjalan dalam keintiman dengan Allah, apa pun yang terjadi.

Minggu, 03 Mei 2015

WHAT KIND OF A SPIRIT YOU ARE?

Ada kalanya kita merasa segalanya baik-baik saja, tapi sesungguhnya kita sedang kehilangan api. Mungkin kita perlu berhenti sejak untuk melihat ke dalam diri kita, memeriksa dengan jujur segala persiapan kita & mengenali gerak hati kita. Apakah kamu terluka? Mungkin tidak. Apakah ada sesuatu yang mengganjal di hatimu tentang seseorang? Mungkin iya. Ganjalan-ganjalan di hati kita terkadang dapat mencuri api Allah dari hidup kita. Tiba-tiba pelayanan kita tidak seperti biasanya. Api tersebut padam perlahan. Bahkan terkadang kita masih mengira api tersebut masih menyala, ternyata tidak.

Bahkan terkadang api yang menyala di hati kita adalah jenis api yang salah!

Jika kita Lukas 9:55 di dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia, maka ada satu kalimat yang hilang di ayat tersebut. 

"Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka."
(Lukas 9:55)

But He turned and rebuked them, [and said, "You do not know what kind of spirit you are of; for the Son of Man did not come to destroy men's lives, but to save them." ] And they went on to another village.
(Luke‬ ‭9‬:‭55-56‬ NASB)

Penting bagi kita untuk selalu memeriksa, spirit (roh) macam apa yang mendasari pelayanan kita? 

Ketika itu, murid-murid sedang di utus pergi ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Murid-murid Yesus sedang melayani Dia, ketika akhirnya mereka melayani masalah. Masalah tersebut mereka tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus.

"Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?"

JANGAN BERUSAHA MENYELESAIKAN MASALAH DENGAN SPIRIT YANG SALAH!

Jangan melayani pekerjaan Tuhan dengan spirit yang salah!

Jangan hanya memeriksa pekerjaan pelayanan kita, tetapi periksa juga roh (spirit) apa yang mendasari setiap tindakan kita.

Hari-hari ini kita menemukan banyak pelayanan yang baik, bahkan hebat & luar biasa, namun tidak lahir & mengalir dari spirit yang benar.

ROH YANG TERLUKA
ROH YANG AROGAN
ROH YANG INDEPENDEN
ROH YANG EKLUSIF

Spirit yang salah dapat membuat sesuatu yang rohani berubah menjadi pekerjaan daging.

"Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." (Roma 8:6-8)

Ketika murid-murid hendak menawarkan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan spirit yang salah, maka Yesus MENGHARDIK mereka. Menghardik merupakan sebuah kata yang biasanya dikenakan untuk Iblis. Ketika Yesus mengusir roh-roh jahat, maka digunakanlah kata "menghardik." Ketika kita berusaha menyelesaikan sebuah masalah dengan spirit yang salah, maka kita sedang membuka ruang bagi pekerjaan roh-roh jahat. 

Pelayanan yang dilakukan dengan spirit yang salah berpotensi menghancurkan hidup rohani seseorang. Di dalam pelayanan, target kita ialah menyelamatkan, bukan menghancurkan hidup rohani seseorang.

Persiapan-persiapan kita dalam pelayanan, harus melampaui persiapan-persiapan teknis. Banyak orang lebih suka & menghabiskan banyak waktu untuk persiapan-persiapan teknis, daripada persiapan roh. Kita perlu punya persiapan untuk dapat melayani pekerjaan Tuhan dengan spirit yang benar. Kondisi spirit yang salah dapat membawa kita pada arah pelayanan yang salah.

Ada kalanya kita perlu berdiam diri & menenangkan hati agar dapat mempersiapkan spirit yang tepat untuk mengatasi konflik. Melayani Tuhan & berusaha menyelesaikan masalah dengan spirit yang salah, mahal harganya.

Lukas 9:56 mengatakan: Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

What??? Yesus mengalah???

Yes! Yesus sedang memberitahu kita bahwa lebih baik mengalah daripada harus memperjuangkan sesuatu namun apa yang kita lakukan sebenarnya lahir dari spirit yang salah.

Meskipun identitas kita ialah umat Yang Lebih Dari Pemenang, nmun dalam banyak kesempatan Tuhan mau kita mengalah. Terkadang "mengalah" membantu kita untuk mempertahankan spirit yang baik. Namun ingat, jangan mengalah dengan bersungut-sungut! Jangan mengalah dalam sebuah konflik, namun kita melakukannya dengan spirit yang salah. Mengalahlah dengan sikap hati yang benar. Mengalah  merupakan ekspresi iman! Kita mempercayai Allah bahwa segala sesuatu tetap berada di dalam kendali Allah, jika kita senantiasa melibatkan Dia di dalam segala perkara.

Jumat, 01 Mei 2015

MEMBERESKAN SIKAP PENGECUT DI DIRI KITA

Suatu kali saya merasakan dorongan Roh Kudus untuk berdoa bagi seseorang. Maksud saya, berdoa langsung untuk seseorang yang bukan Kristen. Pikiran saya menyimpulkan, orang tersebut tidak memiliki masalah yang berarti. Riskan rasanya menawarkan diri untuk berdoa untuknya. Kesempatan berupa waktu yang cukup untuk mengubah keputusan saya telah Allah berikan. Namun yang menahan saya untuk tidak melakukannya ialah: sikap pengecut yang saya miliki.

Setelah kesempatan tersebut pergi, ada penyesalan & rasa bersalah di hati saya. Logika saya telah mengalahkan dorongan Roh Kudus. Rasa bersalah yang saya rasakan membantu saya untuk mengenali sesuatu di dalam diri saya. Sikap pengecut. Itulah yang harus ditaklukkan.

Kita suka jika terlihat berani di mata orang lain. Kita tidak ingin mereka tahu bahwa sebetulnya kita pengecut.

Allah perlu berulang kali menguji hati kita, agar kita dapat membereskan berbagai penghalangi bagi kehidupan yang berbuah. Pagi ini saya sedang membaca sebuah buku yang berjudul Broken For A Purpose yang ditulis oleh Gissela Yohannan. Ada sebuah kutipan menarik yang saya temukan di buku itu.

But why would God want to test anyone if He is  all-knowing, as the Bible says in these and many other Scriptures: 

“For the LORD searches all hearts, and understands every intent of the thoughts” (1 Chronicles 28:9).

 “For He knows the secrets of the heart” (Psalm 44:21).
 “. . . and able to judge the thoughts and intentions of the heart. . . . All things are open and laid bare to the eyes of Him” (Hebrews 4:12–13).

"He did not need any one to bear witness concerning man for He Himself knew what was in  man” (John 2:25). 

According to these verses, God doesn’t need to see the results from my testing. He knows me perfectly without it. So why then would He want to test me? Because He wants me to see the truth about my life as well! The test is not at all for Him. The test is for me, because I don’t know my own heart!

Allah menguji kita bukan karena Ia ingin mengetahui sesuatu tentang diri kita. Ia adalah Allah Yang Maha Tahu. Ia telah mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam kita. Allah menguji kita untuk membantu kita mengenali diri kita sendiri. Ada pewahyuan diri (self-revelation) yang hendak ia singkapkan kepada kita. Sebuah langkah bagi perubahan yang menjadi tanggungjawab kita.

Hidup kita setiap hari harus digerakkan oleh sense of urgency. Melakukan kehendak Allah, mengasihi Allah & sesama serta melakukan Amanat Agung melupakan sesuatu yang urgent untuk kita lakukan. Sifat pengecut di dalam diri kita akan menghalangi kita untuk menyelesaikan misi yang Allah berikan.

Sikap pengecut lahir karena kita terlalu mencintai diri kita sendiri. Kita hanya mengejar apa yang baik, apa yang nyaman, aman & menyenangkan bagi kita. Kita menghindar dari resiko yang harus bersedia kita hadapi untuk hidup dalam rencana Allah. Kita takut dengan konflik. Dan berusaha menghindar dari ketidaknyamanan & rusaknya sebuah hubungan, ketika Allah hendak membawa kita untuk mengerjakan misi Kerajaan-Nya.

Kita perlu bertobat dari "sikap pengecut" yang kita miliki. Sikap pengecut yang menandai ketidakmatangan jiwa kita. Sikap pengecut ini perlu disalibkan. Sikap pengecut yang membuat kita sama seperti Simon Petus, hanya pandai bicara tapi tidak melakukan apa yang kita katakan. Simon Petrus menyesali sikap pengecutnya yang membawa dirinya menyangkal Yesus tiga kali. Ia berani hanya ketika situasinya mendukung. Peristiwa Jumat Agung menjadi sebuah pewahyuan diri yang menyingkapkan "sikap pengecut" yang ada di dalam diri Simon. Dan hari itu, Yesus mati bagi disalibkan bagi sikap pengecut Simon, supaya Simon memiliki keberanian untuk hidup & menyelesaikan kehendak Allah.


KETIKA TUHAN MENYINGKAPKAN KETAKUTAN, KEMARAHAN & KELEMAHAN KITA

Kadang kita berusaha membenarkan kemarahan kita... karena memang kita merasa benar. Apa yang membuat kita marah, seringkali menyingkapkan titik-titik kelemahan kita. Biasanya berupa sebuah ketakutan yang harus di atasi, sebelum akhirnya membatasi hidup kita untuk mengerjakan hal-hal yang besar bersama dengan Allah. Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah buku karangan seorang teolog bernama R.C. Sproul yang berjudul "What Can I Do With My Guilt?" Melalui buku tersebut saya belajar bahwa RASA BERSALAH seharusnya membawa kita pada REAL FORGIVENESS and REAL REPENTANCE. Rasa bersalah tidak selamanya buruk. Iblis dapat menggunakan rasa bersalah untuk menuduh (accuse) kita; namun Roh Kudus dapat menggunakan rasa bersalah untuk menyadarkan & meyakinian kita akan kehendak Allah.

Ketakutan-ketakutan kita seringkali menjadi penyebab dari kemarahan-kemarahan kita. Semakin banyak ketakutan yang kita miliki, sebanyak sering kita marah. Mungkinkah ketika kita menemukan orang yang sering marah, sebenarnya kita juga menemukan orang yang takut. Terkadang (mungkin tidak semua orang), orang yang marah adalah orang yang memiliki ketakutan.

Melalui kemarahan-kemarahan saya, saya belajar mengenali ketakutan-ketakutan saya. Tidak perlu terlalu "mellow" dan hanyut dengan perasaan mengasihani diri.... setiap kali saya merasa gagal, saya belajar memutuskan untuk cepat bangkit. Pekerjaan Allah begitu besar & banyak. Tidak ada waktu untuk mengasihani diri. Orang yang sering mengasihani diri adalah orang yang kalah. Setiap kesalahan yang kita buat harus dengan segera membawa kita ke kaki salib Kristus & menerima kasih karunia-Nya yang menyembuhkan jiwa kita dari rasa bersalah & perasaan tidak layak.

Tidak terlalu sulit untuk mengenali kelemahan-kelemahan saya ketika kemarahan mulai muncul. Yang lebih sulit adalah: menyingkarkan ketakutan mengenai "pandangan orang lain" ketika mereka mengetahui kelemahan saya. Atau lebih tajamnya lagi, bagaimana pandangan orang yang tidak / kurang mengenal saya jika mereka memgetahui titik-titik kelemahan saya. Orang-orang yang telah mengenal kita, biasanya mudah membuat kita merasa aman & nyaman. Namun, orang yang baru mengenal kita... kita baru mulai menentukan dengan reputasi seperti apa kita akan dikenal. Reputasi seseorang mudah melekat dalam diri seseorang. Bahkan secara umum, reputasi yang buruk lebih sulit disingkirkan daripada reputasi yang baik. Reputasi yang terbentuk dalam benak seseorang tentang kita, biasanya akan menjadi semacam kacamata yang akan digunakan untuk menilai kita.

Beberapa waktu terakhir ini, saya menyadari bahwa penilaian yang saya buat mengenai orang lain seringkali tidak akurat. Hal tersebut bukan saja membuat saya merasa malu, tapi tiba-tiba saja saya menyadari potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya. Salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin ialah: kemampuan untuk menilai orang lain dengan benar. Penilaian-penilaian yang kita buat akan menetukan keputusan, pilihan & sikap kita terhadap seseorang. Kadang saya menyesal, mendapati diri saya salah membuat penilaian terhadap orang lain. Bahkan sebagian besar masalah yang harus saya hadapi seringkali merupakan hasil dari penilaian yang salah.

Saya kembali belajar dari NOL. Seperti anak kecil, saya seperti baru mulai belajar melihat dunia. Dunia kepemimpinan. Dunia pelayanan. Dunia hubungan dan jejaring. Saya belajar menilai orang-orang di sekitar saya dengan kacamata yang baru, yaitu: kacamata kehendak Allah. Apaa kehendak Allah atas orang itu? Pertanyaan ini jadi sering saya utarakan kepada diri saya sendiri. Kacamata kehendak Allah membantu saya membuang berbagai penghakiman, dan mulai menjadikan saya pendoa bagi orang-orang di sekitar saya.

Jonathan Pattiasina mengatakan bahwa salah satu tanda MANUSIA BARU ialah: menilai dengan kacamata yang baru. Menilai menurut ukuran Allah kata rasul Paulus.

"Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. 
Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian."
(2 Korintus 5:16)

Seringkali ketakutan & kemarahan yang kita alami, terjadi karena kita menilai segala sesuatu menurut ukuran manusia, bukan menurut ukuran Allah. Setelah kemarahan saya reda, yang tersisa ialah rasa bersalah. Kembali saya harus menggerakkan hati saya untuk datang ke salib Tuhan & kembali mengalami kasih karunia-Nya yang berlimpah atas berbagai kebodohan dalam penilaian yang saya buat.

Sebagai seorang pemimpin rohani, saya rindu untuk terus diperbaiki oleh Allah. Saya ingin hidup sebagai MANUSIA BARU yang menilai segala sesuatu menurut ukuran Allah. Saya ingin orang-orang di sekitar saya tidak takut terhadap penilaian-penilaian yangsaya buat tentang diri mereka, sekeras apa pun pesan yang saya khotbahkan. Pesan yang keras lahir karena komitmen terhadap sebuah misi untuk memanifestasikan Kristus untuk menghancurkan setiap pekerjaan-pekerjaan Iblis yang dibangun di sekitar saya; dengan tetap memiliki hati  Tuhan yang lemah lembut yang bebas dari segala prasangka, asumsi, atau ketidaksukaan untuk menilai segala sesuatu menurut ukuran Kristus. Saya hanya tidak ingin prnilaian-penilaian saya menghalangi saya untuk hidup menggenapi rencana Allah. Saya hanya tidak ingin penilaian-penilaian saya memberikan sumbangsih bagi Iblis untuk mendaratkan rencanaNya. Saya tidak ingin penilaian-penilaian saya menghalangi saya menjadi seorang prajurit yang berkenan kepada Komandannya. Saya hanya tidak ingin penilaian yang saya buat justru menghalangi orang lain untuk hidup di dalam rencana Allah.

Rabu, 11 Maret 2015

WHAT'S NEXT (THE TIME OF TRANSITION)

Malam ini saya diminta untuk berkhotbah di acara 40 hari meninggalnya seseorang. Meski pernah beberapa kali berkhotbah di ibadah penghiburan, namun ini pertama kalinya saya harus berbicara di acara 40-an. Sebagai orang Kristen, pada umumnya kita tidak mempercayai bahwa roh (arwah) orang mati gentayangan di dunia selama 40 hari baru setelah itu naik ke akhirat. Iman Kristen mempercayai bahwa ketika seseorang mati, roh mereka langsung bersama-sama dengan Tuhan di Firdaus (bagi yang mati di dalam Kristus) & berada di hades bagi mereka yang hidup di luar Kristus.

Ketika melihat kembali ke Alkitab, saya mencoba menelusuri bagaimana istilah "40 hari" digunakan. Ternyata terdapat beberapa referensi tentang waktu "40 hari."

- Pada zaman Nuh, Air Bah menyapu seluruh bumi selama 40 hari.
- Musa naik ke Gunung Sinai untuk menerima 2 Loh Batu bertuliskan Sepuluh Perintah Allah selama 40 hari.
- Dua Belas Pengintai pergi mengintai Tanah Kanaan selama 40 hari.
- Elia berjalan selama 40 hari dari padang gurun tempat ia mengasihani diri menuju gunung Horeb tempat ia menerima pewahyuan.
- Yunus memperingatkan bahwa kota Niniwe diberi waktu selama 40 hari untuk bertobat sebelum kota tersebut akan ditunggangbalikkan.
- Yesus selama 40 hari berpuasa di Padang Gurun & dicobai oleh Iblis,
- Ketika bangkit, Yesus berulang kali menampakkan diri kepada murid-muridNya & mengajar tentang Kerajaan Allah selama 40 hari.

Seluruh rangkaian keterangan Alkitab mengenai penggunaan istilah "40 hari" dapat dirangkai menjadi 2 kata, yaitu: "WHAT'S NEXT?"

40 Hari menggambarkan TIME OF TRANSITION (waktu/masa transisi).
40 Hari menggambarkan TIME LIMIT OR DEADLINE (batas waktu yang ditetapkan).

Setiap orang pasti pernah/akan mengalami masa-masa transisi dalam hidupnya. Misalnya: ketika lulus kuliah, baru kembali ke Indonesia setelah lama tinggal di luar negeri, baru menikah, baru punya anak, baru ditinggal oleh orang yang dikasihi, dll.

Ada orang-orang yang berhasil melalui masa-masa transisi ini dengan baik, sehingga mereka keluar dari aitu & BE A BETTER PERSON. Namun ada juga yang tidak bisa "move on," menjadi frustasi, mengasihi diri bahkan melakukan tindakan yang destruktif.

"Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu JANGAN BERDUKACITA SEPERTI ORANG-ORANG LAIN YANG TIDAK MEMPUNYAI PENGHARAPAN. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia." [1 Tesalonika 4:13-14]

1. TEMUKAN KEHENDAK ALLAH DI DALAM MASA-MASA TRANSISI YANG KITA SEDANG HADAPI

Jangan kehilangan suara Tuhan hanya karena kita terlalu fokus pada diri sendiri. Allah telah selesai dengan "orang yang kita kasihi" (yang telah meninggal), tetapi Tuhan belum selesai dengan kita. Jangan habiskan energi kita untuk meratap, tetapi gunakan energi kita untuk bergumul agar kita tahu what's next yang Tuhan inginkan.

2. JANGAN TAKUT UNTUK BERUBAH, UBAHLAH APA YANG PERLU DIUBAH DI MASA TRANSISI YANG SEDANG KITA HADAPI

Jangan berubah ke arah yang salah hanya karena kita dikuasai oleh emosi negatif. Pastikan kasih & kebenaran Allah menguasai hati kita, sehingga kita mampu berubah ke arah yang benar.

SERENITY PRAYER
Reinhold Niebuhr (1892-1971)

God grant me the serenity
to accept the things I cannot change; 
courage to change the things I can; 
and wisdom to know the difference.


Living one day at a time; 
enjoying one moment at a time; 
accepting hardships as the pathway to peace; 
taking, as He did, this sinful world
as it is, not as I would have it; 
trusting that He will make all things right
if I surrender to His Will; 
that I may be reasonably happy in this life
and supremely happy with Him
forever in the next. 
Amen.


3. JANGAN MENOLEH KE BELAKANG UNTUK HIDUP DI MASA LALU, SEHINGGA KITA TIDAK SIAP (LAYAK) BAGI APA YANG TUHAN INGIN KERJAKAN DI HIDUP KITA

"Masa lalu adalah tempat yang baik untuk kita belajar, namun bukan tempat yang baik untuk kita hidup di dalamnya." [Philip Yancey]

Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." [Lukas 9:62]

Orang yang hidup di masa lalu akan membuat seseorang tidak siap untuk apa yang hendak Allah kerjakan di dalam hidupnya.


Ketika masa-masa transisi datang dalam hidup anda, pastikan anda mampu UNTUK BANGKIT, berubah ke arah yang lebih baik & menjadikan masa transisi tersebut sebuah titik balik di mana anda mendapat KEKUATAN BARU untuk hidup lebih luar biasa lagi.


Sabtu, 24 Januari 2015

ATMOSFER KOMUNITAS KERAJAAN ALLAH

Gereja dibuat lelah dengan penghakiman. Orang yang pernah mengalami kasih karunia & penerimaan pun bisa berubah menjadi seorang pendakwa yang menggunakan firman Allah untuk menjatuhkan orang lain, bukan untuk menolong orang lain. Kita dipanggil untuk jujur dalam mengenali kondisi hati kita. Kadang kita menemukan atmosfer yang salah di dalam keluarga rohani yang adalah Tubuh Kristus. "Like or Dislike Factor" mewarnai cara membangun hubungan, berkomunikasi, keterlibatan dan pemberin label kepada seseorang. Sebagai pemimpin, anda harus berhati-hati ketika mendapati diri anda tidak menyukai salah seorang di gereja anda. Hati anda harus tetap netral, sikap anda harus tetap objektif. Anda harus tetap memiliki pikiran & perasaan Tuhan dalam menilai semua orang.

Untuk orang yang anda sukai, 2 + 2 harus sama dengan 4. Bukan 5. Unttuk orang yang tidak anda sukai, 2 + 2 harus sama dengan 4. Bukan 3. Bisakah kita memandang semua orang di gereja dengan 2 + 2 sama dengan 4?

Hal ini bukan berarti kita menutup mata terhadap kelemahan atau kelebihan orang lain. Sebagai manusia baru, kita harus memiliki cara menilai yang baru terhadap setiap orang. Kita tidak hanya melihat mereka sebagaimana adanya mereka hari ini, melainkan apa yang menjadi rencana Allah atas orang tersebut.

Yesus tidak pernah menyerah dengan kegagalan Petrus. Allah memberikan kesempatan kedua kepada Yunus untuk pergi ke Niniwe setelah ia mencoba untuk kabur ke Tarsis. Yesus berkata kepada wanita yang berbuat zinah: "pergilah & jangan berbuat dosa lagi." Semua hal ini tidak sedang menunjukkan bahwa Allah mengizinkan atau membiarkan dosa & kesalahan. Allah yang kita percayai adalah Allah yang percaya kepada kita. Ken Blanchard pernah mengatakan, jika sebagai pemimpin kita ingin memberdayakan orang lain, maka kita hars berani mempercayai mereka. Meskipun mereka berulang kali gagal atau menunjukkan sikap tidak bisa dipercaya karena berulang kali mereka mengulangi kebodohan yang sama, jika kita ingin memberdayakan mereka maka kita harus mempercayai mereka. Putuskan untuk percaya mereka melampaui semua fakta & kenyataan yang anda lihat tentang seseorang. Kepemimpinan memerlukan iman. Kita harus mempercayai & melibatkan Allah dalam setiap proses kepemimpinan ketika kita sedang memperlengkapi & memberdayakan orang lain.

Seorang pemimpin harus mendengarkan Allaah, sebelum ia ingin didengarkan orang lain.

Menghakimi berarti memberikan penilaian secara salah. Menghakimi juga bisa berarti memiliki sikap yang salah terhadap penilaian yang benar. Sikap menghakimi selalu diawali dari sikap hati yang salah tentang orang lain.

Di satu pihak, kita dipanggil untuk tidak menghakimi orang lain. Namun di sisi lain, kita tidak perlu takut dihakimi oleh orang lain. Just do your best! Hiduplah begitu luar biasa, sehingga penghakiman & penilaian yang salah dari orang lain terbukti salah. Ingatlah, bahwa jika kita hidup tidak benar & orang lain menilai kita tidak benar karena mereka mengetahui ketidakbenaran yang kita lakukan, anggaplah hal tersebut sebagai koreksi bukan penghakiman. Sepanjang saya belajar menjadi seorang pemimpin, saya belajar untuk tidak takut terhadap penghakiman orang sepanjang kita memiliki kehidupan yang benar & selalu memberi yang terbaik.

Hari-hari ini, gereja sangat perlu memiliki atmosfer komunitas yang benar. Jika kita tidak mengusahakan atmosfer komunitas yang benar, maka Iblis akan mudah bekerja di dalam gereja kita. Atmosfer gereja yang benar bukan berarti tidak ada konflik atau gesekan, tidak ada masalah. Atmosfer gereja yang benar membuat setiap pribadi (di mulai dari para pemimpinnya), untuk membuat keputusan untuk merespon sesuai dengan firman & mentalitas Kerajaan Allah.

Komunitas kita harus menjadi komunitas Kerajaan Allah di mana budaya & nilai-nilai Kerajaan Allah menjadi penentu atmosfer komunitas kita. Komunitas Kerajaan Allah adalah komunitas yang hidup di bawah pemerintahan Allah, bukan dikendalikan oleh emosi, pikiran negatif atau sentimen pribadi.

Gereja sebagai komunitas harus menjadi model bagi seluruh hubungan yang ada di dunia. "Gaya hidup saling" yang kita miliki lahir sebagai ekspresi penghormatan kita kepada Allah serta komitmen kita terhadap nilai-nilai & tujuan Kerajaan-Nya untuk mengembalikan setiap orang pada rencana Allah semula.

Senin, 24 November 2014

EXCUSE ME, YOUR ATTITUDE IS SHOWING by Dr. John C. Maxwell

Leaders are readers of people. They study a person like they would a book, by paying careful attention to words. If you listen careful to the words someone says, you will learn a lot about that person. Specifically, you’ll discover the person’s attitude toward life, which reveals his or her gratitude for life.

A positive attitude can be a person’s greatest asset. In fact, an upbeat attitude can take people to places that their ability could never carry them on its own. Attitude acts like a booster rocket, lifting people to a higher altitude than they could otherwise climb.

Oftentimes, motivational speakers present attitude like a magic tonic or cure-all for every ailment, but attitude isn’t everything. Some people have awesome attitudes and yet are awfully incompetent. While attitude alone won’t guarantee success, attitude is a difference-maker. All else being equal, attitude gives an advantage or edge over the competition. Therefore, whenever you have a choice to make between two business partners, vendors, or job candidates with similar credentials, pick the one with the better attitude.

A person’s attitude is more apparent in some conditions than in others. Here are three situations in which a person’s true attitude is likely to surface.

WHEN THEY EXPERIENCE NEGATIVE FEELINGS

A gray, rainy day reveals a lot about a person’s attitude by showing how they respond to negative emotions. In the face of difficult feelings, some people are like tumbleweed tossed about by the wind; they go whichever way their emotions blow them. Positive people are not controlled by atmosphere but by their attitude. It provides a rootedness that prevents them from being susceptible to fluctuating moods. Whiners want to feel good before acting; winners do what’s right regardless of how they feel and then experience positive emotions as a result of their actions.

WHEN THEY MUST DEAL WITH MUNDANE DETAILS

It’s said that the devil is in the details, and some people behave like devils when they have to deal with the less-than-thrilling aspects of their jobs. Every occupation has its inglorious tasks, and how a leader handles them says a lot about her attitude. The more a person complains, the less he’ll attain. Conversely, by approaching even minor responsibilities with positivity and a sense of purpose, a person sets himself up for success.

WHEN THEY FACE ADVERSITY

People either shrink from adversity or rise to meet it—largely on account of their attitude toward life. Thankfulness shines brightest during tribulation. Saint Paul exhorted his readers to “rejoice always” and to “give thanks in all circumstances.” When we encounter adversity, we can counter anxiety with appreciativeness. When we are grateful, fear disappears and faith appears.
 


Jumat, 03 Oktober 2014

Prinsip-Prinsip Rohani Tidak Dapat Menggantikan Tuntunan Allah Atas Hidup Kita

Pesan Tuhan untuk saya memasuki tahun 2014 ialah: Hiduplah oleh Roh... Berilah dirimu dipimpin oleh Roh. Meskipun hal ini terdengar hal yang umum & biasa, namun pesan tersebut bergolak dengan kuat di dalam diri saya.

Harus saya akui bahwa terkadang lebih mudah bagi saya untuk dipimpin oleh pikiran saya. Pengetahuan yang saya peroleh dari membaca banyak buku & pengalaman pelayanan yang saya miliki, menjadi tantangan tersendiri untuk hidup oleh Roh.

Mengacu pada Roma 8, jelas bahwa inti hidup Kristen kita ialah hidup oleh Roh. Tidak ada pertumbuhan rohani yang sejati tanpa hidup oleh Roh. Management, strategy, koneksi & trend, dapat menggantikan peran pimpinan Roh Kudus dalam kepemimpinan seseorang pemimpin rohani.

Saya mendapati bahwa ada pemimpin-pemimpin yang terlalu idealis memegang prinsip hingga ia mengabaikan pimpinan Roh Kudus. Prinsip-prinsip yang baik menjadi lebih penting daripada Allah. Prinsip-prinsip rohani sekalipun tidak dapat menggantikan pimpinan Allah atas hidup kita.

Jangan pegang prinsip begitu erat hanya supaya dibilang "tegas." Kita perlu memahami bahwa Allah tidak menuntun kita dengan prinsip, melainkan melalui Pribadi-Nya. Prinsip-prinsip yang kita pegang bisa menjadi "Taurat baru" yang menuntun kita dari luar, namun mengabaikan tuntunan Roh Kudus dari dalam kita.

Apa yang kita butuhkan bukanlah prinsip lebih banyak. Bukan juga prinsip-prinsip hebat yang terdengar "mind-blowing." Kita membutuhkan Allah lebih daripada kita membutuhkan prinsip-prinsip rohani terkini.

Saya tidak ingin berjalan terlalu jauh dengan pengertian yang salah. Saya ingin berjalan lebih jauh bersama dengan Allah. Saya menyadari bahwa kepemimpinan saya tidak sempurna. Saya harus berulang kali berlutut di hadapan Tuhan & menyadari bahwa saya membutuhkanNYA untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang IA percayakan untuk saya lakukan.

Kamis, 18 September 2014

SERANGAN ROH AGAMAWI

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah pesan Tuhan tentang "serangan roh agamawi." Jujur saja, saya menanggapinya agak dengan setengah hati. Saya berpikir bahwa saya sudah mempelajari banyak hal tentang "roh & mentalitas agamawi." Selain itu, saya mengambil bentuk pelayanan yang berbeda dengan bentuk yang agamawi.

Namun ternyata, serangan roh & mentalitas agamawi bukan soal bentuk. Serangan roh agamawi ini terbuka bagi semua orang percaya yang memiliki rasa tidak aman (insecure) di dalam dirinya.

Awal tahun 2014 ini, Allah membukakan kepada saya bahwa akar dari roh agamawi ialah: "desire of power & control." Manusia diciptakan oleh Allah untuk berkuasa & menaklukkan bumi. Di dalam "dominion mandate" tersebut, tersimpan sebuah kebenaran bahwa Allah menciptakan manusia dengan "desire of power & control." Hanya saja, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, "desire of power & control" tersebut tidak hilang, melainkan memiliki arah yang salah oleh karena dosa.

Manusia berupaya mendominasi (mengendalikan) segala sesuatu dalam hidupnya. Demikian juga, manusia berusaha menemukan arti hidupnya dengan mencari tujuan yang membuat dirinya lebih berarti. Uang, kekuasaan, popularitas, kemewahan, relationship & berbagai hal lainnya, menjadi pengejaran dalam upaya manusia memberi makan "desire of power & control." Bahkan setelah kita menjadi percaya kepada Kristus, kedua hal ini pun tetap merupakan sebuah pergumulan yabg harus kita taklukkan. Jika tidak, maka "desire of power & control" yang salah arah ini akan menjadi cikal bakal lahirnya "mentalitas agamawi" yang dapat menghalangi pergerakkan Allah di dalam hidup kita.

Saya semakin menyadari bahwa strategi iblis bukan hanya menghancurkan pribadi-pribadi, melainkan juga "team." Setiap team yang dibangun oleh Allah untuk mengerjakan rencanaNya mulai mendapatkan serangan bertubi-tubi. Rick Joyner di dalam bukunya yang berjudul "Pencarian Terakhir" memberitahu kita bahwa salah satu strategi iblis untuk menghancurkan gereja ialah dengan "perang saudara." Fitnah, gosip, hasutan, penghakiman, kecurigaan & tindakan kedagingan lainnya, ditembakkan iblis agar gereja menggunakan senjatanya untuk memerangi saudaranya sendiri.

Roh agamawi selalu menghasilkan perpecahan. Insecurity merupakan pintu masuk bagi serangan roh agamawi. Penting bagi para pemimpin untuk mewaspadai area-area dalam kehidupan pribadinya di mana ia mudah merasa "insecure."

"Insecurity" merupakan tantangan utama dalam "spiritual leadership." "Insecurity" membuat kita terjebak pada "pengejaran & pengajaran" yang salah, dalam upaya melindungi kenyamanan kita, mencari pengakuan manusia, mendapatkan otoritas yang sebetulnya tidak kita miliki, berlindung dibalik kepura-puraan & berkomunikasi secara manipulatif.

"Insecurity" membuat seseorang membesarkan hal-hal kecil untuk kepentingan diri & tujuan yang manipulatif.

Roh Agamawi membuat kita ingin mencapai sesuatu dengan menggunakan Allah & kebenaran. Mentalitas agamawi menjadikan kita seorang hamba yang manipulatif, bukan seorang anak yang mengabdi dengan tulus.

Gereja harus memandang "serangan roh agamawi" ini secara serius. Kita harus meninggalkan sikap "ignorance" & menganggap remeh serangan roh agamawi ini.

Ketika serangan roh agamawi ini datang, ada baiknya kita bersikap tenang. Jangan terintimidasi, termanipulasi atau terprovokasi. Kita akan mudah jatuh ke dalam perangkap roh agamawi jika kita tidak berjalan dipimpin Roh Allah. Pastikan kita tidak kehilangan kemampuan mendengar suara Allah di tengah pertempuran rohani yang kita sedang alami. Serang terpancing untuk berkonfrotasi dengan "spirit" yang salah. Hadapilah dengan "roh yang berlawanan," yaitu roh Anak Domba.

Ada 3 kunci untuk menghadapi roh agamawi: kebenaran, kasih & kerendahan hati. Fokus pada 3 hal ini & jangan tergoda untuk menghadapi serangan roh agamawi ini dengan pengertian & kekuatan sendiri. Jangan masuk ke dalam "perang saudara" yang dihasilkan oleh tipu muslihat iblis. Kalahkan setiap pikiran negatif & ketakutan yang menyerang kita, dengan berjalan sepenuhnya dalam ketaatan kepada Allah.

Kamis, 11 September 2014

Waktu Terluka, Waktu Mengenal

[Inspiring Leaders]
"Focus on biblical values in a busy world"

Ada alasan mengapa Allah mengizinkan anda terluka? Agar melalui luka-luka itu anda belajar mengenal diri sendiri, orang lain & Allah.

Jangan terlalu fokus pada rasa sakit yang ditimbulkan oleh luka-luka itu, sehingga anda kehilangan "kesadaran rohani" untuk mengenali diri anda sendiri.

Waktu terluka adalah waktu untuk kita berhenti sejenak agar dapat memulai lagi dengan lebih hebat, bukan waktu untuk mengasihani diri, menyerah & minta dimaklumi.

Banyak orang mudah menjadi "tidak bijak" ketika terluka. Luka-luka mereka dijadikan alasan untuk kesalahan-kesalahan yg disengaja, bahkan direncanakan.

Kita harus belajar untuk tetap bijak saat terluka. Iblis ingin agar anda kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan dengan benar dikala anda terluka. Namun jika anda membiasakan diri untuk hidup di dalam Roh, anda akan belajar bagaimana mengatasi rasa sakit agar anda tidak kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan dengan benar, terutama di saat anda terluka.

Jangan besar-besarkan luka yg anda alami. Bukan karena luka tersebut tidak penting. Melainkan karena ada Allah Yang Menyembuhkan tinggal di dalam anda. Besarnya luka itu tidak sebanding dengan besarnya kuasa kesembuhan yg tersedia bagi anda. Kesembuhan bukan ada di luar diri anda, melainkan ada di dalam Allah yg tinggal di dalam diri anda.

Mungkin ini bukan waktunya "menanti kesembuhan," melainkan ini waktunya untuk "menjadi sembuh." Anda harus memutuskan untuk menjadi sembuh, agar kuasa kesembuhan yg ada di dalam diri Allah "tumpah" ke dalam diri anda.

Jangan lagi melayani dengan "roh yang terluka," sehingga anda menggunakan berkat yg anda miliki untuk menyakiti org lain.

"Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang." [Matius 12:20]

Your Prayer Partner,

Ferry Felani

Rabu, 10 September 2014

Kunci Untuk Membebaskan Diri

[Inspiring Leaders ]
"Focus on biblical values in a busy world"

"Sion akan Kubebaskan dengan penghakiman yang adil dan ORANG-ORANGNYA YANG BERTOBAT AKAN KUBEBASKAN DENGAN TINDAKAN YANG BENAR." [Yesaya 1:27]

Terkadang cara Allah membebaskan kita bukan dengan cara IA MELAKUKAN SESUATU BAGI KITA, melainkan dengan mengajarkan sesuatu untuk kita lakukan. Di dalam setiap "pengajaran" yang Allah berikan, terdapat KUNCI untuk "membebaskan diri."

KEMALASAN menyebabkan seseorang SULIT MENGALAMI KEBEBASAN dari segala belenggu masalahnya. KETIDAKTAATAN akan menahan kita sehingga kita tetap berada di tempat atau kondisi yg salah.

Allah tidak mengenal kata "sulit" untuk menolong & mengerjakan mujizat dalam hidup kita. Namun IA sulit menolong orang yg sulit untuk taat.

Bukti bahwa kita bertobat bukan hanya BERHENTI MELAKUKAN YANG SALAH, MELAINKAN JUGA MULAI MELAKUKAN APA YANG BENAR.

Bukan pengetahuan akan kebenaran yang akan memerdekakan kita, melainkan pengenalan kita akan kebenaran. Mengenal artinya: mengerti karena melakukan / mengalami.

Tindakan-tindakan kita saat ini sangat menentukan apakah kita akan tetap terikat atau terbebas dari setiap ikatan yg menahan kita untuk mengalami kemajuan. Mengajarkan anda bertindak benar merupakan cara Allah membebaskan anda dari situasi yg anda tidak inginkan tetap ada di hidup anda. Keep right!

Your Prayer Partner,

Ferry Felani

Sabtu, 02 Agustus 2014

INSECURITY

Insecurity... atau rasa tidak aman merupakan musuh yang menyerang semua level kepemimpinan. Baik calon pemimpin, pemimpin muda maupun pemimpin senior, tidak lepas dari serangan insecurity. Banyak pemimpin yang sedang dibentuk oleh Allah, gagal menyelesaikan proses oleh karena insecurity di dalam diri mereka menyebabkan mereka melakukan hal-hal konyol yang membuat mereka keluar dari rencana Allah.

Saul adalah salah satu contoh pemimpin yang insecure. Prestasi Daud menjadi ancaman dalam kepemimpinan Saul.

Namun jika kita telusuri ke belakang, ketidaktaatan Saul & sikap kompromi yang ia lakukan merupakan salah satu penyebab (akar) dari insecurity dalam kehidupannya. Saul tidak perlu merasa insecure jika ia dalam kondisi menaati Allah. Saul tidak perlu iri terhadap keberhasilan Daud, jika pengurapan Allah ada pada dirinya. Ketika Roh Tuhan undur dari Saul akibat ketidaktaatannya, Saul membuka celah bagi musuh untuk mengendalikannya dengan rasa tidak aman di dalam dirinya.

Rasa tidak aman (insecurity) dalam diri seseorang dapat membuat ia menjadi seseorang pengendali maupun menjadi seseorang yang terbelenggu dalam perangkap kendali orang lain. Seorang pengendali (suka mengendalikan orang lain) adalah orang yang dikuasai oleh ketakutan. Ia menggenauakan semua kekuatannya dan memanfaatkan kelemahan orang lain untuk memperoleh kendali atas orang tersebut. Ketika ia kehilangan kendali atas seseorang, ia mudah untuk menjadi sangat marah dan frustasi. Ia menggantungkan rasa berharganya pada orang-orang yang bisa ia kendalikan.

Orang yang hidup di bawah kendali orang lain akan mudah kehilangan suara Tuhan, berpotensi untuk tidak menaati Allah & sulit mengalami hadirat Tuhan. Ketika tidak dapat menjadi pribadi yang maksimal jika kita berada dibawah kendali orang lain. 


Rabu, 30 Juli 2014

MENERIMA TEGURAN UNTUK MEMBANGKITKAN RASA HAUS AKAN DIA

Inspiring Leaders |
"Focus on biblical values in a busy world"

"Sesungguhnya, BERBAHAGIALAH MANUSIA YANG DITEGUR ALLAH; sebab itu JANGANLAH ENGKAU MENOLAK DIDIKAN Yang Mahakuasa. Karena Dialah yang MELUKAI, tetapi juga yang MEMBEBAT; Dia yang MEMUKULI, tetapi yang tangan-Nya MENYEMBUHKAN pula." | Ayub 5:17-18

Kebahagiaan tidak hanya datang karena bertambahnya kepemilikan. Dalam jangka panjang & secara kualitas, kebahagiaan juga datang melalui teguran Allah.

Kita perlu mengenal Allah sebagai ALLAH YG MEMULIHKAN & YG MENYEMBUHKAN. Tetapi kita juga harus belajar mengenal ALLAH YG MEMUKUL & YG MELUKAI.

Teguran Allah merupakan bentuk didikan Allah yg bertujuan untuk MEMBANGKITKAN RASA HAUS AKAN DIA.

Kata "mendidik" dapat digambarkan melalui cara bidan-bidan Ibrani mengoleskan buah kurma yang telah ditumbuh ke bayi yang baru lahir, untuk membangkitkan rasa haus agar bayi tersebut menyusui.

Melalui teguran yang Allah berikan ke hidup kita, Allah sedang ingin membangkitkan kembali rasa haus akan DIA (akan firmanNYA & akan hadiratNYA).

Ketika kita terus berusaha menghindar, bersikap tidak peduli & membenarkan diri ketika melakukan suatu kesalahan; maka kita hanya akan mendapati bahwa kita akan BERADA LEBIH LAMA DI TEMPAT YANG SALAH, & memperlambat persiapan-persiapan kita untuk hal2 besar yg akan Allah kerjakan di hidup kita.

Dengan membiarkan (mentoleransi) dosa & ketidaktaatan, kita akan semakin kehilangan rasa haus akan Allah.

Orang yang selalu terbuka terhadap teguran Allah, tidak akan kehilangan rasa haus akan DIA. Jika kita selalu memiliki respon thd teguran2 Allah yg lembut, maka kita tdk akan perlu mengalami teguran2 Allah yg keras.

Beranikah kita menjadi orang Kristen yang MENGHARAPKAN TEGURAN, DEMI MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN YANG LEBIH BERKUALITAS & RASA HAUS AKAN ALLAH?

Your Prayer Partner,

Ferry Felani

Sabtu, 20 April 2019

THE POWER OF CELEBRATION

Ketika kita kehilangan "perayaan" akan sesuatu yang penting, maka kita dapat dengan mudah kehilangan makna & pesan penting yang ada pada sesuatu yang kita rayakan.

Saya adalah orang yang tidak suka merayakan sesuatu. Momen penting seperti hari ulang tahun, bagi saya biasa saja. Sampai saya mulai belajar memahami pentingnya sebuah "perayaan" (celebration).

Dulu saya berpikir bahwa ada banyak perayaan yang dilakukan hanya sekedar formalitas. Menghambur-hamburkan uang, namun kita kehilangan makna. Karena itu, saya perlahan-lahan mulai berhenti merayakan segala sesuatu.

Namun saya menemukan bahwa perayaan-perayaan di dalam Alkitab merupakan "perintah Tuhan." Di balik setiap perayaan, umat Tuhan dipanggil untuk mengingat kembali perbuatan-perbuatan Allah dalam hidup mereka. Di dalam perayaan terdapat "pengulangan." Pengulangan yang muncul dalam perayaan memiliki tujuan, yaitu untuk menanamkan iman dalam sebuah komunitas. Iman itu harus dipelihara. Konten iman kita harus terus-menerus dihidupkan kembali. Sebuah perayaan adalah upaya untuk menghidupkan kembali konten iman kita akan Tuhan. Iman kita tidak dapat lepas dari ingatan (memori) kita. Pengulangan dapat menghasilkan pemahaman yang lebih baik.

Sebuah perayaan hanya dapat terjadi jika ada komunitas. Kita tidak dapat merayakan sesuatu seorang diri. Paling tidak ada 2 atau 3 orang, barulah kita dapat merayakan sesuatu.

Pentingnya sebuah perayaan:
1. Mengingat perbuatan Tuhan (memelihara iman).
2. Tujuan tertinggi dari sebuah perayaan ialah hubungan, bukan sekedar acaranya.
3. Mewarisi iman pada generasi berikutnya.


Senin, 23 Januari 2017

Pukul 03.50 dini hari, saya terpaksa harus bangun karena mendengar sebuah bunyi keras di dalam kediaman kami yang begitu tenang. Dua ekor kucing bertengkar, naik ke atap rumah melalui loteng rumah tetangga & melanjutkan perkelahian di atas rumah kami hingga mereka menjebol plafon (langit-langit) rumah & jatuh ke dalam ruang jemuran kami.

Saya punya pengalaman yang mirip dulu, ketika masih tinggal dengan orang tua saya. Papa saya menghajar kucing yang jatuh menjebol plafon rumah tepat di depannya yang sedang asyik nonton TV hingga kucing tersebut tewas (walaupun papa saya harus mengalami luka cakar & beberapa barang pecah karena ulah si kucing yang coba melawan & kabur).

Belajar dari pengalaman tersebut, saya berusaha bersikap tenang walaupun harus bangun dengan sedikit kesal. Saya tidak ingin ada barang-barang di rumah yang rusak apalagi mengalami luka cakar di pagi buta. Dengan tenang saya coba membuka pintu ruang jemuran, dengan maksud mengintip untuk mengetahui apa yang terjadi. Dengan secepat kilat kedua kucing tersebut masuk ke dalam rumah. Waduh gawat!!! Saya takut mereka bertengkar & mengacau di dalam rumah.

Ternyata mereka hanya berusaha mencari jalan keluar. Tapi sayangnya semua pintu masih tertutup. Pelan-pelan saya menyalakan lampu & berusaha membuka pintu rumah tanpa membuat mereka marah sehingga pertengkaran menjadi lebih hebat & menghancurkan barang-barang di rumah. Untungnya waktu saya tenang, kedua kucing tersebut juga dapat ditenangkan.

Begitu pintu terbuka, salah satu kucing langsung lari keluar. Sedangkan satu lagi masing sembunyi sambil berusaha mencari jalan keluar melalui jendrla yang ada di balik tirai.

Waktu saya menyingkapkan tirai tersebut, ternyata si kucing terjepit tidak bisa bergerak di jeruji jendela. Kembali saya harus bersikap tenang untuk membuka jendela tersebut tanpa membuatnya marah. Kembali dengan tenang saya berusaha membuka jendela tersebut, dan akhirnya kucing kedua pun keluar.

Pertengkaran dan perkelahian pasti mendatangkan kerugian. Bukan hanya bagi mereka yang berkelahi, tetapi juga bagi orang-orang yang ada di sekitar mereka. Coba, salah apa saya dengan kedua kucing "nakal" tersebut. Saya tidak pernah mengganggu mereka (menendang, menyiram air atau menimpuk pakai batu). Apalagi anak saya Adriel yang berusia hampir 2 tahun, ngefans berat sama mereka. Setiap kali melihat kucing, dengan antusias Adriel akan berteriak: pusss!!! pusss!!!" Salah apa saya sampai harus terbangun dalam keadaan kaget setengah mati pada pukul 03.50 dini hari ketika sedang enak-enak tidur karena kecapekan.

Kadang pada waktu bertengkar & berkelahi, kita tidak berpikir panjang. Kata-kata kasar yang dilontarkan, serangan fisik, dan berbagai tindakan yang tanpa penguasaan diri, semua itu juga bisa dirasakan & berdampak pada orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang tua yang bertengkar, kadang tidak menyadari dampak psikologis yang ditimbulkan kepada anak-anak yang menyaksikannya. Terkadang orang-orang (anak-anak kita) yang ngefans dengan kita menjadi ikut dirugikan waktu kita bertengkar & berkelahi tanpa penguasaan diri.

Orang yang tidak bisa menguasai diri, tidak bisa jadi berkat buat orang lain. Itu pelajaran penting. Orang yang menguasai dirinya bisa menjadi berkat bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

"... sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:20)

"Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya." (Amsal 25:28)

Ayat ini mungkin bisa dimodifikasi menjadi: "Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kucing yang bikin jebol plafon rumah orang yang lagi asyik tidur jam 03.50 dini hari."

Sungguh terlaluuu....

Jumat, 15 Juli 2016


Melewati badai saja tidak cukup. Ini waktunya membangun. Membangun sesuatu tidak mudah. Banyak orang hanya senang badai telah berlalu. Sekarang kita berada di comfort zone. Membangun itu beresiko. Bagaimana seandainya apa yang coba kita bangun itu gagal?

Membangun sesuatu membutuhkan keberanian. Berani menghadapi kemungkinan akan kegagalan. Ada orang-orang yang terlalu lelah dengan badai yang baru saja berlalu. Badai-badai p ktelah menimbulkan banyak ketakutan yang belum tersembuhkan meskipun badai telah berhenti. Badai yang sesungguhnya ada di dalam kita, berkecamuk dan mengendalikan setiap keputusan. Logika kita dicemari oleh ketakutan, sehingga membawa kita untuk main aman.

Iman menantang kita untuk tidak main aman dalam kehidupan ini. Orang yang selalu main aman akan selalu menyesali sejarah hidupnya. Karena kurang berani, hidupnya tidak banyak hal menarik untuk dikisahkan. Tidak banyak hal berarti untuk diteladani. Tidak ada nilai yang diperjuangkan. Bahkan mungkin tidak ada hal yang perlu di ubah, karena rasanya semua baik-baik saja.

Anggapan bahwa hidup yang kita jalani hari ini baik-baik saja merupakan sebuah jebakan. Membawa kita kehilangan kewaspadaan (sense of alertnesss). Akibatnya kita tidak merasa urgent untuk berlatih dan mempertajam diri.

Sungguh, tanpa tujuan yang benar memimpin kita dari dalam, hidup hampir tidak ada artinya. Hidup ranpa masalah bukanlah kehidupan itu sendiri. Kita baru benar-benar hidup ketika kita hidup menaklukkan masalah. Menang atas masalah & tetap berdiri untuk bisa membantu orang lain untuk menang atas masalahnya.

Meski badai telah selesai, ini bukan waktunya berdiam diri... Ada sesuatu yang harus dibangun. Bukan karena kita yang mau atau tidak... Melainkan karena ini adalah "perintah."

Seperti kitab Nehemia memberi tahu kita, bahwa inilah waktu untuk membangun kembali puing-puing. Jangan biarkan "kota" ini tetap menjadi reruntuhan. Kita membangun karena kita percaya bahwa Allah belum selesai dengan kita. Ia masih ingin berkarya melalui "kota" kita. Di sinilah tempat di mana Allah pernah memulai sesuatu yang baru. Dan Ia terus akan melakukan hal-hal yang baru di generasi ini.

Kamis, 12 Mei 2016

Tahun ini saya semakin menyadari pentingnya menggunakan waktu di masa lalu untuk membangun kompetensi yang hasilnya bisa dinikmati saat ini. Entah kenapa, kata "kompetensi" menjadi kata yang muncul dengan kuat sepanjang tahun ini. Tanpa kompetensi, kita tidak akan dapat terus menjadi berkat & hidup berdampak.

Kadang kita gemes sama orang-orang yang nggak mau mengembangkan kompetensinya sehingga tetap dengan kemampuan atau skill seperti 3 atau 5 tahun lalu, tapi mengharapkan hasil & kepercayaan lebih di tahun ini.

Ada banyak gereja meminta agar Tuhan mengirimkan jiwa-jiwa ke dalam gerejanya, namun orang-orang yang ada tidak memiliki kompetensi untuk mengatasi berbagai masalah & krisis yang dialami oleh jiwa-jiwa baru yang datang ke gereja.

Seiring saya terus membangun kompetensi & kompetensi tersebut menjadi sebuah kontribusi yang dapat dinikmati & diakui oleh orang lain, ternyata jika kita tidak berjaga-jaga, kompetensi dapat menjadi rintangan untuk kita berserah kepada Tuhan. Kompetensi dapat melunturkan tingkat penyerahan diri kita kepada Allah. Sehingga tanpa sadar kita berhenti mengandalkan Allah & mulai mengandalkan kekuatan sendiri.

Waktu kita bertumbuh dalam kompetensi, kadang kita menjalani hidup dengan "perasaan mampu." Ketika kita mengandalkan kemampuan (kompetensi) yang semakin bertumbuh & diakui orang lain, kita tidak lagi merasa memerlukan kasih karunia Allah.

Malam ini saya berhenti sejenak dari segala kesibukan, & mulai memeriksa kehidupan saya... Apakah saya tanpa sadar sudah berhenti mengandalkan Tuhan oleh karena kompetensi saya yang semakin bertumbuh & diakui orang lain.

Saya tidak ingin hidup di luar kasih karunia. Kompetensi terbatas, sehebat apapun kompetensi itu. Saya harus kembali untuk hidup dalam penyerahan diri & selalu mengandalkan Allah, meskipun kompetensi saya terus semakin berkembang.

Saya berhenti mengakui kompetensi saya & mulai mengakui betapa besarnya kasih & kuasa Allah atas kehidupan saya.

Kita harus hidup dengan kesadaran akan anugerah Allah setiap hari. Penyerahan diri setiap hari kepada Allah akan membawa kita untuk mengerti & berjalan di dalam rencana Allah.

Sabtu, 26 Desember 2015

Terkadang kita begitu arogan seperti Tony Stark yang bangga dengan semua prestasi & pengakuan manusia, seakan kita adalah orang yang tak terkalahkan (undefeated & unbeatable). Hingga semua kebanggaan tsb menggiring kita ke dalam sebuah goa yang menjadi TITIK TERENDAH SEKALIGUS TITIK BALIK di mana kita MENGALAMI PERJUMPAAN DENGAN KEBENARAN, yang membuat semua kesombongan kita runtuh & kita MULAI MENDEFINISIKAN ULANG APA YANG ADA DI HADAPAN KITA sehingga berakibat pada PERUBAHAN PRIORITAS, FOKUS & TUJUAN mengapa kita melakukan sesuatu. Ini yang seharusnya terjadi: kita masuk ke goa sebagai TONY STARK, namun kita keluar dari sana sebagai IRON MAN. TITIK TERENDAH DALAM HIDUP ANDA SEHARUSNYA MENGUBAH ANDA MENJADI SESUATU YANG LEBIH BAIK! Anda harus tentukan, apakah anda "keluar sebagai TONY STARK" yang kalah akibat tekanan, kegagalan & intimidasi; atau anda "keluar sebagai IRON MAN" (super hero) yang menemukan IDENTITAS BARU dengan sebuah VISI YANG BESAR untuk menolong sebanyak mungkin orang yang Allah percayakan ke dalam hidup anda. #HolySpiritInside #FromZeroToHero #TruthEncounter #ManOfVision #FromIdentityToDestiny

Jumat, 25 Desember 2015

Belajar mematikan kedagingan merupakan sebuah keputusan penting yang akan menentukan bagaimana kita dapat mengalami terobosan rohani. Ada banyak kegagalan dalam membangun kehidupan doa, hidup kudus, kegagalan dalam pelayanan, menghidupi panggilan maupun menuntun hidup orang lain, karena kita tidak bersedia hidup sebagai orang Kristen yang mematikan kedagingan setiap hari.

Mematikan kedagingan sepertinya sebuah pesan penting yang mempersiapkan saya lebih lagi untuk memasuki tahun 2016.

Tanpa mematikan kedagingan, kita akan sulit untuk mendengar suara Tuhan. Jika kita tidak mematikan kedagingan, kita akan cenderung melayani Tuhan dengan pengertian kita sendiri. Ketika kita tidak bersedia mematikan kedagingan, maka kita tidak akan dapat hidup menggenapi rencana Allah.

Mematikan kedagingan menuntut harga "kehilangan kesenangan." Tubuh kita selalu mengejar & menginginkan kesenangan serta kenyamanan. Hal yang berbahaya dari dosa ialah karena kenikmatan & kesenangan yang ditawarkannya.

Kita tidak dapat bertumbuh & berbuah tanpa mengalami kematian daging. Itu sebabnya setiap orang percaya harus hidup dengan GAYA HIDUP SALIB setiap hari.

Berulangkali Alkitab membahas kata "keinginan," sebagai hal yang mencobai manusia untuk hidup dalam dosa. Kita harus dapat menguasai keinginan kita sebelum keinginan tersebut yang menguasai kita.

Firman Tuhan yang kita terima sebagai makanan rohani, seharusnya membantu kita untuk mematikan kedagingan kita supaya Roh Kudus dapat memanifestasikan kehidupan Yesus melalui kehidupan kita. Yang berbahaya ialah jika khotbah-khotbah yang kita dengar justru membangkitkan keserakahan & bukannya mematikan kedagingan. Sungguh ceroboh jika kita menyelenggarakan ibadah & mengajarkan pengajaran yang justru membangkitkan kedagingan dalam kehidupan orang-orang yang kita pimpin.

Gereja yang sejati ialah gereja yang berjalan di dalam kematian daging. Supaya kehidupan Kristus dapat termanifestasi melalui kita & menjamah hidup banyak orang.

Pelayanan yang mengalirkan pengurapan Allah ialah pelayanan yang dijalani di dalam kematian daging, bukan kebanggaan diri. Waktu daging kita mati, Roh Allah baru dapat bergerak secara bebas untuk bekerja melalui kita.

Sikap kitalah yang seringkali menjadi PENYUMBAT bagi kuasa Allah untuk dapat bekerja di dalam kehidupan kita.

Selamat belajar untuk berjalan di dalam kematian daging setiap hari!

Kamis, 08 Oktober 2015

Akhirnya saya mengalami sendiri betapa berbahayanya memimpin berdasarkan asumsi. Saya adalah seorang yang berkepribadian Intim-Stabil yang sangat "people-oriented." Saya menyadari bahwa "relationship" merupakan area kekuatan saya. Namun, saya pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa kekuatan & kelemahan seseorang terletak di area yang sama. Kekuatan yang "tidak diurus" & dikembangkan, dapat berubah menjadi kelemahan yang mendatangkan kekalahan di hidup kita. Relationship ternyata merupakan area kekuatan sekaligus area kelemahan yang harus saya waspadai & atasi.

I love people... Saya bahkan bertumbuh sebagai seorang anak yang mudah percaya kepada orang lain. Tidak pendendam meskipun bisa saja terjadi keributan. Cepat memaaafkan. Tidak suka adanya konflik hubungan. Saya menyukai banyak teman. Lebih tepatnya, saya suka ketika ada banyak orang menyukai saya.

Namun ternyata, kepemimpinan membawa hidup saya ke dalam banyak zona berbahaya yang penuh dengan konflik & konfrontasi. Ada kalanya disalahpahami, difitnah, ditinggalkan, tidak dianggap, dimanfaatkan bahkan ada orang-orang yang menginginkan kegagalan & kehancuran saya.

Apa yang terjadi baru-baru ini membuka mata saya akan sebuah pelajaran penting di dalam kepemimpinan, yaitu: asumsi. Don't lead by assumption. Bagaimana caranya menggambarkan asumsi? Mungkin dengan kata-kata berikut: saya pikir... kirain sudah tahu... tadinya gue anggap dia sudah ngerti...

Ketika melihat "orang-orang hebat" yang Tuhan berikan di gereja kami, saya berasumsi bahwa mereka sudah hidup dengan kapasitas seorang pemimpin. Dengan melihat & berinteraksi dengan mereka, saya menaruh harapan yang besar akan kapasitas & kemampuan mereka. Ternyata saya salah. Bukan salah mereka jika mereka tidak memenuhi ekspektasi kita. Kitalah yang kurang objektif dalam mengenal mereka. Kita harus mengenal lebih dulu sebelum menaruh ekspektasi pada diri mereka. Karena menyukai hubungan dengan orang-orang tertentu, kadang kita menutup mata terhadap hal-hal kecil (sinyal-sinyal kecil) yang seharusnya kita waspadai. Ketika kita mengabaikan sinyal-sinyal kecil tersebut, kita sedang membiarkan benih yang salah tumbuh di dalam diri mereka.

Ternyata bukan hanya "leadership" yang harus dipandu dengan "prinsip," tetapi "hubungan" juga perlu dijalani dengan pemahaman akan prinsip-prinsip hubungan yang tepat. Prinsip-prinsip yang salah mengenai hubungan dapat membawa kita pada kegagalan & masalah besar seputar hubungan dengan orang lain.

Pengampunan merupakan langkah awal dari pemulihan. Iman membawa kita untuk terus melangkah maju dalam rencana Allah. Pasti ada sesuatu yang besar yang Allah ingin kerjakan melalui peristiwa ini. Kita harus kembali membenahi perspektif kita bahwa seluruh pelayanan kita merupakan milik Allah. People come & go. Sebagai pemimpin kita harus siap dengan pertambahan & kehilangan. Ketika ada orang yang masuk di bawah kepemimpinan kita, mungkin ada pemimpin lain yang kehilangan orang tersebut. Sebagai seorang pemimpin kita harus bersikap fair ketika orang datang & meninggalkan kita. Kita harus kembali mengingat bahwa kita cuma hamba. Kita bukan pemilik segala sesuatu; kita hanya dipercaya untuk mengelola apa yang Tuhan percayakan. Jika apa yang ada pada kita diambil, maka kita tidak boleh terpuruk dalam kekecewaan & masuk ke dalam kubangan mengasihani diri.

Tidak ada yang fatal di dalam Tuhan. Allah bisa mengubah & memperbaiki keadaan kita, melampaui kelemahan kita, asalkan kita memiliki kerendahan hati untuk memperbaiki setiap kesalahan yang Allah singkapkan kepada kita. Setiap pemimpin bukan hanya membutuhkan karunia untuk memimpin, mereka juga membutuhkan kasih karunia untuk memimpin. Agar ketika mereka berhadapan dengan konflik & konfrontasi, mereka tidak menjadi lelah, terluka & berhenti di tengah jalan. Melainkan tetap mengandalkan Allah yang telah memanggil mereka untuk sebuah tugas yang sulit, yang hanya bisa diselesaikan dengan kemampuan-Nya.

Pengurapan di dalam diri anda akan selalu mengundang konfrontasi. Semakin anda sungguh hidup dalam rencana Allah, Iblis akan semakin ingin menghentikan anda.

Saya bersyukur untuk "godly advice" yang diberikan oleh beberapa pemimpin yang telah lebih dulu melewati berbagai medan sukar di dalam kepemimpinan mereka. Hikmat yang mereka membantu saya untuk melihat jalan keluar & mengetahui hal-hal apa saja yang harus saya lakukan.

Senin, 05 Oktober 2015

Seorang sahabat meminta saya menggantikan dia mengajar di kelas Christian Leadership di sebuah STT tempat ia mengajar. Saya diminta mengajarkan materi FATHERHOOD LEADERSHIP (Kepemimpinan Pembapaan). Ini adalah salah satu tema yang telah saya pelajari & praktekkan sejak bertahun-tahun yang lalu.

Namun hari-hari ini, saya sedang berada di waktu yang sangat sukar untuk mengajarkan kebenaran tentang FATHERHOOD LEADERSHIP. Saya berada diambang kegagalan untuk mempraktekkan materi yang akan saya ajarkan. Kepemimpinan Pembapaan bukan sekedar paradigma, materi, konsep atau pun sebuah slogan. Melainkan sebuah proses yang sukar untuk dijalani karena di dalamnya terdapat banyak tantangan & asumsi.

Kehilangan terbesar dalam hidup saya bukanlah kehilangan harta benda, melainkan kehilangan hubungan-hubungan yang berarti. Malam ini, saya dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Daud ketika ia dikejar & hendak dibunuh oleh Absalom, anaknya sendiri.

Daud melalui saat-saat yang sangat sukar dalam soal hubungan setidaknya dua kali, yaitu saat ia dikejar-kejar & ingin dibunuh oleh Saul mertuanya & saat ia dikejar-kejar & ingin dibunuh oleh Absalom anaknya sendiri.

Daud sang pemimpin hebat, harus melewati badai besar & krisis dalam kepemimpinannya. Yes, Daud memang terbatas & tidak sempurna. Namun, selalu saja ada orang yang tidak suka atau membenci Daud. Sang pemimpin hebat ini sempat mengalami apa artinya gagal menjadi seorang pemimpin sesungguhnya, yaitu menjadi seorang ayah untuk Absalom.

Dalam kepemimpinan pembapaan yang kita lakukan, kita mengharapkan muncul Salomo-Salomo yang dapat mewarisi pelayanan & nama baik kita. Namun tak jarang yang muncul malah Absalom-Absalom yang menyerang & mengambil otoritas kita untuk menggunakannya dengan cara yang keluar dari kehendak Allah.

Seperti halnya Daud, kita tidak suka keadaan di mana yang menjadi musuh kita adalah anak-anak rohani kita sendiri. Sehebat-hebatnya Daud memenangkan berbagai pertempuran, namun ia tak sampai hati untuk bertempur melawan anaknya sendiri. Daud difitnah, reputasinya dirusak & harus hidup sebagai pelarian bersama sisa-sisa pengikutnya.

Anak-anak rohani yang mudah meninggalkan kita & menikam kita biasanya adalah anak-anak yang terluka. Mereka belum sembuh dari luka terhadap otoritas di waktu yang lampau. Menjadi seorang bapa rohani tidak terjadi hanya karena seseorang memanggil kita "bapa." Melainkan waktu kita mendapatkan hati Tuhan untuk membawa orang lain pada penggenapan rencana Allah.

Pada akhirnya, kita bukan hanya bisa mengajarkan keberhasilan kepada orang lain, tetapi kita juga bisa mengajarkan hikmat dari kegagalan yang kita alami.

Daud mampu bangkit dari kegagalannya. Ketika anaknya Absalom meninggalkannya, Ia tetap tidak meninggalkan Allah. Daud tetap berjalan dalam keintiman dengan Allah, apa pun yang terjadi.

Minggu, 03 Mei 2015

Ada kalanya kita merasa segalanya baik-baik saja, tapi sesungguhnya kita sedang kehilangan api. Mungkin kita perlu berhenti sejak untuk melihat ke dalam diri kita, memeriksa dengan jujur segala persiapan kita & mengenali gerak hati kita. Apakah kamu terluka? Mungkin tidak. Apakah ada sesuatu yang mengganjal di hatimu tentang seseorang? Mungkin iya. Ganjalan-ganjalan di hati kita terkadang dapat mencuri api Allah dari hidup kita. Tiba-tiba pelayanan kita tidak seperti biasanya. Api tersebut padam perlahan. Bahkan terkadang kita masih mengira api tersebut masih menyala, ternyata tidak.


Bahkan terkadang api yang menyala di hati kita adalah jenis api yang salah!

Jika kita Lukas 9:55 di dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia, maka ada satu kalimat yang hilang di ayat tersebut. 

"Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka."
(Lukas 9:55)

But He turned and rebuked them, [and said, "You do not know what kind of spirit you are of; for the Son of Man did not come to destroy men's lives, but to save them." ] And they went on to another village.
(Luke‬ ‭9‬:‭55-56‬ NASB)

Penting bagi kita untuk selalu memeriksa, spirit (roh) macam apa yang mendasari pelayanan kita? 

Ketika itu, murid-murid sedang di utus pergi ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Murid-murid Yesus sedang melayani Dia, ketika akhirnya mereka melayani masalah. Masalah tersebut mereka tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus.

"Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?"

JANGAN BERUSAHA MENYELESAIKAN MASALAH DENGAN SPIRIT YANG SALAH!

Jangan melayani pekerjaan Tuhan dengan spirit yang salah!

Jangan hanya memeriksa pekerjaan pelayanan kita, tetapi periksa juga roh (spirit) apa yang mendasari setiap tindakan kita.

Hari-hari ini kita menemukan banyak pelayanan yang baik, bahkan hebat & luar biasa, namun tidak lahir & mengalir dari spirit yang benar.

ROH YANG TERLUKA
ROH YANG AROGAN
ROH YANG INDEPENDEN
ROH YANG EKLUSIF

Spirit yang salah dapat membuat sesuatu yang rohani berubah menjadi pekerjaan daging.

"Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." (Roma 8:6-8)

Ketika murid-murid hendak menawarkan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan spirit yang salah, maka Yesus MENGHARDIK mereka. Menghardik merupakan sebuah kata yang biasanya dikenakan untuk Iblis. Ketika Yesus mengusir roh-roh jahat, maka digunakanlah kata "menghardik." Ketika kita berusaha menyelesaikan sebuah masalah dengan spirit yang salah, maka kita sedang membuka ruang bagi pekerjaan roh-roh jahat. 

Pelayanan yang dilakukan dengan spirit yang salah berpotensi menghancurkan hidup rohani seseorang. Di dalam pelayanan, target kita ialah menyelamatkan, bukan menghancurkan hidup rohani seseorang.

Persiapan-persiapan kita dalam pelayanan, harus melampaui persiapan-persiapan teknis. Banyak orang lebih suka & menghabiskan banyak waktu untuk persiapan-persiapan teknis, daripada persiapan roh. Kita perlu punya persiapan untuk dapat melayani pekerjaan Tuhan dengan spirit yang benar. Kondisi spirit yang salah dapat membawa kita pada arah pelayanan yang salah.

Ada kalanya kita perlu berdiam diri & menenangkan hati agar dapat mempersiapkan spirit yang tepat untuk mengatasi konflik. Melayani Tuhan & berusaha menyelesaikan masalah dengan spirit yang salah, mahal harganya.

Lukas 9:56 mengatakan: Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

What??? Yesus mengalah???

Yes! Yesus sedang memberitahu kita bahwa lebih baik mengalah daripada harus memperjuangkan sesuatu namun apa yang kita lakukan sebenarnya lahir dari spirit yang salah.

Meskipun identitas kita ialah umat Yang Lebih Dari Pemenang, nmun dalam banyak kesempatan Tuhan mau kita mengalah. Terkadang "mengalah" membantu kita untuk mempertahankan spirit yang baik. Namun ingat, jangan mengalah dengan bersungut-sungut! Jangan mengalah dalam sebuah konflik, namun kita melakukannya dengan spirit yang salah. Mengalahlah dengan sikap hati yang benar. Mengalah  merupakan ekspresi iman! Kita mempercayai Allah bahwa segala sesuatu tetap berada di dalam kendali Allah, jika kita senantiasa melibatkan Dia di dalam segala perkara.

Jumat, 01 Mei 2015

Suatu kali saya merasakan dorongan Roh Kudus untuk berdoa bagi seseorang. Maksud saya, berdoa langsung untuk seseorang yang bukan Kristen. Pikiran saya menyimpulkan, orang tersebut tidak memiliki masalah yang berarti. Riskan rasanya menawarkan diri untuk berdoa untuknya. Kesempatan berupa waktu yang cukup untuk mengubah keputusan saya telah Allah berikan. Namun yang menahan saya untuk tidak melakukannya ialah: sikap pengecut yang saya miliki.


Setelah kesempatan tersebut pergi, ada penyesalan & rasa bersalah di hati saya. Logika saya telah mengalahkan dorongan Roh Kudus. Rasa bersalah yang saya rasakan membantu saya untuk mengenali sesuatu di dalam diri saya. Sikap pengecut. Itulah yang harus ditaklukkan.

Kita suka jika terlihat berani di mata orang lain. Kita tidak ingin mereka tahu bahwa sebetulnya kita pengecut.

Allah perlu berulang kali menguji hati kita, agar kita dapat membereskan berbagai penghalangi bagi kehidupan yang berbuah. Pagi ini saya sedang membaca sebuah buku yang berjudul Broken For A Purpose yang ditulis oleh Gissela Yohannan. Ada sebuah kutipan menarik yang saya temukan di buku itu.

But why would God want to test anyone if He is  all-knowing, as the Bible says in these and many other Scriptures: 

“For the LORD searches all hearts, and understands every intent of the thoughts” (1 Chronicles 28:9).

 “For He knows the secrets of the heart” (Psalm 44:21).
 “. . . and able to judge the thoughts and intentions of the heart. . . . All things are open and laid bare to the eyes of Him” (Hebrews 4:12–13).

"He did not need any one to bear witness concerning man for He Himself knew what was in  man” (John 2:25). 

According to these verses, God doesn’t need to see the results from my testing. He knows me perfectly without it. So why then would He want to test me? Because He wants me to see the truth about my life as well! The test is not at all for Him. The test is for me, because I don’t know my own heart!

Allah menguji kita bukan karena Ia ingin mengetahui sesuatu tentang diri kita. Ia adalah Allah Yang Maha Tahu. Ia telah mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam kita. Allah menguji kita untuk membantu kita mengenali diri kita sendiri. Ada pewahyuan diri (self-revelation) yang hendak ia singkapkan kepada kita. Sebuah langkah bagi perubahan yang menjadi tanggungjawab kita.

Hidup kita setiap hari harus digerakkan oleh sense of urgency. Melakukan kehendak Allah, mengasihi Allah & sesama serta melakukan Amanat Agung melupakan sesuatu yang urgent untuk kita lakukan. Sifat pengecut di dalam diri kita akan menghalangi kita untuk menyelesaikan misi yang Allah berikan.

Sikap pengecut lahir karena kita terlalu mencintai diri kita sendiri. Kita hanya mengejar apa yang baik, apa yang nyaman, aman & menyenangkan bagi kita. Kita menghindar dari resiko yang harus bersedia kita hadapi untuk hidup dalam rencana Allah. Kita takut dengan konflik. Dan berusaha menghindar dari ketidaknyamanan & rusaknya sebuah hubungan, ketika Allah hendak membawa kita untuk mengerjakan misi Kerajaan-Nya.

Kita perlu bertobat dari "sikap pengecut" yang kita miliki. Sikap pengecut yang menandai ketidakmatangan jiwa kita. Sikap pengecut ini perlu disalibkan. Sikap pengecut yang membuat kita sama seperti Simon Petus, hanya pandai bicara tapi tidak melakukan apa yang kita katakan. Simon Petrus menyesali sikap pengecutnya yang membawa dirinya menyangkal Yesus tiga kali. Ia berani hanya ketika situasinya mendukung. Peristiwa Jumat Agung menjadi sebuah pewahyuan diri yang menyingkapkan "sikap pengecut" yang ada di dalam diri Simon. Dan hari itu, Yesus mati bagi disalibkan bagi sikap pengecut Simon, supaya Simon memiliki keberanian untuk hidup & menyelesaikan kehendak Allah.


Kadang kita berusaha membenarkan kemarahan kita... karena memang kita merasa benar. Apa yang membuat kita marah, seringkali menyingkapkan titik-titik kelemahan kita. Biasanya berupa sebuah ketakutan yang harus di atasi, sebelum akhirnya membatasi hidup kita untuk mengerjakan hal-hal yang besar bersama dengan Allah. Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah buku karangan seorang teolog bernama R.C. Sproul yang berjudul "What Can I Do With My Guilt?" Melalui buku tersebut saya belajar bahwa RASA BERSALAH seharusnya membawa kita pada REAL FORGIVENESS and REAL REPENTANCE. Rasa bersalah tidak selamanya buruk. Iblis dapat menggunakan rasa bersalah untuk menuduh (accuse) kita; namun Roh Kudus dapat menggunakan rasa bersalah untuk menyadarkan & meyakinian kita akan kehendak Allah.


Ketakutan-ketakutan kita seringkali menjadi penyebab dari kemarahan-kemarahan kita. Semakin banyak ketakutan yang kita miliki, sebanyak sering kita marah. Mungkinkah ketika kita menemukan orang yang sering marah, sebenarnya kita juga menemukan orang yang takut. Terkadang (mungkin tidak semua orang), orang yang marah adalah orang yang memiliki ketakutan.

Melalui kemarahan-kemarahan saya, saya belajar mengenali ketakutan-ketakutan saya. Tidak perlu terlalu "mellow" dan hanyut dengan perasaan mengasihani diri.... setiap kali saya merasa gagal, saya belajar memutuskan untuk cepat bangkit. Pekerjaan Allah begitu besar & banyak. Tidak ada waktu untuk mengasihani diri. Orang yang sering mengasihani diri adalah orang yang kalah. Setiap kesalahan yang kita buat harus dengan segera membawa kita ke kaki salib Kristus & menerima kasih karunia-Nya yang menyembuhkan jiwa kita dari rasa bersalah & perasaan tidak layak.

Tidak terlalu sulit untuk mengenali kelemahan-kelemahan saya ketika kemarahan mulai muncul. Yang lebih sulit adalah: menyingkarkan ketakutan mengenai "pandangan orang lain" ketika mereka mengetahui kelemahan saya. Atau lebih tajamnya lagi, bagaimana pandangan orang yang tidak / kurang mengenal saya jika mereka memgetahui titik-titik kelemahan saya. Orang-orang yang telah mengenal kita, biasanya mudah membuat kita merasa aman & nyaman. Namun, orang yang baru mengenal kita... kita baru mulai menentukan dengan reputasi seperti apa kita akan dikenal. Reputasi seseorang mudah melekat dalam diri seseorang. Bahkan secara umum, reputasi yang buruk lebih sulit disingkirkan daripada reputasi yang baik. Reputasi yang terbentuk dalam benak seseorang tentang kita, biasanya akan menjadi semacam kacamata yang akan digunakan untuk menilai kita.

Beberapa waktu terakhir ini, saya menyadari bahwa penilaian yang saya buat mengenai orang lain seringkali tidak akurat. Hal tersebut bukan saja membuat saya merasa malu, tapi tiba-tiba saja saya menyadari potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya. Salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin ialah: kemampuan untuk menilai orang lain dengan benar. Penilaian-penilaian yang kita buat akan menetukan keputusan, pilihan & sikap kita terhadap seseorang. Kadang saya menyesal, mendapati diri saya salah membuat penilaian terhadap orang lain. Bahkan sebagian besar masalah yang harus saya hadapi seringkali merupakan hasil dari penilaian yang salah.

Saya kembali belajar dari NOL. Seperti anak kecil, saya seperti baru mulai belajar melihat dunia. Dunia kepemimpinan. Dunia pelayanan. Dunia hubungan dan jejaring. Saya belajar menilai orang-orang di sekitar saya dengan kacamata yang baru, yaitu: kacamata kehendak Allah. Apaa kehendak Allah atas orang itu? Pertanyaan ini jadi sering saya utarakan kepada diri saya sendiri. Kacamata kehendak Allah membantu saya membuang berbagai penghakiman, dan mulai menjadikan saya pendoa bagi orang-orang di sekitar saya.

Jonathan Pattiasina mengatakan bahwa salah satu tanda MANUSIA BARU ialah: menilai dengan kacamata yang baru. Menilai menurut ukuran Allah kata rasul Paulus.

"Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. 
Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian."
(2 Korintus 5:16)

Seringkali ketakutan & kemarahan yang kita alami, terjadi karena kita menilai segala sesuatu menurut ukuran manusia, bukan menurut ukuran Allah. Setelah kemarahan saya reda, yang tersisa ialah rasa bersalah. Kembali saya harus menggerakkan hati saya untuk datang ke salib Tuhan & kembali mengalami kasih karunia-Nya yang berlimpah atas berbagai kebodohan dalam penilaian yang saya buat.

Sebagai seorang pemimpin rohani, saya rindu untuk terus diperbaiki oleh Allah. Saya ingin hidup sebagai MANUSIA BARU yang menilai segala sesuatu menurut ukuran Allah. Saya ingin orang-orang di sekitar saya tidak takut terhadap penilaian-penilaian yangsaya buat tentang diri mereka, sekeras apa pun pesan yang saya khotbahkan. Pesan yang keras lahir karena komitmen terhadap sebuah misi untuk memanifestasikan Kristus untuk menghancurkan setiap pekerjaan-pekerjaan Iblis yang dibangun di sekitar saya; dengan tetap memiliki hati  Tuhan yang lemah lembut yang bebas dari segala prasangka, asumsi, atau ketidaksukaan untuk menilai segala sesuatu menurut ukuran Kristus. Saya hanya tidak ingin prnilaian-penilaian saya menghalangi saya untuk hidup menggenapi rencana Allah. Saya hanya tidak ingin penilaian-penilaian saya memberikan sumbangsih bagi Iblis untuk mendaratkan rencanaNya. Saya tidak ingin penilaian-penilaian saya menghalangi saya menjadi seorang prajurit yang berkenan kepada Komandannya. Saya hanya tidak ingin penilaian yang saya buat justru menghalangi orang lain untuk hidup di dalam rencana Allah.

Rabu, 11 Maret 2015

Malam ini saya diminta untuk berkhotbah di acara 40 hari meninggalnya seseorang. Meski pernah beberapa kali berkhotbah di ibadah penghiburan, namun ini pertama kalinya saya harus berbicara di acara 40-an. Sebagai orang Kristen, pada umumnya kita tidak mempercayai bahwa roh (arwah) orang mati gentayangan di dunia selama 40 hari baru setelah itu naik ke akhirat. Iman Kristen mempercayai bahwa ketika seseorang mati, roh mereka langsung bersama-sama dengan Tuhan di Firdaus (bagi yang mati di dalam Kristus) & berada di hades bagi mereka yang hidup di luar Kristus.


Ketika melihat kembali ke Alkitab, saya mencoba menelusuri bagaimana istilah "40 hari" digunakan. Ternyata terdapat beberapa referensi tentang waktu "40 hari."

- Pada zaman Nuh, Air Bah menyapu seluruh bumi selama 40 hari.
- Musa naik ke Gunung Sinai untuk menerima 2 Loh Batu bertuliskan Sepuluh Perintah Allah selama 40 hari.
- Dua Belas Pengintai pergi mengintai Tanah Kanaan selama 40 hari.
- Elia berjalan selama 40 hari dari padang gurun tempat ia mengasihani diri menuju gunung Horeb tempat ia menerima pewahyuan.
- Yunus memperingatkan bahwa kota Niniwe diberi waktu selama 40 hari untuk bertobat sebelum kota tersebut akan ditunggangbalikkan.
- Yesus selama 40 hari berpuasa di Padang Gurun & dicobai oleh Iblis,
- Ketika bangkit, Yesus berulang kali menampakkan diri kepada murid-muridNya & mengajar tentang Kerajaan Allah selama 40 hari.

Seluruh rangkaian keterangan Alkitab mengenai penggunaan istilah "40 hari" dapat dirangkai menjadi 2 kata, yaitu: "WHAT'S NEXT?"

40 Hari menggambarkan TIME OF TRANSITION (waktu/masa transisi).
40 Hari menggambarkan TIME LIMIT OR DEADLINE (batas waktu yang ditetapkan).

Setiap orang pasti pernah/akan mengalami masa-masa transisi dalam hidupnya. Misalnya: ketika lulus kuliah, baru kembali ke Indonesia setelah lama tinggal di luar negeri, baru menikah, baru punya anak, baru ditinggal oleh orang yang dikasihi, dll.

Ada orang-orang yang berhasil melalui masa-masa transisi ini dengan baik, sehingga mereka keluar dari aitu & BE A BETTER PERSON. Namun ada juga yang tidak bisa "move on," menjadi frustasi, mengasihi diri bahkan melakukan tindakan yang destruktif.

"Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu JANGAN BERDUKACITA SEPERTI ORANG-ORANG LAIN YANG TIDAK MEMPUNYAI PENGHARAPAN. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia." [1 Tesalonika 4:13-14]

1. TEMUKAN KEHENDAK ALLAH DI DALAM MASA-MASA TRANSISI YANG KITA SEDANG HADAPI

Jangan kehilangan suara Tuhan hanya karena kita terlalu fokus pada diri sendiri. Allah telah selesai dengan "orang yang kita kasihi" (yang telah meninggal), tetapi Tuhan belum selesai dengan kita. Jangan habiskan energi kita untuk meratap, tetapi gunakan energi kita untuk bergumul agar kita tahu what's next yang Tuhan inginkan.

2. JANGAN TAKUT UNTUK BERUBAH, UBAHLAH APA YANG PERLU DIUBAH DI MASA TRANSISI YANG SEDANG KITA HADAPI

Jangan berubah ke arah yang salah hanya karena kita dikuasai oleh emosi negatif. Pastikan kasih & kebenaran Allah menguasai hati kita, sehingga kita mampu berubah ke arah yang benar.

SERENITY PRAYER
Reinhold Niebuhr (1892-1971)

God grant me the serenity
to accept the things I cannot change; 
courage to change the things I can; 
and wisdom to know the difference.


Living one day at a time; 
enjoying one moment at a time; 
accepting hardships as the pathway to peace; 
taking, as He did, this sinful world
as it is, not as I would have it; 
trusting that He will make all things right
if I surrender to His Will; 
that I may be reasonably happy in this life
and supremely happy with Him
forever in the next. 
Amen.


3. JANGAN MENOLEH KE BELAKANG UNTUK HIDUP DI MASA LALU, SEHINGGA KITA TIDAK SIAP (LAYAK) BAGI APA YANG TUHAN INGIN KERJAKAN DI HIDUP KITA

"Masa lalu adalah tempat yang baik untuk kita belajar, namun bukan tempat yang baik untuk kita hidup di dalamnya." [Philip Yancey]

Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." [Lukas 9:62]

Orang yang hidup di masa lalu akan membuat seseorang tidak siap untuk apa yang hendak Allah kerjakan di dalam hidupnya.


Ketika masa-masa transisi datang dalam hidup anda, pastikan anda mampu UNTUK BANGKIT, berubah ke arah yang lebih baik & menjadikan masa transisi tersebut sebuah titik balik di mana anda mendapat KEKUATAN BARU untuk hidup lebih luar biasa lagi.


Sabtu, 24 Januari 2015

Gereja dibuat lelah dengan penghakiman. Orang yang pernah mengalami kasih karunia & penerimaan pun bisa berubah menjadi seorang pendakwa yang menggunakan firman Allah untuk menjatuhkan orang lain, bukan untuk menolong orang lain. Kita dipanggil untuk jujur dalam mengenali kondisi hati kita. Kadang kita menemukan atmosfer yang salah di dalam keluarga rohani yang adalah Tubuh Kristus. "Like or Dislike Factor" mewarnai cara membangun hubungan, berkomunikasi, keterlibatan dan pemberin label kepada seseorang. Sebagai pemimpin, anda harus berhati-hati ketika mendapati diri anda tidak menyukai salah seorang di gereja anda. Hati anda harus tetap netral, sikap anda harus tetap objektif. Anda harus tetap memiliki pikiran & perasaan Tuhan dalam menilai semua orang.

Untuk orang yang anda sukai, 2 + 2 harus sama dengan 4. Bukan 5. Unttuk orang yang tidak anda sukai, 2 + 2 harus sama dengan 4. Bukan 3. Bisakah kita memandang semua orang di gereja dengan 2 + 2 sama dengan 4?

Hal ini bukan berarti kita menutup mata terhadap kelemahan atau kelebihan orang lain. Sebagai manusia baru, kita harus memiliki cara menilai yang baru terhadap setiap orang. Kita tidak hanya melihat mereka sebagaimana adanya mereka hari ini, melainkan apa yang menjadi rencana Allah atas orang tersebut.

Yesus tidak pernah menyerah dengan kegagalan Petrus. Allah memberikan kesempatan kedua kepada Yunus untuk pergi ke Niniwe setelah ia mencoba untuk kabur ke Tarsis. Yesus berkata kepada wanita yang berbuat zinah: "pergilah & jangan berbuat dosa lagi." Semua hal ini tidak sedang menunjukkan bahwa Allah mengizinkan atau membiarkan dosa & kesalahan. Allah yang kita percayai adalah Allah yang percaya kepada kita. Ken Blanchard pernah mengatakan, jika sebagai pemimpin kita ingin memberdayakan orang lain, maka kita hars berani mempercayai mereka. Meskipun mereka berulang kali gagal atau menunjukkan sikap tidak bisa dipercaya karena berulang kali mereka mengulangi kebodohan yang sama, jika kita ingin memberdayakan mereka maka kita harus mempercayai mereka. Putuskan untuk percaya mereka melampaui semua fakta & kenyataan yang anda lihat tentang seseorang. Kepemimpinan memerlukan iman. Kita harus mempercayai & melibatkan Allah dalam setiap proses kepemimpinan ketika kita sedang memperlengkapi & memberdayakan orang lain.

Seorang pemimpin harus mendengarkan Allaah, sebelum ia ingin didengarkan orang lain.

Menghakimi berarti memberikan penilaian secara salah. Menghakimi juga bisa berarti memiliki sikap yang salah terhadap penilaian yang benar. Sikap menghakimi selalu diawali dari sikap hati yang salah tentang orang lain.

Di satu pihak, kita dipanggil untuk tidak menghakimi orang lain. Namun di sisi lain, kita tidak perlu takut dihakimi oleh orang lain. Just do your best! Hiduplah begitu luar biasa, sehingga penghakiman & penilaian yang salah dari orang lain terbukti salah. Ingatlah, bahwa jika kita hidup tidak benar & orang lain menilai kita tidak benar karena mereka mengetahui ketidakbenaran yang kita lakukan, anggaplah hal tersebut sebagai koreksi bukan penghakiman. Sepanjang saya belajar menjadi seorang pemimpin, saya belajar untuk tidak takut terhadap penghakiman orang sepanjang kita memiliki kehidupan yang benar & selalu memberi yang terbaik.

Hari-hari ini, gereja sangat perlu memiliki atmosfer komunitas yang benar. Jika kita tidak mengusahakan atmosfer komunitas yang benar, maka Iblis akan mudah bekerja di dalam gereja kita. Atmosfer gereja yang benar bukan berarti tidak ada konflik atau gesekan, tidak ada masalah. Atmosfer gereja yang benar membuat setiap pribadi (di mulai dari para pemimpinnya), untuk membuat keputusan untuk merespon sesuai dengan firman & mentalitas Kerajaan Allah.

Komunitas kita harus menjadi komunitas Kerajaan Allah di mana budaya & nilai-nilai Kerajaan Allah menjadi penentu atmosfer komunitas kita. Komunitas Kerajaan Allah adalah komunitas yang hidup di bawah pemerintahan Allah, bukan dikendalikan oleh emosi, pikiran negatif atau sentimen pribadi.

Gereja sebagai komunitas harus menjadi model bagi seluruh hubungan yang ada di dunia. "Gaya hidup saling" yang kita miliki lahir sebagai ekspresi penghormatan kita kepada Allah serta komitmen kita terhadap nilai-nilai & tujuan Kerajaan-Nya untuk mengembalikan setiap orang pada rencana Allah semula.

Senin, 24 November 2014

Leaders are readers of people. They study a person like they would a book, by paying careful attention to words. If you listen careful to the words someone says, you will learn a lot about that person. Specifically, you’ll discover the person’s attitude toward life, which reveals his or her gratitude for life.

A positive attitude can be a person’s greatest asset. In fact, an upbeat attitude can take people to places that their ability could never carry them on its own. Attitude acts like a booster rocket, lifting people to a higher altitude than they could otherwise climb.

Oftentimes, motivational speakers present attitude like a magic tonic or cure-all for every ailment, but attitude isn’t everything. Some people have awesome attitudes and yet are awfully incompetent. While attitude alone won’t guarantee success, attitude is a difference-maker. All else being equal, attitude gives an advantage or edge over the competition. Therefore, whenever you have a choice to make between two business partners, vendors, or job candidates with similar credentials, pick the one with the better attitude.

A person’s attitude is more apparent in some conditions than in others. Here are three situations in which a person’s true attitude is likely to surface.

WHEN THEY EXPERIENCE NEGATIVE FEELINGS

A gray, rainy day reveals a lot about a person’s attitude by showing how they respond to negative emotions. In the face of difficult feelings, some people are like tumbleweed tossed about by the wind; they go whichever way their emotions blow them. Positive people are not controlled by atmosphere but by their attitude. It provides a rootedness that prevents them from being susceptible to fluctuating moods. Whiners want to feel good before acting; winners do what’s right regardless of how they feel and then experience positive emotions as a result of their actions.

WHEN THEY MUST DEAL WITH MUNDANE DETAILS

It’s said that the devil is in the details, and some people behave like devils when they have to deal with the less-than-thrilling aspects of their jobs. Every occupation has its inglorious tasks, and how a leader handles them says a lot about her attitude. The more a person complains, the less he’ll attain. Conversely, by approaching even minor responsibilities with positivity and a sense of purpose, a person sets himself up for success.

WHEN THEY FACE ADVERSITY

People either shrink from adversity or rise to meet it—largely on account of their attitude toward life. Thankfulness shines brightest during tribulation. Saint Paul exhorted his readers to “rejoice always” and to “give thanks in all circumstances.” When we encounter adversity, we can counter anxiety with appreciativeness. When we are grateful, fear disappears and faith appears.
 


Jumat, 03 Oktober 2014

Pesan Tuhan untuk saya memasuki tahun 2014 ialah: Hiduplah oleh Roh... Berilah dirimu dipimpin oleh Roh. Meskipun hal ini terdengar hal yang umum & biasa, namun pesan tersebut bergolak dengan kuat di dalam diri saya.

Harus saya akui bahwa terkadang lebih mudah bagi saya untuk dipimpin oleh pikiran saya. Pengetahuan yang saya peroleh dari membaca banyak buku & pengalaman pelayanan yang saya miliki, menjadi tantangan tersendiri untuk hidup oleh Roh.

Mengacu pada Roma 8, jelas bahwa inti hidup Kristen kita ialah hidup oleh Roh. Tidak ada pertumbuhan rohani yang sejati tanpa hidup oleh Roh. Management, strategy, koneksi & trend, dapat menggantikan peran pimpinan Roh Kudus dalam kepemimpinan seseorang pemimpin rohani.

Saya mendapati bahwa ada pemimpin-pemimpin yang terlalu idealis memegang prinsip hingga ia mengabaikan pimpinan Roh Kudus. Prinsip-prinsip yang baik menjadi lebih penting daripada Allah. Prinsip-prinsip rohani sekalipun tidak dapat menggantikan pimpinan Allah atas hidup kita.

Jangan pegang prinsip begitu erat hanya supaya dibilang "tegas." Kita perlu memahami bahwa Allah tidak menuntun kita dengan prinsip, melainkan melalui Pribadi-Nya. Prinsip-prinsip yang kita pegang bisa menjadi "Taurat baru" yang menuntun kita dari luar, namun mengabaikan tuntunan Roh Kudus dari dalam kita.

Apa yang kita butuhkan bukanlah prinsip lebih banyak. Bukan juga prinsip-prinsip hebat yang terdengar "mind-blowing." Kita membutuhkan Allah lebih daripada kita membutuhkan prinsip-prinsip rohani terkini.

Saya tidak ingin berjalan terlalu jauh dengan pengertian yang salah. Saya ingin berjalan lebih jauh bersama dengan Allah. Saya menyadari bahwa kepemimpinan saya tidak sempurna. Saya harus berulang kali berlutut di hadapan Tuhan & menyadari bahwa saya membutuhkanNYA untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang IA percayakan untuk saya lakukan.

Kamis, 18 September 2014

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan sebuah pesan Tuhan tentang "serangan roh agamawi." Jujur saja, saya menanggapinya agak dengan setengah hati. Saya berpikir bahwa saya sudah mempelajari banyak hal tentang "roh & mentalitas agamawi." Selain itu, saya mengambil bentuk pelayanan yang berbeda dengan bentuk yang agamawi.

Namun ternyata, serangan roh & mentalitas agamawi bukan soal bentuk. Serangan roh agamawi ini terbuka bagi semua orang percaya yang memiliki rasa tidak aman (insecure) di dalam dirinya.

Awal tahun 2014 ini, Allah membukakan kepada saya bahwa akar dari roh agamawi ialah: "desire of power & control." Manusia diciptakan oleh Allah untuk berkuasa & menaklukkan bumi. Di dalam "dominion mandate" tersebut, tersimpan sebuah kebenaran bahwa Allah menciptakan manusia dengan "desire of power & control." Hanya saja, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, "desire of power & control" tersebut tidak hilang, melainkan memiliki arah yang salah oleh karena dosa.

Manusia berupaya mendominasi (mengendalikan) segala sesuatu dalam hidupnya. Demikian juga, manusia berusaha menemukan arti hidupnya dengan mencari tujuan yang membuat dirinya lebih berarti. Uang, kekuasaan, popularitas, kemewahan, relationship & berbagai hal lainnya, menjadi pengejaran dalam upaya manusia memberi makan "desire of power & control." Bahkan setelah kita menjadi percaya kepada Kristus, kedua hal ini pun tetap merupakan sebuah pergumulan yabg harus kita taklukkan. Jika tidak, maka "desire of power & control" yang salah arah ini akan menjadi cikal bakal lahirnya "mentalitas agamawi" yang dapat menghalangi pergerakkan Allah di dalam hidup kita.

Saya semakin menyadari bahwa strategi iblis bukan hanya menghancurkan pribadi-pribadi, melainkan juga "team." Setiap team yang dibangun oleh Allah untuk mengerjakan rencanaNya mulai mendapatkan serangan bertubi-tubi. Rick Joyner di dalam bukunya yang berjudul "Pencarian Terakhir" memberitahu kita bahwa salah satu strategi iblis untuk menghancurkan gereja ialah dengan "perang saudara." Fitnah, gosip, hasutan, penghakiman, kecurigaan & tindakan kedagingan lainnya, ditembakkan iblis agar gereja menggunakan senjatanya untuk memerangi saudaranya sendiri.

Roh agamawi selalu menghasilkan perpecahan. Insecurity merupakan pintu masuk bagi serangan roh agamawi. Penting bagi para pemimpin untuk mewaspadai area-area dalam kehidupan pribadinya di mana ia mudah merasa "insecure."

"Insecurity" merupakan tantangan utama dalam "spiritual leadership." "Insecurity" membuat kita terjebak pada "pengejaran & pengajaran" yang salah, dalam upaya melindungi kenyamanan kita, mencari pengakuan manusia, mendapatkan otoritas yang sebetulnya tidak kita miliki, berlindung dibalik kepura-puraan & berkomunikasi secara manipulatif.

"Insecurity" membuat seseorang membesarkan hal-hal kecil untuk kepentingan diri & tujuan yang manipulatif.

Roh Agamawi membuat kita ingin mencapai sesuatu dengan menggunakan Allah & kebenaran. Mentalitas agamawi menjadikan kita seorang hamba yang manipulatif, bukan seorang anak yang mengabdi dengan tulus.

Gereja harus memandang "serangan roh agamawi" ini secara serius. Kita harus meninggalkan sikap "ignorance" & menganggap remeh serangan roh agamawi ini.

Ketika serangan roh agamawi ini datang, ada baiknya kita bersikap tenang. Jangan terintimidasi, termanipulasi atau terprovokasi. Kita akan mudah jatuh ke dalam perangkap roh agamawi jika kita tidak berjalan dipimpin Roh Allah. Pastikan kita tidak kehilangan kemampuan mendengar suara Allah di tengah pertempuran rohani yang kita sedang alami. Serang terpancing untuk berkonfrotasi dengan "spirit" yang salah. Hadapilah dengan "roh yang berlawanan," yaitu roh Anak Domba.

Ada 3 kunci untuk menghadapi roh agamawi: kebenaran, kasih & kerendahan hati. Fokus pada 3 hal ini & jangan tergoda untuk menghadapi serangan roh agamawi ini dengan pengertian & kekuatan sendiri. Jangan masuk ke dalam "perang saudara" yang dihasilkan oleh tipu muslihat iblis. Kalahkan setiap pikiran negatif & ketakutan yang menyerang kita, dengan berjalan sepenuhnya dalam ketaatan kepada Allah.

Kamis, 11 September 2014

[Inspiring Leaders]
"Focus on biblical values in a busy world"

Ada alasan mengapa Allah mengizinkan anda terluka? Agar melalui luka-luka itu anda belajar mengenal diri sendiri, orang lain & Allah.

Jangan terlalu fokus pada rasa sakit yang ditimbulkan oleh luka-luka itu, sehingga anda kehilangan "kesadaran rohani" untuk mengenali diri anda sendiri.

Waktu terluka adalah waktu untuk kita berhenti sejenak agar dapat memulai lagi dengan lebih hebat, bukan waktu untuk mengasihani diri, menyerah & minta dimaklumi.

Banyak orang mudah menjadi "tidak bijak" ketika terluka. Luka-luka mereka dijadikan alasan untuk kesalahan-kesalahan yg disengaja, bahkan direncanakan.

Kita harus belajar untuk tetap bijak saat terluka. Iblis ingin agar anda kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan dengan benar dikala anda terluka. Namun jika anda membiasakan diri untuk hidup di dalam Roh, anda akan belajar bagaimana mengatasi rasa sakit agar anda tidak kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan dengan benar, terutama di saat anda terluka.

Jangan besar-besarkan luka yg anda alami. Bukan karena luka tersebut tidak penting. Melainkan karena ada Allah Yang Menyembuhkan tinggal di dalam anda. Besarnya luka itu tidak sebanding dengan besarnya kuasa kesembuhan yg tersedia bagi anda. Kesembuhan bukan ada di luar diri anda, melainkan ada di dalam Allah yg tinggal di dalam diri anda.

Mungkin ini bukan waktunya "menanti kesembuhan," melainkan ini waktunya untuk "menjadi sembuh." Anda harus memutuskan untuk menjadi sembuh, agar kuasa kesembuhan yg ada di dalam diri Allah "tumpah" ke dalam diri anda.

Jangan lagi melayani dengan "roh yang terluka," sehingga anda menggunakan berkat yg anda miliki untuk menyakiti org lain.

"Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang." [Matius 12:20]

Your Prayer Partner,

Ferry Felani

Rabu, 10 September 2014

[Inspiring Leaders ]
"Focus on biblical values in a busy world"

"Sion akan Kubebaskan dengan penghakiman yang adil dan ORANG-ORANGNYA YANG BERTOBAT AKAN KUBEBASKAN DENGAN TINDAKAN YANG BENAR." [Yesaya 1:27]

Terkadang cara Allah membebaskan kita bukan dengan cara IA MELAKUKAN SESUATU BAGI KITA, melainkan dengan mengajarkan sesuatu untuk kita lakukan. Di dalam setiap "pengajaran" yang Allah berikan, terdapat KUNCI untuk "membebaskan diri."

KEMALASAN menyebabkan seseorang SULIT MENGALAMI KEBEBASAN dari segala belenggu masalahnya. KETIDAKTAATAN akan menahan kita sehingga kita tetap berada di tempat atau kondisi yg salah.

Allah tidak mengenal kata "sulit" untuk menolong & mengerjakan mujizat dalam hidup kita. Namun IA sulit menolong orang yg sulit untuk taat.

Bukti bahwa kita bertobat bukan hanya BERHENTI MELAKUKAN YANG SALAH, MELAINKAN JUGA MULAI MELAKUKAN APA YANG BENAR.

Bukan pengetahuan akan kebenaran yang akan memerdekakan kita, melainkan pengenalan kita akan kebenaran. Mengenal artinya: mengerti karena melakukan / mengalami.

Tindakan-tindakan kita saat ini sangat menentukan apakah kita akan tetap terikat atau terbebas dari setiap ikatan yg menahan kita untuk mengalami kemajuan. Mengajarkan anda bertindak benar merupakan cara Allah membebaskan anda dari situasi yg anda tidak inginkan tetap ada di hidup anda. Keep right!

Your Prayer Partner,

Ferry Felani

Sabtu, 02 Agustus 2014

Insecurity... atau rasa tidak aman merupakan musuh yang menyerang semua level kepemimpinan. Baik calon pemimpin, pemimpin muda maupun pemimpin senior, tidak lepas dari serangan insecurity. Banyak pemimpin yang sedang dibentuk oleh Allah, gagal menyelesaikan proses oleh karena insecurity di dalam diri mereka menyebabkan mereka melakukan hal-hal konyol yang membuat mereka keluar dari rencana Allah.


Saul adalah salah satu contoh pemimpin yang insecure. Prestasi Daud menjadi ancaman dalam kepemimpinan Saul.

Namun jika kita telusuri ke belakang, ketidaktaatan Saul & sikap kompromi yang ia lakukan merupakan salah satu penyebab (akar) dari insecurity dalam kehidupannya. Saul tidak perlu merasa insecure jika ia dalam kondisi menaati Allah. Saul tidak perlu iri terhadap keberhasilan Daud, jika pengurapan Allah ada pada dirinya. Ketika Roh Tuhan undur dari Saul akibat ketidaktaatannya, Saul membuka celah bagi musuh untuk mengendalikannya dengan rasa tidak aman di dalam dirinya.

Rasa tidak aman (insecurity) dalam diri seseorang dapat membuat ia menjadi seseorang pengendali maupun menjadi seseorang yang terbelenggu dalam perangkap kendali orang lain. Seorang pengendali (suka mengendalikan orang lain) adalah orang yang dikuasai oleh ketakutan. Ia menggenauakan semua kekuatannya dan memanfaatkan kelemahan orang lain untuk memperoleh kendali atas orang tersebut. Ketika ia kehilangan kendali atas seseorang, ia mudah untuk menjadi sangat marah dan frustasi. Ia menggantungkan rasa berharganya pada orang-orang yang bisa ia kendalikan.

Orang yang hidup di bawah kendali orang lain akan mudah kehilangan suara Tuhan, berpotensi untuk tidak menaati Allah & sulit mengalami hadirat Tuhan. Ketika tidak dapat menjadi pribadi yang maksimal jika kita berada dibawah kendali orang lain. 


Rabu, 30 Juli 2014

Inspiring Leaders |
"Focus on biblical values in a busy world"

"Sesungguhnya, BERBAHAGIALAH MANUSIA YANG DITEGUR ALLAH; sebab itu JANGANLAH ENGKAU MENOLAK DIDIKAN Yang Mahakuasa. Karena Dialah yang MELUKAI, tetapi juga yang MEMBEBAT; Dia yang MEMUKULI, tetapi yang tangan-Nya MENYEMBUHKAN pula." | Ayub 5:17-18

Kebahagiaan tidak hanya datang karena bertambahnya kepemilikan. Dalam jangka panjang & secara kualitas, kebahagiaan juga datang melalui teguran Allah.

Kita perlu mengenal Allah sebagai ALLAH YG MEMULIHKAN & YG MENYEMBUHKAN. Tetapi kita juga harus belajar mengenal ALLAH YG MEMUKUL & YG MELUKAI.

Teguran Allah merupakan bentuk didikan Allah yg bertujuan untuk MEMBANGKITKAN RASA HAUS AKAN DIA.

Kata "mendidik" dapat digambarkan melalui cara bidan-bidan Ibrani mengoleskan buah kurma yang telah ditumbuh ke bayi yang baru lahir, untuk membangkitkan rasa haus agar bayi tersebut menyusui.

Melalui teguran yang Allah berikan ke hidup kita, Allah sedang ingin membangkitkan kembali rasa haus akan DIA (akan firmanNYA & akan hadiratNYA).

Ketika kita terus berusaha menghindar, bersikap tidak peduli & membenarkan diri ketika melakukan suatu kesalahan; maka kita hanya akan mendapati bahwa kita akan BERADA LEBIH LAMA DI TEMPAT YANG SALAH, & memperlambat persiapan-persiapan kita untuk hal2 besar yg akan Allah kerjakan di hidup kita.

Dengan membiarkan (mentoleransi) dosa & ketidaktaatan, kita akan semakin kehilangan rasa haus akan Allah.

Orang yang selalu terbuka terhadap teguran Allah, tidak akan kehilangan rasa haus akan DIA. Jika kita selalu memiliki respon thd teguran2 Allah yg lembut, maka kita tdk akan perlu mengalami teguran2 Allah yg keras.

Beranikah kita menjadi orang Kristen yang MENGHARAPKAN TEGURAN, DEMI MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN YANG LEBIH BERKUALITAS & RASA HAUS AKAN ALLAH?

Your Prayer Partner,

Ferry Felani