Rabu, 06 Februari 2013

TAKUT MENJALANI HIDUP YANG BIASA-BIASA

Sudah seminggu ini saya merasakan ketakutan hingga hari ini, hari ulang tahun saya. Seminggu yang lalu seorang sahabat bertanya kepada saya: "Minggu depan loe ulang tahun ya?" Lalu saya menjawab: "Iya, tapi gue merasa ada beban. Sepertinya belum melakukan banyak hal bagi Tuhan."

Ketakutan terbesar saya hari ini ialah: saya takut bahwa saya sedang menjalani hidup yang biasa-biasa saja. Semua ada dalam jangkauan kendali saya. Segalanya sangat teratur & bisa diprediksi. Tidak perlu ada kejutan atau kabar buruk di saat saya sedang merasa tidak siap.

Hari ini saya berketetapan hati untuk menjalani kehidupan yang "lebih dari biasanya." Mempergunakan waktu yang ada & mengisinya dengan melakukan kehendak Tuhan. "Kehendak Tuhan" seharusnya mudah dipahami. Bukankah Tuhan ingin kita melakukan kehendakNya? Ia pasti berkepentingan untuk memberitahukan kehendakNya kepada kita!

Yang membuat kehendak Tuhan menjadi sulit kita ketahui ialah: kedagingan kita. Semakin kita bertumbuh di dalam kedagingan, semakin sulit kita mengerti kehendak Tuhan. Bukan karena kehendak tersebut tidak diberitahukan oleh Tuhan, melainkan karena kita tidak dapat memahami kehendak Tuhan dengan "daging" kita. Semakin kita mengizinkan diri kita mengalami kematian daging, semakin kita dekat dengan kehendak Tuhan.

Untuk hidup di dalam kehendak Tuhan, kita harus hidup di dalam Roh bukan hidup di dalam daging. Berjalan di dalam Roh adalah suatu tuntutan mutlak bagi semua orang percaya. Inilah kehidupan Kristen yang normal, yaitu: berjalan di dalam Roh setiap hari.

Pelajaran "penyerahan diri" (surrender) merupakan pelajaran rohani yang sulit. Kita dituntun untuk mengalami kematian daging setiap hari. Tidak ada saat di dalam hari-hari kita, di mana kita tidak membutuhkan "penyerahan diri." Setiap saat kita membutuhkan penyerahan diri. Penyerahan diri telah menjadi sebuah kebutuhan rohani bagi semua orang. Tanpa penyerahan diri kita tidak akan pernah mengalami Allah dalam dimensi yang lebih besar. Tidak mungkin seseorang dalam berjalan di dalam iman, jika ia tidak memulainya dengan memiliki penyerahan diri.

Syarat untuk mengalami kemenangan di dalam hidup ialah: mengalami kekalahan. Kita harus memberi diri untuk "dikalahkan oleh Allah" sebelum akhirnya kita mengalami kemenangan-kemenangan bersama Dia. Kehidupan Kristen bukan tentang bagaimana semua yang kita inginkan terwujud, melainkan bagaimana semua yang Allah inginkan tergenapi dalam hidup kita.

Ketakutan saya untuk menjalani hidup yang biasa-biasa mendorong saya untuk masuk ke dalam penyerahan diri. Memberi diri dikalahkan oleh Allah, supaya seluruh kehendakNya terjadi dalam hidup saya. Kita tidak selalu mengerti kehendak Allah, namun kehendak Allah selalu yang terbaik buat kita.

Senin, 28 Januari 2013

KOREKSI, MEMBANGUN HUBUNGAN & REPUTASI

Salah satu bentuk kemalasan yang paling berbahaya ialah: malas mengkoreksi apa yang kita yakini tentang sesuatu & bagaimana kita melakukan sesuatu. Kepemimpinan yang efektif membutuhkan "self-correction" terus-menerus. Kemalasan untuk melakukan koreksi dapat menghasilkan stagnasi dalam segala hal.

"Koreksi" adalah kata yang sangat menakutkan bagi kebanyakan orang. Kita berusaha keras menghindarinya. Hanya menginginkan pujian tanpa mengharapkan koreksi, tidak akan membuat kepemimpinan bertumbuh. Kepemimpinan sangat identik dengan perubahan. Agar sebuah perubahan menjadi efektif & memiliki hasil yang positif, diperlukan tindakan koreksi yang dilakukan dengan benar.

Namun hal yang seringkali kita lupa sebelum melakukan koreksi ialah: mengembangkan kualitas hubungan. Tanpa kualitas hubungan yang baik, perubahan akan selalu menciptakan goncangan & rasa tidak aman. Keterampilan utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin ialah: keterampilan untuk membangun hubungan. Ada banyak hal besar & sulit yang dapat seorang pemimpin lakukan, jika ia memiliki kualitas hubungan & reputasi yang baik.

Untuk membangun kualitas hubungan & reputasi yang baik, dibutuhkan usaha & inisiatif. Kualitas hubungan & reputasi yang baik tidak datang dengan sendirinya. Kita perlu secara aktif membangunnya. Mulailah membangun hubungan yang baik dengan orang-orang yang sulit (difficult people). Jangan selalu melihat keberadaan "orang-orang yang sulit ini" (difficult people) sebagai musuh yang harus dikalahkan & disingkirkan. Milikilah kemampuan untuk "mengubah lawan menjadi kawan."

Kepemimpinan ialah tentang membangun hubungan dengan orang-orang yang sulit tanpa harus mengkompromikan prinsip kebenaran. Dengan mengembangkan hubungan dengan orang-orang yang sulit (difficult people), kapasitas & pengaruh kepemimpinan kita akan berkembang semakin besar.

Rabu, 12 Desember 2012

INI BUKAN WAKTUNYA MENGASIHANI DIRI

Mengasihi dan berbuat baik kadang membuat kita lelah. Bukan hanya kelah secara fisik, tetapi juga lelah secara emosional. Manusia diberikan 2 kapasitas oleh Allah, yaitu: kapasitas untuk memberi dan kapasitas untuk menerima.

Ada saat di mana pelayanan menuntut kita untuk terus-menerus memberi dan berkorban bagi orang lain, tanpa menghiraukan diri kita sendiri. Kita terus memperhatikan kehidupan orang lain, hingga suatu ketika kita merasa sepertinya orang lain tidak terlalu mempedulikan kita. Kita seperti seseorang yang memperhatikan semua orang, tetapi kita merasa tidak ada seorang pun yang memperhatikan kita.

Menjadi seorang pemimpin artinya menjadi orang yang siap menghadapi tuntutan-tuntutan. Tidak ada satu orang pemimpin pun yang tidak menghadap tuntutan. Semakin besar pengaruh kepemimpinan seseorang, semakin besar tuntutan yang ia terima. Setiap pemimpin harus mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan tuntutan, sebelum tuntutan-tuntutan tersebut menghancurkan dirinya.

Saya mengambil waktu berdiam diri di tengah segala kesibukan saya memikirkan masalah-masalah orang lain. Ketidakseimbangan hidup dapat membuat kita mudah masuk ke dalam perangkap intimidasi. Iblis dengan gencar menyemburkan kebohongan ke kepala kita.

Ini bukan waktunya mengasihani diri. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jangan meminta kepada manusia apa yang hanya bisa diberikan oleh Allah. DIA adalah sumber segala sesuatu yang baik.

Meski kita merasa lelah dalam berbuat baik, namun jangan berhenti berbuat baik. Disiplinkan pikiran-pikiran kita tentang orang lain, agar kita tidak mudah terintimidasi oleh karena hal-hal kecil yang terjadi. Jangan takut dengan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Hiduplah begitu luar biasa, sehingga pikiran-pikiran buruk orang lain tentang kita terbukti salah.

Keberanian Untuk Berserah

Kata "surrender" paling sulit dipahami di saat-saat krisis. Kita tidak suka saat di mana kita tidak memiliki kendali ketika saat-saat sulit terjadi di hidup kita. Pengalaman penuh penyerahan diri bisa menjadi pengalaman paling menyakitkan secara emosional. Kita berada posisi direndahkan tanpa kemampuan membela diri.

Saat di mana kita berhasil lolos dari sebuah krisis, bisa menjauhkan kita dari "penyerahan diri." Pengalaman rohani dapat menjadi pengalaman traumatis di mana kita tidak ingin kembali lagi ke sana. Kita betul-betuk tidak suka dalam keadaan kalah, tidak berdaya, tidak punya pilihan, tidak memiliki kendali dan kemampuan untuk membela diri (atau bahkan melindungi orang-orang yang kita cintai).

Penyerahan diri merupakan prinsip ilahi yang memliki nilai kekal. Allah tidak pernah mengubah prinsip-prinsip Kerajaan Allah yang bersifat kekal. Teladan Anak Domba ada pada kata "penyerahan diri." Pertukaran terjadi ketika kita menyerahkan kendali kita dan hidup dalam kendali Allah.

Ada kalanya saya merasa Allah begitu "ngotot" dan memaksa saya untuk berserah. Kadang kita merasa begitu takut "dizolimi" oleh Allah. Walaupun Allah Yang Maha Kudus "tidak memiliki kemampuan" untuk berbuat curang kepada kita. Kekudusan Allah membuat Allah dapat dipercaya. Motif dan tujuan Allah dalam setiap tindakanNya kepada kita, selalu dimotivasi oleh kemahatahuan dan kasihNya yang begitu besar.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
(Yohanes 21:18)

Penyerahan diri kita menggambarkan tingkat kedewasaan rohani kita. Kita tidak dapat mengalami kedewasaan tanpa penyerahan diri, kita tidak dapat hidup dalam penyerahan diri tanpa kedewasaan.

Saya pernah mendengar seorang hamba Tuhan yang berkata: "Tidak ada istirahat tanpa penyerahan diri." Penyerahan diri bukan berarti bersikap pasif, melainkan secara aktif mencari tahu kehendak Tuhan.

Dibutuhkan keberanian untuk hidup dalam penyerahan diri kepada Tuhan. 








Rabu, 12 September 2012

The Pareto Principle (20/80): Kemampuan Menilai & Memilih Orang-Orang

Saya sudah mengenal prinsip 20/80 (the pareto principle) sejak kuliah. Dalam banyak bukunya, John C. Maxwell sering membahas tentang prinsip 20/80 ini ketika menerangkan mengenai prioritas. Saya tidak menyadari bahwa berulang kali saaya telah melanggar prinsip ini.

Untuk mendapatkan hasil 80% kita hanya perlu memfokuskan diri pada 20% hal yang paling penting. Di dalam kepemimpinan, kita harus meletakkan fokus kita pada 20% orang untuk kita kembangkan agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Terlalu sering, fokus saya terlalu melebar.Saya berusaha menolong semua orang. Bahkan menghabiskan waktu & energi saya untuk membangun orang-orang yang tidak mau berubah. Sedangkan mereka yang hmau berubah justru terbengkalai.

Memasuki masa-masa yang "crucial" di dalam kepemimpinan, membuat saya lebih "aware" terhadap prinsip-prinsip kepemimpinan yang saya telah pelajari selama ini. Baru semalam saya selesai membaca buku Learship 101 yang ditulis oleh John C. Maxwell kira-kira 10 tahun yang lalu. Apa yang sedang saya alami di dalam kepemimpinan saya hari-hari ini membuat saya semakin mengerti pentingnya prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut. Selama ini saya secara tidak sengaja mengabaikannya, karena tidak melihat pentingnya prinsip-prinsip tersebut sampai akhirnya ketika permasalahan-permasalahan mulai timbul, barulah prinsip-prinsip itu terlihat penting.

Kadang kita "berpikir terlalu positif" akan apa yang sedang kita lakukan hari-hari ini. Rasa bangga (proud) terhadap hasil-hasil yang terlihat dari kepemimpinan kita dapat membuat kita terlena, berpuas diri & menjadi kurang waspada. Itu sebabnya salah satu hal yang paling penting yang harus dilakukan oleh setiap pemimpin untuk mengalami kemajuan, ialah EVALUASI. Melakukan evaluasi secara berkala akan membantu kita mtuk mengembangkan diri & mengatasi kekurangan kita. Untuk mendapatkan hasil evaluasi yang maksimal, dibutuhkan mata yang obyektif. Kita harus melihat diri kita sebagaimana adanya.mKita haus berani berhadapan dengan realita, fakta & kebenaran.

Mengevaluasi orang-orang yang berada satu tim dengan kita juga sangat penting untuk mengatasi kekurangan & mengembangkan kemampuan tim. Terlalu sering saya menyangkal kelemahan anggota tim & "terlalu mudah percaya" akan seseorang. Pada prinsipmya bersikap positif & mempercayai anggota tim kita tentu merupakan hal yang sangat baik. Namun bersikap positif bukanlah menyangkali keadaan. Sikap positif yang salah ialah sikap positif yang disertai sikap menyangkal kelemahan, fakta & kebenaran.

Pemahaman akan prinsip-prinsip kepemimpinan membuat saya memandang setiap tim dengan perspektif yang berbeda. Saya bukan hanya perlu tahu kelebihan mereka, tetapi juga kelemahan mereka.

Ketika saya membuat list mengenai orang-orang yang ada di dalam kepemimpinan saya & menilai mereka berdasarkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang saya pahami, saya mendapati 20% orang yang harus saya prioritaskan ialah orang-orang yang berbeda dengan penilaian atau dugaan saya sebelumnya.

Sejak tahun yang lalu, saya mulai memahami bahwa para pemimpin yang sukses bukan hanya bisa bekerja sama dengan orang lain, mereka juga mampu menilai orang lain dengan tepat serta memilih anggota tim mereka dengan benar.

Kadang saya merasa miliki kemampuan ini. Namun ternyata saya salah. Cara saya menilai & memilih orang dalam kepemimpinan perlu diperbaiki.

Saya memiliki kebiasaan yang harus diubah. Kebiasaan ini sangat menyangkut dengan masalah prioritas. Saya sangat suka menyimpan yang terbaik untuk dinikmati terakhir. Ketika makan di sebuah restaurant, bagian terbaik biasanya akan saya nikmati belakangan. Saya akan menikmati makanan di mulai dari yang   biasa hingga ke yang paling nikmat. Masalahnya, ketika saya menikmati bagian terbaik tersebut, saya sudah agak kenyang. Alangkah lebih baik jika saya menikmati bagian terbaik di awal, ketika perut saya masih sangat lapar. Tentu makanan tersebut akan sangat lezat di mulut saya.

Belum lama ini saya membeli 30 buku ketika melayani di Sydney, Australia. Ketika memutuskan mulai untuk membaca buku-buku tersebut, saya selalu menyimpan buku-buku terbaik untuk dibaca "nanti." Padahal hal-hal terbaik harusnya kita nikmati lebih dulu, buku-buku terbaik kita baca lebih dulu, & orang-orang terbaik kita prioritaskan untuk dibangun lebih dulu sehingga kita bisa memperkuat "influence" untuk membangun orang-orang yang dalam kepemimpinan kita.

Meskipun buku-buku tentang kepemimpinan semakin banyak, ternyata menjadi seorang pemimpin tetap tidak mudah. Menjadi pemimpin bukan tentang apa yang kita ketahui, melainkan tentang apa yang kita lakukan. Setiap pemimpin dinilai dari tindakan, keputusan & pilihan yang ia buat. Pengetahuan bukanlah kekuatan sampai pengetahuan itu kepemimpinan.

Perasaan "sudah tahu" kadang lahir dari kesombongan hati yang dapat menghambat "pertumbuhan" pribadi kita. Agarvmenjadi pemimpin yang terus bertumbuh & meningkatkan pemgaruh yang kita miliki, kita harus belajar menjadi NOL sehingga kita selalu bisa diajar & belajar banyak hal.

Rabu, 05 September 2012

Kehilangan Pengurapan

"Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, & yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Matius 19:30)

Sudah 14 tahun saya menjadi orang Kristen yang lahir baru. Selama perjalanan rohani saya, Tuhan memakai banyak orang untuk terlibat dalam membentuk kehidupan rohani saya. Merupakan sebuah sukacita yang luar biasa mengetahui bahwa kita memiliki saudara seiman yang bertumbuh bersama dengan kita.

Saat menengok kembali ke belakang, saya menyadari sesuatu telah terjadi... saya kehilangan beberapa orang yang pernah Tuhan pakai begitu luar biasa untuk membantu saya bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus. Seorang sahabat yang selalu menjemput saya untuk pergi ke gereja di awal pertobatan saya, seorang kakak kelas yang memberikan saya banyak kesempatan untuk melayani Tuhan, seorang sahabat yang pernah menyampaikan sebuah nubuat yang begitu mempengaruhi jalan hidup saya.

"Kehilangan" adalah istilah yang saya pilih untuk menggambarkan kehidupan rohani mereka saat ini. Kami masih berhubungan baik hingga hari ini. Namun, mereka tidak lagi memiliki kehidupan rohani seperti dulu.mBerkaca dari kehidupan mereka saat ini, saya mencoba memasang rambu-rambu rohani. Saya tidak ingin suatu kali, hal yang sama terjadi kepada saya.

Mengembalikan sahabat-sahabat saya pada "kondisi" yang seharusnya bukan perkara mudah. Mereka bukannya tidak tahu kebenaran. Namun inilah yang terjadi jika orang-orang yang pernah mengerti kebenaran mundur dari Tuhan. Ada semacam benteng yang menghalangi mereka untuk kembali. Itu sebabnya, selalu dibutuhkan kerendahan hati untuk kembali ke tempat di mana kita memulai. Tanpa kerendahan hati, hampir-hampir kita tidak akan dapat dipulihkan.

Kecewa dengan orang Kristen, cinta akan uang, haus pengakuan, kejatuhan yang tidak diatasi dengan pola pemberesan (pertobatan) yang benar & kesombongan, dapat membawa kita menjauh dari Tuhan. Ada kalanya sindrom Saul terjadi di tengah-tengah kita. Kita sulit mengenali saat di mana sesungguhnya "roh Tuhan" sudah undur datri kehidupan kita. Roh Allah undur diam-diam, tidak ada seorang pun yang tahu & kita pun tidak menyadarinya.

Saul mencoba menjalankan tugasnya sebagai raja, tanpa pemgurapan seorang raja.

Kehilangan pengurapan bukan sekedar kehilangan kuasa Tuhan, melainkan kehilangan kepercayaan dari Tuhan.

Melihat kehidupan rohani yang sembrono dari beberapa orang Kristen & hamba Tuhan, sepertinya hari-hari ini banyak orang tidak takut kehilangan pengurapan. Jika kita tidak mengetahui tujuan pengurapan, kita tidak akan merasa membutuhkannya. Bahkan ketika kita kehilangan pengurapan tersebut, kita masih beranggapan bahwa hal itu bukan masalah besar.

Hey, kehilangan pengurapan merupakan sebuah masalah serius! Kehilangan pengurapan berarti kehilangan keperayaan dari Allah. Dibutuhkan integritas untuk mengaktifkan & melipatgandakan pengurapan di dalam roh kita.

Mereka yang berjalan di dalam pengurapan akan menyaksikan hasil-hasil yang berbeda dari mereka yang tidak berjalan di dalam pemgurapan.

MELAYANI DENGAN ROH KEPEMIMPINAN YANG BENAR: Mengalahkan Rasa Tidak Aman & Sikap Hati Yang Salah Dalam Diri Kita

"Melayani" sudah menjadi kata yang rancu di dalam kekristenan. Berbagai tujuan & agenda pribadi yang memberi warna lain dari warna yang diberikan Yesus, mendatangkan banyak kesalahpahaman & kebingungan di dalam Tubuh Kristus (baca: gereja).

Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Lukas 10:3)

Yang harus kita minta agar Tuhan mengirimkan kepada kita ialah "pekerja," bukan artis, CEO, bisnisman, maupun musisi handal. Mintalah pekerja!

Hari-hari ini kata "melayani" sering digunakan oleh orang-orang tertentu untuk mendapatkan pengaruh, kendali, popularitas maupun uang. Kata ini telah diselewengkan begitu rupa sehingga banyak orang mulai bersikap curiga kepada pelayanan-pelayanan sejati.

Melayani adalah cara Allah mengikis daging kita. Pelayanan yang sejati bukan memberikan kenyamanan kepada daging. Melalui pelayanan kita dipanggil untuk mendahulukan orang lain. Ini tentu sangat bertentangan dengasifat dasarvmanusia yang memiliki kecenderungan untuk bersikap egois.

Suatu hari saya begitu kelelahan dengan berbagai aktifitas & kesibukan yang ada. Bahkan hal-hal kecil pun begitu menyibukan & menguras energi saya. Dalam keadaan letih, saya masih harus berhadapan dengan sikap orang lain yang cukup "bossy" (sok main suruh & perintah). Saat kejengkelan mulai menyelinap masuk, Roh Kudus pun tidak kalah cepat untuk memanfaatkan peluang untuk memuridkan seorang murid yang sedang tidak siap belajar.

Di tengah kelelahan saya, Roh Kudus berbisik: "Kamu melayani karena kamu pemimpin! Melayani adalah cara Alkitabiah untuk menjadi besar!" Melayani adalah jalan menuju promosi ilahi!" Tiba-tiba saja keletihan & perasaan jengkel saya terangkat. Seandainya saja banyak orang Kristen memahami agenda Allah dibalik situasi tidak menyenangkan di mana kita merasa seperti "kacung," namun pada saat itulah Allah sedang mempersiapkan kita; kita tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Kesempatan-kesempatan besar seringkali bersembunyi di balik perkara-perkara kecil.

"Mengapa semuanya harus aku yang mengerjakannya?"
"Mengapa aku selalu disuruh-suruh sama orang ini?"
"Mengapa dia harus memintanya dengan cara (bicara) seenaknya seperti itu?"
"Tidakkah dia bisa bilang terima kasih atas semua yang sudah aku lakukan?"
"Apakah semua pengorbananku ini tidak artinya buat dia?"

Pernahkah anda merasakan perasaan-perasaan ini?

Harga diri kita seperti ditabrak dengan keras. Kadang kita berpikir, kalau terus dibiarkan nanti jadi seenaknya... atau kalau dibiarkan nanti seperti si ini, si anu, kasus keluarga ini, kasus perusahaan itu (& berbagai skenario lainnya).

Tidak dapat dipungkiri bahwa selalu saja ada orang-orang yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain. Dari teman, keluarga, pemimpin, bahkan partner pelayanan.

Ada kalanya saya lelah dengan sikap orang-orang tertentu. Dalam keadaan kesal, hindari untuk membuat kesimpulan. Kesimpulan yang salah akan menghasilkan tanggapan yang salah. Kenali "waktu kebodohan" kita, yaitu saat di mana kita paling sulit untuk menguasai diri.

Kesimpulan yang saya buat di tengah-tengah kekesalan, membuat saya kehilangan kelemahlembutan & kerendahan hati. Sikap satu dua orang yang menganggu, membuat saya membangun benteng kepada banyak orang. Saya sering sekali menggunakan kata "insecure" (tidak aman). Sampai tiba-tiba saya menyadari bahwa kata tersebut telah menyerga saya dengan diam-diam.

Saya pernah membaca sebuah buku yang bercerita tentang kehidupan Herodes. Dibalik tahta & kekuasaanya, Herodes adalah seorang pria yang "insecure" (tidak akan) dengan dirinya & keberadaan orang lain disekelilingnya. Herodes yang berbakat berubah menjadi Herodes yang keji, yang tidak sayang membunuh siapa pun (termasuk para kerabatnya), yang keberadaannya mendatangkan rasa tidak aman (insecure) dalam diri Herodes.

Roh Herodes adalah roh pembunuh potensi. Spiritual abortion (aborsi rohani) menjadi strategi pemimpin yang tidak aman dengan keberadaan orang lain, untuk menyingkirkan setiap orang yang ada di jalan mereka, karena takut kehilangan apa yang ia miliki hari ini.

Roh apa yang sedang menunggangi kepemimpinan kita? Roh Anak Domba yang lemah lembut atau roh Herodes yang licik & berbahaya?

Kepemimpinan bukan hanya soal skill, tetapi juga soal roh. Roh apa yang adapada kepemimpinan kita? Jika Roh Kristus yang menjadi nafas pelayanan kita, maka IA akan memberikan kita identitas & rasa berharga yang berakar di dalam karya penebusanNya sehingga kita dapat mengalahkan perasaan-perasaan "insecure" pada saat kita melayani dengan sikap hati & motivasi yang benar.

Jangan biarkan perlakuan buruk orang lain membuat kita kehilangan sikap hati & motivasi yang benar dalam melayani Allah & jiwa-jiwa.




Rabu, 06 Februari 2013

Sudah seminggu ini saya merasakan ketakutan hingga hari ini, hari ulang tahun saya. Seminggu yang lalu seorang sahabat bertanya kepada saya: "Minggu depan loe ulang tahun ya?" Lalu saya menjawab: "Iya, tapi gue merasa ada beban. Sepertinya belum melakukan banyak hal bagi Tuhan."

Ketakutan terbesar saya hari ini ialah: saya takut bahwa saya sedang menjalani hidup yang biasa-biasa saja. Semua ada dalam jangkauan kendali saya. Segalanya sangat teratur & bisa diprediksi. Tidak perlu ada kejutan atau kabar buruk di saat saya sedang merasa tidak siap.

Hari ini saya berketetapan hati untuk menjalani kehidupan yang "lebih dari biasanya." Mempergunakan waktu yang ada & mengisinya dengan melakukan kehendak Tuhan. "Kehendak Tuhan" seharusnya mudah dipahami. Bukankah Tuhan ingin kita melakukan kehendakNya? Ia pasti berkepentingan untuk memberitahukan kehendakNya kepada kita!

Yang membuat kehendak Tuhan menjadi sulit kita ketahui ialah: kedagingan kita. Semakin kita bertumbuh di dalam kedagingan, semakin sulit kita mengerti kehendak Tuhan. Bukan karena kehendak tersebut tidak diberitahukan oleh Tuhan, melainkan karena kita tidak dapat memahami kehendak Tuhan dengan "daging" kita. Semakin kita mengizinkan diri kita mengalami kematian daging, semakin kita dekat dengan kehendak Tuhan.

Untuk hidup di dalam kehendak Tuhan, kita harus hidup di dalam Roh bukan hidup di dalam daging. Berjalan di dalam Roh adalah suatu tuntutan mutlak bagi semua orang percaya. Inilah kehidupan Kristen yang normal, yaitu: berjalan di dalam Roh setiap hari.

Pelajaran "penyerahan diri" (surrender) merupakan pelajaran rohani yang sulit. Kita dituntun untuk mengalami kematian daging setiap hari. Tidak ada saat di dalam hari-hari kita, di mana kita tidak membutuhkan "penyerahan diri." Setiap saat kita membutuhkan penyerahan diri. Penyerahan diri telah menjadi sebuah kebutuhan rohani bagi semua orang. Tanpa penyerahan diri kita tidak akan pernah mengalami Allah dalam dimensi yang lebih besar. Tidak mungkin seseorang dalam berjalan di dalam iman, jika ia tidak memulainya dengan memiliki penyerahan diri.

Syarat untuk mengalami kemenangan di dalam hidup ialah: mengalami kekalahan. Kita harus memberi diri untuk "dikalahkan oleh Allah" sebelum akhirnya kita mengalami kemenangan-kemenangan bersama Dia. Kehidupan Kristen bukan tentang bagaimana semua yang kita inginkan terwujud, melainkan bagaimana semua yang Allah inginkan tergenapi dalam hidup kita.

Ketakutan saya untuk menjalani hidup yang biasa-biasa mendorong saya untuk masuk ke dalam penyerahan diri. Memberi diri dikalahkan oleh Allah, supaya seluruh kehendakNya terjadi dalam hidup saya. Kita tidak selalu mengerti kehendak Allah, namun kehendak Allah selalu yang terbaik buat kita.

Senin, 28 Januari 2013

Salah satu bentuk kemalasan yang paling berbahaya ialah: malas mengkoreksi apa yang kita yakini tentang sesuatu & bagaimana kita melakukan sesuatu. Kepemimpinan yang efektif membutuhkan "self-correction" terus-menerus. Kemalasan untuk melakukan koreksi dapat menghasilkan stagnasi dalam segala hal.

"Koreksi" adalah kata yang sangat menakutkan bagi kebanyakan orang. Kita berusaha keras menghindarinya. Hanya menginginkan pujian tanpa mengharapkan koreksi, tidak akan membuat kepemimpinan bertumbuh. Kepemimpinan sangat identik dengan perubahan. Agar sebuah perubahan menjadi efektif & memiliki hasil yang positif, diperlukan tindakan koreksi yang dilakukan dengan benar.

Namun hal yang seringkali kita lupa sebelum melakukan koreksi ialah: mengembangkan kualitas hubungan. Tanpa kualitas hubungan yang baik, perubahan akan selalu menciptakan goncangan & rasa tidak aman. Keterampilan utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin ialah: keterampilan untuk membangun hubungan. Ada banyak hal besar & sulit yang dapat seorang pemimpin lakukan, jika ia memiliki kualitas hubungan & reputasi yang baik.

Untuk membangun kualitas hubungan & reputasi yang baik, dibutuhkan usaha & inisiatif. Kualitas hubungan & reputasi yang baik tidak datang dengan sendirinya. Kita perlu secara aktif membangunnya. Mulailah membangun hubungan yang baik dengan orang-orang yang sulit (difficult people). Jangan selalu melihat keberadaan "orang-orang yang sulit ini" (difficult people) sebagai musuh yang harus dikalahkan & disingkirkan. Milikilah kemampuan untuk "mengubah lawan menjadi kawan."

Kepemimpinan ialah tentang membangun hubungan dengan orang-orang yang sulit tanpa harus mengkompromikan prinsip kebenaran. Dengan mengembangkan hubungan dengan orang-orang yang sulit (difficult people), kapasitas & pengaruh kepemimpinan kita akan berkembang semakin besar.

Rabu, 12 Desember 2012

Mengasihi dan berbuat baik kadang membuat kita lelah. Bukan hanya kelah secara fisik, tetapi juga lelah secara emosional. Manusia diberikan 2 kapasitas oleh Allah, yaitu: kapasitas untuk memberi dan kapasitas untuk menerima.

Ada saat di mana pelayanan menuntut kita untuk terus-menerus memberi dan berkorban bagi orang lain, tanpa menghiraukan diri kita sendiri. Kita terus memperhatikan kehidupan orang lain, hingga suatu ketika kita merasa sepertinya orang lain tidak terlalu mempedulikan kita. Kita seperti seseorang yang memperhatikan semua orang, tetapi kita merasa tidak ada seorang pun yang memperhatikan kita.

Menjadi seorang pemimpin artinya menjadi orang yang siap menghadapi tuntutan-tuntutan. Tidak ada satu orang pemimpin pun yang tidak menghadap tuntutan. Semakin besar pengaruh kepemimpinan seseorang, semakin besar tuntutan yang ia terima. Setiap pemimpin harus mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan tuntutan, sebelum tuntutan-tuntutan tersebut menghancurkan dirinya.

Saya mengambil waktu berdiam diri di tengah segala kesibukan saya memikirkan masalah-masalah orang lain. Ketidakseimbangan hidup dapat membuat kita mudah masuk ke dalam perangkap intimidasi. Iblis dengan gencar menyemburkan kebohongan ke kepala kita.

Ini bukan waktunya mengasihani diri. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jangan meminta kepada manusia apa yang hanya bisa diberikan oleh Allah. DIA adalah sumber segala sesuatu yang baik.

Meski kita merasa lelah dalam berbuat baik, namun jangan berhenti berbuat baik. Disiplinkan pikiran-pikiran kita tentang orang lain, agar kita tidak mudah terintimidasi oleh karena hal-hal kecil yang terjadi. Jangan takut dengan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Hiduplah begitu luar biasa, sehingga pikiran-pikiran buruk orang lain tentang kita terbukti salah.

Kata "surrender" paling sulit dipahami di saat-saat krisis. Kita tidak suka saat di mana kita tidak memiliki kendali ketika saat-saat sulit terjadi di hidup kita. Pengalaman penuh penyerahan diri bisa menjadi pengalaman paling menyakitkan secara emosional. Kita berada posisi direndahkan tanpa kemampuan membela diri.


Saat di mana kita berhasil lolos dari sebuah krisis, bisa menjauhkan kita dari "penyerahan diri." Pengalaman rohani dapat menjadi pengalaman traumatis di mana kita tidak ingin kembali lagi ke sana. Kita betul-betuk tidak suka dalam keadaan kalah, tidak berdaya, tidak punya pilihan, tidak memiliki kendali dan kemampuan untuk membela diri (atau bahkan melindungi orang-orang yang kita cintai).

Penyerahan diri merupakan prinsip ilahi yang memliki nilai kekal. Allah tidak pernah mengubah prinsip-prinsip Kerajaan Allah yang bersifat kekal. Teladan Anak Domba ada pada kata "penyerahan diri." Pertukaran terjadi ketika kita menyerahkan kendali kita dan hidup dalam kendali Allah.

Ada kalanya saya merasa Allah begitu "ngotot" dan memaksa saya untuk berserah. Kadang kita merasa begitu takut "dizolimi" oleh Allah. Walaupun Allah Yang Maha Kudus "tidak memiliki kemampuan" untuk berbuat curang kepada kita. Kekudusan Allah membuat Allah dapat dipercaya. Motif dan tujuan Allah dalam setiap tindakanNya kepada kita, selalu dimotivasi oleh kemahatahuan dan kasihNya yang begitu besar.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
(Yohanes 21:18)

Penyerahan diri kita menggambarkan tingkat kedewasaan rohani kita. Kita tidak dapat mengalami kedewasaan tanpa penyerahan diri, kita tidak dapat hidup dalam penyerahan diri tanpa kedewasaan.

Saya pernah mendengar seorang hamba Tuhan yang berkata: "Tidak ada istirahat tanpa penyerahan diri." Penyerahan diri bukan berarti bersikap pasif, melainkan secara aktif mencari tahu kehendak Tuhan.

Dibutuhkan keberanian untuk hidup dalam penyerahan diri kepada Tuhan. 








Rabu, 12 September 2012

Saya sudah mengenal prinsip 20/80 (the pareto principle) sejak kuliah. Dalam banyak bukunya, John C. Maxwell sering membahas tentang prinsip 20/80 ini ketika menerangkan mengenai prioritas. Saya tidak menyadari bahwa berulang kali saaya telah melanggar prinsip ini.

Untuk mendapatkan hasil 80% kita hanya perlu memfokuskan diri pada 20% hal yang paling penting. Di dalam kepemimpinan, kita harus meletakkan fokus kita pada 20% orang untuk kita kembangkan agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Terlalu sering, fokus saya terlalu melebar.Saya berusaha menolong semua orang. Bahkan menghabiskan waktu & energi saya untuk membangun orang-orang yang tidak mau berubah. Sedangkan mereka yang hmau berubah justru terbengkalai.

Memasuki masa-masa yang "crucial" di dalam kepemimpinan, membuat saya lebih "aware" terhadap prinsip-prinsip kepemimpinan yang saya telah pelajari selama ini. Baru semalam saya selesai membaca buku Learship 101 yang ditulis oleh John C. Maxwell kira-kira 10 tahun yang lalu. Apa yang sedang saya alami di dalam kepemimpinan saya hari-hari ini membuat saya semakin mengerti pentingnya prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut. Selama ini saya secara tidak sengaja mengabaikannya, karena tidak melihat pentingnya prinsip-prinsip tersebut sampai akhirnya ketika permasalahan-permasalahan mulai timbul, barulah prinsip-prinsip itu terlihat penting.

Kadang kita "berpikir terlalu positif" akan apa yang sedang kita lakukan hari-hari ini. Rasa bangga (proud) terhadap hasil-hasil yang terlihat dari kepemimpinan kita dapat membuat kita terlena, berpuas diri & menjadi kurang waspada. Itu sebabnya salah satu hal yang paling penting yang harus dilakukan oleh setiap pemimpin untuk mengalami kemajuan, ialah EVALUASI. Melakukan evaluasi secara berkala akan membantu kita mtuk mengembangkan diri & mengatasi kekurangan kita. Untuk mendapatkan hasil evaluasi yang maksimal, dibutuhkan mata yang obyektif. Kita harus melihat diri kita sebagaimana adanya.mKita haus berani berhadapan dengan realita, fakta & kebenaran.

Mengevaluasi orang-orang yang berada satu tim dengan kita juga sangat penting untuk mengatasi kekurangan & mengembangkan kemampuan tim. Terlalu sering saya menyangkal kelemahan anggota tim & "terlalu mudah percaya" akan seseorang. Pada prinsipmya bersikap positif & mempercayai anggota tim kita tentu merupakan hal yang sangat baik. Namun bersikap positif bukanlah menyangkali keadaan. Sikap positif yang salah ialah sikap positif yang disertai sikap menyangkal kelemahan, fakta & kebenaran.

Pemahaman akan prinsip-prinsip kepemimpinan membuat saya memandang setiap tim dengan perspektif yang berbeda. Saya bukan hanya perlu tahu kelebihan mereka, tetapi juga kelemahan mereka.

Ketika saya membuat list mengenai orang-orang yang ada di dalam kepemimpinan saya & menilai mereka berdasarkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang saya pahami, saya mendapati 20% orang yang harus saya prioritaskan ialah orang-orang yang berbeda dengan penilaian atau dugaan saya sebelumnya.

Sejak tahun yang lalu, saya mulai memahami bahwa para pemimpin yang sukses bukan hanya bisa bekerja sama dengan orang lain, mereka juga mampu menilai orang lain dengan tepat serta memilih anggota tim mereka dengan benar.

Kadang saya merasa miliki kemampuan ini. Namun ternyata saya salah. Cara saya menilai & memilih orang dalam kepemimpinan perlu diperbaiki.

Saya memiliki kebiasaan yang harus diubah. Kebiasaan ini sangat menyangkut dengan masalah prioritas. Saya sangat suka menyimpan yang terbaik untuk dinikmati terakhir. Ketika makan di sebuah restaurant, bagian terbaik biasanya akan saya nikmati belakangan. Saya akan menikmati makanan di mulai dari yang   biasa hingga ke yang paling nikmat. Masalahnya, ketika saya menikmati bagian terbaik tersebut, saya sudah agak kenyang. Alangkah lebih baik jika saya menikmati bagian terbaik di awal, ketika perut saya masih sangat lapar. Tentu makanan tersebut akan sangat lezat di mulut saya.

Belum lama ini saya membeli 30 buku ketika melayani di Sydney, Australia. Ketika memutuskan mulai untuk membaca buku-buku tersebut, saya selalu menyimpan buku-buku terbaik untuk dibaca "nanti." Padahal hal-hal terbaik harusnya kita nikmati lebih dulu, buku-buku terbaik kita baca lebih dulu, & orang-orang terbaik kita prioritaskan untuk dibangun lebih dulu sehingga kita bisa memperkuat "influence" untuk membangun orang-orang yang dalam kepemimpinan kita.

Meskipun buku-buku tentang kepemimpinan semakin banyak, ternyata menjadi seorang pemimpin tetap tidak mudah. Menjadi pemimpin bukan tentang apa yang kita ketahui, melainkan tentang apa yang kita lakukan. Setiap pemimpin dinilai dari tindakan, keputusan & pilihan yang ia buat. Pengetahuan bukanlah kekuatan sampai pengetahuan itu kepemimpinan.

Perasaan "sudah tahu" kadang lahir dari kesombongan hati yang dapat menghambat "pertumbuhan" pribadi kita. Agarvmenjadi pemimpin yang terus bertumbuh & meningkatkan pemgaruh yang kita miliki, kita harus belajar menjadi NOL sehingga kita selalu bisa diajar & belajar banyak hal.

Rabu, 05 September 2012

"Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, & yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Matius 19:30)


Sudah 14 tahun saya menjadi orang Kristen yang lahir baru. Selama perjalanan rohani saya, Tuhan memakai banyak orang untuk terlibat dalam membentuk kehidupan rohani saya. Merupakan sebuah sukacita yang luar biasa mengetahui bahwa kita memiliki saudara seiman yang bertumbuh bersama dengan kita.

Saat menengok kembali ke belakang, saya menyadari sesuatu telah terjadi... saya kehilangan beberapa orang yang pernah Tuhan pakai begitu luar biasa untuk membantu saya bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus. Seorang sahabat yang selalu menjemput saya untuk pergi ke gereja di awal pertobatan saya, seorang kakak kelas yang memberikan saya banyak kesempatan untuk melayani Tuhan, seorang sahabat yang pernah menyampaikan sebuah nubuat yang begitu mempengaruhi jalan hidup saya.

"Kehilangan" adalah istilah yang saya pilih untuk menggambarkan kehidupan rohani mereka saat ini. Kami masih berhubungan baik hingga hari ini. Namun, mereka tidak lagi memiliki kehidupan rohani seperti dulu.mBerkaca dari kehidupan mereka saat ini, saya mencoba memasang rambu-rambu rohani. Saya tidak ingin suatu kali, hal yang sama terjadi kepada saya.

Mengembalikan sahabat-sahabat saya pada "kondisi" yang seharusnya bukan perkara mudah. Mereka bukannya tidak tahu kebenaran. Namun inilah yang terjadi jika orang-orang yang pernah mengerti kebenaran mundur dari Tuhan. Ada semacam benteng yang menghalangi mereka untuk kembali. Itu sebabnya, selalu dibutuhkan kerendahan hati untuk kembali ke tempat di mana kita memulai. Tanpa kerendahan hati, hampir-hampir kita tidak akan dapat dipulihkan.

Kecewa dengan orang Kristen, cinta akan uang, haus pengakuan, kejatuhan yang tidak diatasi dengan pola pemberesan (pertobatan) yang benar & kesombongan, dapat membawa kita menjauh dari Tuhan. Ada kalanya sindrom Saul terjadi di tengah-tengah kita. Kita sulit mengenali saat di mana sesungguhnya "roh Tuhan" sudah undur datri kehidupan kita. Roh Allah undur diam-diam, tidak ada seorang pun yang tahu & kita pun tidak menyadarinya.

Saul mencoba menjalankan tugasnya sebagai raja, tanpa pemgurapan seorang raja.

Kehilangan pengurapan bukan sekedar kehilangan kuasa Tuhan, melainkan kehilangan kepercayaan dari Tuhan.

Melihat kehidupan rohani yang sembrono dari beberapa orang Kristen & hamba Tuhan, sepertinya hari-hari ini banyak orang tidak takut kehilangan pengurapan. Jika kita tidak mengetahui tujuan pengurapan, kita tidak akan merasa membutuhkannya. Bahkan ketika kita kehilangan pengurapan tersebut, kita masih beranggapan bahwa hal itu bukan masalah besar.

Hey, kehilangan pengurapan merupakan sebuah masalah serius! Kehilangan pengurapan berarti kehilangan keperayaan dari Allah. Dibutuhkan integritas untuk mengaktifkan & melipatgandakan pengurapan di dalam roh kita.

Mereka yang berjalan di dalam pengurapan akan menyaksikan hasil-hasil yang berbeda dari mereka yang tidak berjalan di dalam pemgurapan.

"Melayani" sudah menjadi kata yang rancu di dalam kekristenan. Berbagai tujuan & agenda pribadi yang memberi warna lain dari warna yang diberikan Yesus, mendatangkan banyak kesalahpahaman & kebingungan di dalam Tubuh Kristus (baca: gereja).


Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Lukas 10:3)

Yang harus kita minta agar Tuhan mengirimkan kepada kita ialah "pekerja," bukan artis, CEO, bisnisman, maupun musisi handal. Mintalah pekerja!

Hari-hari ini kata "melayani" sering digunakan oleh orang-orang tertentu untuk mendapatkan pengaruh, kendali, popularitas maupun uang. Kata ini telah diselewengkan begitu rupa sehingga banyak orang mulai bersikap curiga kepada pelayanan-pelayanan sejati.

Melayani adalah cara Allah mengikis daging kita. Pelayanan yang sejati bukan memberikan kenyamanan kepada daging. Melalui pelayanan kita dipanggil untuk mendahulukan orang lain. Ini tentu sangat bertentangan dengasifat dasarvmanusia yang memiliki kecenderungan untuk bersikap egois.

Suatu hari saya begitu kelelahan dengan berbagai aktifitas & kesibukan yang ada. Bahkan hal-hal kecil pun begitu menyibukan & menguras energi saya. Dalam keadaan letih, saya masih harus berhadapan dengan sikap orang lain yang cukup "bossy" (sok main suruh & perintah). Saat kejengkelan mulai menyelinap masuk, Roh Kudus pun tidak kalah cepat untuk memanfaatkan peluang untuk memuridkan seorang murid yang sedang tidak siap belajar.

Di tengah kelelahan saya, Roh Kudus berbisik: "Kamu melayani karena kamu pemimpin! Melayani adalah cara Alkitabiah untuk menjadi besar!" Melayani adalah jalan menuju promosi ilahi!" Tiba-tiba saja keletihan & perasaan jengkel saya terangkat. Seandainya saja banyak orang Kristen memahami agenda Allah dibalik situasi tidak menyenangkan di mana kita merasa seperti "kacung," namun pada saat itulah Allah sedang mempersiapkan kita; kita tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Kesempatan-kesempatan besar seringkali bersembunyi di balik perkara-perkara kecil.

"Mengapa semuanya harus aku yang mengerjakannya?"
"Mengapa aku selalu disuruh-suruh sama orang ini?"
"Mengapa dia harus memintanya dengan cara (bicara) seenaknya seperti itu?"
"Tidakkah dia bisa bilang terima kasih atas semua yang sudah aku lakukan?"
"Apakah semua pengorbananku ini tidak artinya buat dia?"

Pernahkah anda merasakan perasaan-perasaan ini?

Harga diri kita seperti ditabrak dengan keras. Kadang kita berpikir, kalau terus dibiarkan nanti jadi seenaknya... atau kalau dibiarkan nanti seperti si ini, si anu, kasus keluarga ini, kasus perusahaan itu (& berbagai skenario lainnya).

Tidak dapat dipungkiri bahwa selalu saja ada orang-orang yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain. Dari teman, keluarga, pemimpin, bahkan partner pelayanan.

Ada kalanya saya lelah dengan sikap orang-orang tertentu. Dalam keadaan kesal, hindari untuk membuat kesimpulan. Kesimpulan yang salah akan menghasilkan tanggapan yang salah. Kenali "waktu kebodohan" kita, yaitu saat di mana kita paling sulit untuk menguasai diri.

Kesimpulan yang saya buat di tengah-tengah kekesalan, membuat saya kehilangan kelemahlembutan & kerendahan hati. Sikap satu dua orang yang menganggu, membuat saya membangun benteng kepada banyak orang. Saya sering sekali menggunakan kata "insecure" (tidak aman). Sampai tiba-tiba saya menyadari bahwa kata tersebut telah menyerga saya dengan diam-diam.

Saya pernah membaca sebuah buku yang bercerita tentang kehidupan Herodes. Dibalik tahta & kekuasaanya, Herodes adalah seorang pria yang "insecure" (tidak akan) dengan dirinya & keberadaan orang lain disekelilingnya. Herodes yang berbakat berubah menjadi Herodes yang keji, yang tidak sayang membunuh siapa pun (termasuk para kerabatnya), yang keberadaannya mendatangkan rasa tidak aman (insecure) dalam diri Herodes.

Roh Herodes adalah roh pembunuh potensi. Spiritual abortion (aborsi rohani) menjadi strategi pemimpin yang tidak aman dengan keberadaan orang lain, untuk menyingkirkan setiap orang yang ada di jalan mereka, karena takut kehilangan apa yang ia miliki hari ini.

Roh apa yang sedang menunggangi kepemimpinan kita? Roh Anak Domba yang lemah lembut atau roh Herodes yang licik & berbahaya?

Kepemimpinan bukan hanya soal skill, tetapi juga soal roh. Roh apa yang adapada kepemimpinan kita? Jika Roh Kristus yang menjadi nafas pelayanan kita, maka IA akan memberikan kita identitas & rasa berharga yang berakar di dalam karya penebusanNya sehingga kita dapat mengalahkan perasaan-perasaan "insecure" pada saat kita melayani dengan sikap hati & motivasi yang benar.

Jangan biarkan perlakuan buruk orang lain membuat kita kehilangan sikap hati & motivasi yang benar dalam melayani Allah & jiwa-jiwa.