Minggu, 03 Mei 2015

WHAT KIND OF A SPIRIT YOU ARE?

Ada kalanya kita merasa segalanya baik-baik saja, tapi sesungguhnya kita sedang kehilangan api. Mungkin kita perlu berhenti sejak untuk melihat ke dalam diri kita, memeriksa dengan jujur segala persiapan kita & mengenali gerak hati kita. Apakah kamu terluka? Mungkin tidak. Apakah ada sesuatu yang mengganjal di hatimu tentang seseorang? Mungkin iya. Ganjalan-ganjalan di hati kita terkadang dapat mencuri api Allah dari hidup kita. Tiba-tiba pelayanan kita tidak seperti biasanya. Api tersebut padam perlahan. Bahkan terkadang kita masih mengira api tersebut masih menyala, ternyata tidak.

Bahkan terkadang api yang menyala di hati kita adalah jenis api yang salah!

Jika kita Lukas 9:55 di dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia, maka ada satu kalimat yang hilang di ayat tersebut. 

"Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka."
(Lukas 9:55)

But He turned and rebuked them, [and said, "You do not know what kind of spirit you are of; for the Son of Man did not come to destroy men's lives, but to save them." ] And they went on to another village.
(Luke‬ ‭9‬:‭55-56‬ NASB)

Penting bagi kita untuk selalu memeriksa, spirit (roh) macam apa yang mendasari pelayanan kita? 

Ketika itu, murid-murid sedang di utus pergi ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Murid-murid Yesus sedang melayani Dia, ketika akhirnya mereka melayani masalah. Masalah tersebut mereka tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus.

"Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?"

JANGAN BERUSAHA MENYELESAIKAN MASALAH DENGAN SPIRIT YANG SALAH!

Jangan melayani pekerjaan Tuhan dengan spirit yang salah!

Jangan hanya memeriksa pekerjaan pelayanan kita, tetapi periksa juga roh (spirit) apa yang mendasari setiap tindakan kita.

Hari-hari ini kita menemukan banyak pelayanan yang baik, bahkan hebat & luar biasa, namun tidak lahir & mengalir dari spirit yang benar.

ROH YANG TERLUKA
ROH YANG AROGAN
ROH YANG INDEPENDEN
ROH YANG EKLUSIF

Spirit yang salah dapat membuat sesuatu yang rohani berubah menjadi pekerjaan daging.

"Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." (Roma 8:6-8)

Ketika murid-murid hendak menawarkan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan spirit yang salah, maka Yesus MENGHARDIK mereka. Menghardik merupakan sebuah kata yang biasanya dikenakan untuk Iblis. Ketika Yesus mengusir roh-roh jahat, maka digunakanlah kata "menghardik." Ketika kita berusaha menyelesaikan sebuah masalah dengan spirit yang salah, maka kita sedang membuka ruang bagi pekerjaan roh-roh jahat. 

Pelayanan yang dilakukan dengan spirit yang salah berpotensi menghancurkan hidup rohani seseorang. Di dalam pelayanan, target kita ialah menyelamatkan, bukan menghancurkan hidup rohani seseorang.

Persiapan-persiapan kita dalam pelayanan, harus melampaui persiapan-persiapan teknis. Banyak orang lebih suka & menghabiskan banyak waktu untuk persiapan-persiapan teknis, daripada persiapan roh. Kita perlu punya persiapan untuk dapat melayani pekerjaan Tuhan dengan spirit yang benar. Kondisi spirit yang salah dapat membawa kita pada arah pelayanan yang salah.

Ada kalanya kita perlu berdiam diri & menenangkan hati agar dapat mempersiapkan spirit yang tepat untuk mengatasi konflik. Melayani Tuhan & berusaha menyelesaikan masalah dengan spirit yang salah, mahal harganya.

Lukas 9:56 mengatakan: Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

What??? Yesus mengalah???

Yes! Yesus sedang memberitahu kita bahwa lebih baik mengalah daripada harus memperjuangkan sesuatu namun apa yang kita lakukan sebenarnya lahir dari spirit yang salah.

Meskipun identitas kita ialah umat Yang Lebih Dari Pemenang, nmun dalam banyak kesempatan Tuhan mau kita mengalah. Terkadang "mengalah" membantu kita untuk mempertahankan spirit yang baik. Namun ingat, jangan mengalah dengan bersungut-sungut! Jangan mengalah dalam sebuah konflik, namun kita melakukannya dengan spirit yang salah. Mengalahlah dengan sikap hati yang benar. Mengalah  merupakan ekspresi iman! Kita mempercayai Allah bahwa segala sesuatu tetap berada di dalam kendali Allah, jika kita senantiasa melibatkan Dia di dalam segala perkara.

Jumat, 01 Mei 2015

MEMBERESKAN SIKAP PENGECUT DI DIRI KITA

Suatu kali saya merasakan dorongan Roh Kudus untuk berdoa bagi seseorang. Maksud saya, berdoa langsung untuk seseorang yang bukan Kristen. Pikiran saya menyimpulkan, orang tersebut tidak memiliki masalah yang berarti. Riskan rasanya menawarkan diri untuk berdoa untuknya. Kesempatan berupa waktu yang cukup untuk mengubah keputusan saya telah Allah berikan. Namun yang menahan saya untuk tidak melakukannya ialah: sikap pengecut yang saya miliki.

Setelah kesempatan tersebut pergi, ada penyesalan & rasa bersalah di hati saya. Logika saya telah mengalahkan dorongan Roh Kudus. Rasa bersalah yang saya rasakan membantu saya untuk mengenali sesuatu di dalam diri saya. Sikap pengecut. Itulah yang harus ditaklukkan.

Kita suka jika terlihat berani di mata orang lain. Kita tidak ingin mereka tahu bahwa sebetulnya kita pengecut.

Allah perlu berulang kali menguji hati kita, agar kita dapat membereskan berbagai penghalangi bagi kehidupan yang berbuah. Pagi ini saya sedang membaca sebuah buku yang berjudul Broken For A Purpose yang ditulis oleh Gissela Yohannan. Ada sebuah kutipan menarik yang saya temukan di buku itu.

But why would God want to test anyone if He is  all-knowing, as the Bible says in these and many other Scriptures: 

“For the LORD searches all hearts, and understands every intent of the thoughts” (1 Chronicles 28:9).

 “For He knows the secrets of the heart” (Psalm 44:21).
 “. . . and able to judge the thoughts and intentions of the heart. . . . All things are open and laid bare to the eyes of Him” (Hebrews 4:12–13).

"He did not need any one to bear witness concerning man for He Himself knew what was in  man” (John 2:25). 

According to these verses, God doesn’t need to see the results from my testing. He knows me perfectly without it. So why then would He want to test me? Because He wants me to see the truth about my life as well! The test is not at all for Him. The test is for me, because I don’t know my own heart!

Allah menguji kita bukan karena Ia ingin mengetahui sesuatu tentang diri kita. Ia adalah Allah Yang Maha Tahu. Ia telah mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam kita. Allah menguji kita untuk membantu kita mengenali diri kita sendiri. Ada pewahyuan diri (self-revelation) yang hendak ia singkapkan kepada kita. Sebuah langkah bagi perubahan yang menjadi tanggungjawab kita.

Hidup kita setiap hari harus digerakkan oleh sense of urgency. Melakukan kehendak Allah, mengasihi Allah & sesama serta melakukan Amanat Agung melupakan sesuatu yang urgent untuk kita lakukan. Sifat pengecut di dalam diri kita akan menghalangi kita untuk menyelesaikan misi yang Allah berikan.

Sikap pengecut lahir karena kita terlalu mencintai diri kita sendiri. Kita hanya mengejar apa yang baik, apa yang nyaman, aman & menyenangkan bagi kita. Kita menghindar dari resiko yang harus bersedia kita hadapi untuk hidup dalam rencana Allah. Kita takut dengan konflik. Dan berusaha menghindar dari ketidaknyamanan & rusaknya sebuah hubungan, ketika Allah hendak membawa kita untuk mengerjakan misi Kerajaan-Nya.

Kita perlu bertobat dari "sikap pengecut" yang kita miliki. Sikap pengecut yang menandai ketidakmatangan jiwa kita. Sikap pengecut ini perlu disalibkan. Sikap pengecut yang membuat kita sama seperti Simon Petus, hanya pandai bicara tapi tidak melakukan apa yang kita katakan. Simon Petrus menyesali sikap pengecutnya yang membawa dirinya menyangkal Yesus tiga kali. Ia berani hanya ketika situasinya mendukung. Peristiwa Jumat Agung menjadi sebuah pewahyuan diri yang menyingkapkan "sikap pengecut" yang ada di dalam diri Simon. Dan hari itu, Yesus mati bagi disalibkan bagi sikap pengecut Simon, supaya Simon memiliki keberanian untuk hidup & menyelesaikan kehendak Allah.


KETIKA TUHAN MENYINGKAPKAN KETAKUTAN, KEMARAHAN & KELEMAHAN KITA

Kadang kita berusaha membenarkan kemarahan kita... karena memang kita merasa benar. Apa yang membuat kita marah, seringkali menyingkapkan titik-titik kelemahan kita. Biasanya berupa sebuah ketakutan yang harus di atasi, sebelum akhirnya membatasi hidup kita untuk mengerjakan hal-hal yang besar bersama dengan Allah. Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah buku karangan seorang teolog bernama R.C. Sproul yang berjudul "What Can I Do With My Guilt?" Melalui buku tersebut saya belajar bahwa RASA BERSALAH seharusnya membawa kita pada REAL FORGIVENESS and REAL REPENTANCE. Rasa bersalah tidak selamanya buruk. Iblis dapat menggunakan rasa bersalah untuk menuduh (accuse) kita; namun Roh Kudus dapat menggunakan rasa bersalah untuk menyadarkan & meyakinian kita akan kehendak Allah.

Ketakutan-ketakutan kita seringkali menjadi penyebab dari kemarahan-kemarahan kita. Semakin banyak ketakutan yang kita miliki, sebanyak sering kita marah. Mungkinkah ketika kita menemukan orang yang sering marah, sebenarnya kita juga menemukan orang yang takut. Terkadang (mungkin tidak semua orang), orang yang marah adalah orang yang memiliki ketakutan.

Melalui kemarahan-kemarahan saya, saya belajar mengenali ketakutan-ketakutan saya. Tidak perlu terlalu "mellow" dan hanyut dengan perasaan mengasihani diri.... setiap kali saya merasa gagal, saya belajar memutuskan untuk cepat bangkit. Pekerjaan Allah begitu besar & banyak. Tidak ada waktu untuk mengasihani diri. Orang yang sering mengasihani diri adalah orang yang kalah. Setiap kesalahan yang kita buat harus dengan segera membawa kita ke kaki salib Kristus & menerima kasih karunia-Nya yang menyembuhkan jiwa kita dari rasa bersalah & perasaan tidak layak.

Tidak terlalu sulit untuk mengenali kelemahan-kelemahan saya ketika kemarahan mulai muncul. Yang lebih sulit adalah: menyingkarkan ketakutan mengenai "pandangan orang lain" ketika mereka mengetahui kelemahan saya. Atau lebih tajamnya lagi, bagaimana pandangan orang yang tidak / kurang mengenal saya jika mereka memgetahui titik-titik kelemahan saya. Orang-orang yang telah mengenal kita, biasanya mudah membuat kita merasa aman & nyaman. Namun, orang yang baru mengenal kita... kita baru mulai menentukan dengan reputasi seperti apa kita akan dikenal. Reputasi seseorang mudah melekat dalam diri seseorang. Bahkan secara umum, reputasi yang buruk lebih sulit disingkirkan daripada reputasi yang baik. Reputasi yang terbentuk dalam benak seseorang tentang kita, biasanya akan menjadi semacam kacamata yang akan digunakan untuk menilai kita.

Beberapa waktu terakhir ini, saya menyadari bahwa penilaian yang saya buat mengenai orang lain seringkali tidak akurat. Hal tersebut bukan saja membuat saya merasa malu, tapi tiba-tiba saja saya menyadari potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya. Salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin ialah: kemampuan untuk menilai orang lain dengan benar. Penilaian-penilaian yang kita buat akan menetukan keputusan, pilihan & sikap kita terhadap seseorang. Kadang saya menyesal, mendapati diri saya salah membuat penilaian terhadap orang lain. Bahkan sebagian besar masalah yang harus saya hadapi seringkali merupakan hasil dari penilaian yang salah.

Saya kembali belajar dari NOL. Seperti anak kecil, saya seperti baru mulai belajar melihat dunia. Dunia kepemimpinan. Dunia pelayanan. Dunia hubungan dan jejaring. Saya belajar menilai orang-orang di sekitar saya dengan kacamata yang baru, yaitu: kacamata kehendak Allah. Apaa kehendak Allah atas orang itu? Pertanyaan ini jadi sering saya utarakan kepada diri saya sendiri. Kacamata kehendak Allah membantu saya membuang berbagai penghakiman, dan mulai menjadikan saya pendoa bagi orang-orang di sekitar saya.

Jonathan Pattiasina mengatakan bahwa salah satu tanda MANUSIA BARU ialah: menilai dengan kacamata yang baru. Menilai menurut ukuran Allah kata rasul Paulus.

"Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. 
Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian."
(2 Korintus 5:16)

Seringkali ketakutan & kemarahan yang kita alami, terjadi karena kita menilai segala sesuatu menurut ukuran manusia, bukan menurut ukuran Allah. Setelah kemarahan saya reda, yang tersisa ialah rasa bersalah. Kembali saya harus menggerakkan hati saya untuk datang ke salib Tuhan & kembali mengalami kasih karunia-Nya yang berlimpah atas berbagai kebodohan dalam penilaian yang saya buat.

Sebagai seorang pemimpin rohani, saya rindu untuk terus diperbaiki oleh Allah. Saya ingin hidup sebagai MANUSIA BARU yang menilai segala sesuatu menurut ukuran Allah. Saya ingin orang-orang di sekitar saya tidak takut terhadap penilaian-penilaian yangsaya buat tentang diri mereka, sekeras apa pun pesan yang saya khotbahkan. Pesan yang keras lahir karena komitmen terhadap sebuah misi untuk memanifestasikan Kristus untuk menghancurkan setiap pekerjaan-pekerjaan Iblis yang dibangun di sekitar saya; dengan tetap memiliki hati  Tuhan yang lemah lembut yang bebas dari segala prasangka, asumsi, atau ketidaksukaan untuk menilai segala sesuatu menurut ukuran Kristus. Saya hanya tidak ingin prnilaian-penilaian saya menghalangi saya untuk hidup menggenapi rencana Allah. Saya hanya tidak ingin penilaian-penilaian saya memberikan sumbangsih bagi Iblis untuk mendaratkan rencanaNya. Saya tidak ingin penilaian-penilaian saya menghalangi saya menjadi seorang prajurit yang berkenan kepada Komandannya. Saya hanya tidak ingin penilaian yang saya buat justru menghalangi orang lain untuk hidup di dalam rencana Allah.

Rabu, 11 Maret 2015

WHAT'S NEXT (THE TIME OF TRANSITION)

Malam ini saya diminta untuk berkhotbah di acara 40 hari meninggalnya seseorang. Meski pernah beberapa kali berkhotbah di ibadah penghiburan, namun ini pertama kalinya saya harus berbicara di acara 40-an. Sebagai orang Kristen, pada umumnya kita tidak mempercayai bahwa roh (arwah) orang mati gentayangan di dunia selama 40 hari baru setelah itu naik ke akhirat. Iman Kristen mempercayai bahwa ketika seseorang mati, roh mereka langsung bersama-sama dengan Tuhan di Firdaus (bagi yang mati di dalam Kristus) & berada di hades bagi mereka yang hidup di luar Kristus.

Ketika melihat kembali ke Alkitab, saya mencoba menelusuri bagaimana istilah "40 hari" digunakan. Ternyata terdapat beberapa referensi tentang waktu "40 hari."

- Pada zaman Nuh, Air Bah menyapu seluruh bumi selama 40 hari.
- Musa naik ke Gunung Sinai untuk menerima 2 Loh Batu bertuliskan Sepuluh Perintah Allah selama 40 hari.
- Dua Belas Pengintai pergi mengintai Tanah Kanaan selama 40 hari.
- Elia berjalan selama 40 hari dari padang gurun tempat ia mengasihani diri menuju gunung Horeb tempat ia menerima pewahyuan.
- Yunus memperingatkan bahwa kota Niniwe diberi waktu selama 40 hari untuk bertobat sebelum kota tersebut akan ditunggangbalikkan.
- Yesus selama 40 hari berpuasa di Padang Gurun & dicobai oleh Iblis,
- Ketika bangkit, Yesus berulang kali menampakkan diri kepada murid-muridNya & mengajar tentang Kerajaan Allah selama 40 hari.

Seluruh rangkaian keterangan Alkitab mengenai penggunaan istilah "40 hari" dapat dirangkai menjadi 2 kata, yaitu: "WHAT'S NEXT?"

40 Hari menggambarkan TIME OF TRANSITION (waktu/masa transisi).
40 Hari menggambarkan TIME LIMIT OR DEADLINE (batas waktu yang ditetapkan).

Setiap orang pasti pernah/akan mengalami masa-masa transisi dalam hidupnya. Misalnya: ketika lulus kuliah, baru kembali ke Indonesia setelah lama tinggal di luar negeri, baru menikah, baru punya anak, baru ditinggal oleh orang yang dikasihi, dll.

Ada orang-orang yang berhasil melalui masa-masa transisi ini dengan baik, sehingga mereka keluar dari aitu & BE A BETTER PERSON. Namun ada juga yang tidak bisa "move on," menjadi frustasi, mengasihi diri bahkan melakukan tindakan yang destruktif.

"Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu JANGAN BERDUKACITA SEPERTI ORANG-ORANG LAIN YANG TIDAK MEMPUNYAI PENGHARAPAN. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia." [1 Tesalonika 4:13-14]

1. TEMUKAN KEHENDAK ALLAH DI DALAM MASA-MASA TRANSISI YANG KITA SEDANG HADAPI

Jangan kehilangan suara Tuhan hanya karena kita terlalu fokus pada diri sendiri. Allah telah selesai dengan "orang yang kita kasihi" (yang telah meninggal), tetapi Tuhan belum selesai dengan kita. Jangan habiskan energi kita untuk meratap, tetapi gunakan energi kita untuk bergumul agar kita tahu what's next yang Tuhan inginkan.

2. JANGAN TAKUT UNTUK BERUBAH, UBAHLAH APA YANG PERLU DIUBAH DI MASA TRANSISI YANG SEDANG KITA HADAPI

Jangan berubah ke arah yang salah hanya karena kita dikuasai oleh emosi negatif. Pastikan kasih & kebenaran Allah menguasai hati kita, sehingga kita mampu berubah ke arah yang benar.

SERENITY PRAYER
Reinhold Niebuhr (1892-1971)

God grant me the serenity
to accept the things I cannot change; 
courage to change the things I can; 
and wisdom to know the difference.


Living one day at a time; 
enjoying one moment at a time; 
accepting hardships as the pathway to peace; 
taking, as He did, this sinful world
as it is, not as I would have it; 
trusting that He will make all things right
if I surrender to His Will; 
that I may be reasonably happy in this life
and supremely happy with Him
forever in the next. 
Amen.


3. JANGAN MENOLEH KE BELAKANG UNTUK HIDUP DI MASA LALU, SEHINGGA KITA TIDAK SIAP (LAYAK) BAGI APA YANG TUHAN INGIN KERJAKAN DI HIDUP KITA

"Masa lalu adalah tempat yang baik untuk kita belajar, namun bukan tempat yang baik untuk kita hidup di dalamnya." [Philip Yancey]

Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." [Lukas 9:62]

Orang yang hidup di masa lalu akan membuat seseorang tidak siap untuk apa yang hendak Allah kerjakan di dalam hidupnya.


Ketika masa-masa transisi datang dalam hidup anda, pastikan anda mampu UNTUK BANGKIT, berubah ke arah yang lebih baik & menjadikan masa transisi tersebut sebuah titik balik di mana anda mendapat KEKUATAN BARU untuk hidup lebih luar biasa lagi.


Sabtu, 24 Januari 2015

ATMOSFER KOMUNITAS KERAJAAN ALLAH

Gereja dibuat lelah dengan penghakiman. Orang yang pernah mengalami kasih karunia & penerimaan pun bisa berubah menjadi seorang pendakwa yang menggunakan firman Allah untuk menjatuhkan orang lain, bukan untuk menolong orang lain. Kita dipanggil untuk jujur dalam mengenali kondisi hati kita. Kadang kita menemukan atmosfer yang salah di dalam keluarga rohani yang adalah Tubuh Kristus. "Like or Dislike Factor" mewarnai cara membangun hubungan, berkomunikasi, keterlibatan dan pemberin label kepada seseorang. Sebagai pemimpin, anda harus berhati-hati ketika mendapati diri anda tidak menyukai salah seorang di gereja anda. Hati anda harus tetap netral, sikap anda harus tetap objektif. Anda harus tetap memiliki pikiran & perasaan Tuhan dalam menilai semua orang.

Untuk orang yang anda sukai, 2 + 2 harus sama dengan 4. Bukan 5. Unttuk orang yang tidak anda sukai, 2 + 2 harus sama dengan 4. Bukan 3. Bisakah kita memandang semua orang di gereja dengan 2 + 2 sama dengan 4?

Hal ini bukan berarti kita menutup mata terhadap kelemahan atau kelebihan orang lain. Sebagai manusia baru, kita harus memiliki cara menilai yang baru terhadap setiap orang. Kita tidak hanya melihat mereka sebagaimana adanya mereka hari ini, melainkan apa yang menjadi rencana Allah atas orang tersebut.

Yesus tidak pernah menyerah dengan kegagalan Petrus. Allah memberikan kesempatan kedua kepada Yunus untuk pergi ke Niniwe setelah ia mencoba untuk kabur ke Tarsis. Yesus berkata kepada wanita yang berbuat zinah: "pergilah & jangan berbuat dosa lagi." Semua hal ini tidak sedang menunjukkan bahwa Allah mengizinkan atau membiarkan dosa & kesalahan. Allah yang kita percayai adalah Allah yang percaya kepada kita. Ken Blanchard pernah mengatakan, jika sebagai pemimpin kita ingin memberdayakan orang lain, maka kita hars berani mempercayai mereka. Meskipun mereka berulang kali gagal atau menunjukkan sikap tidak bisa dipercaya karena berulang kali mereka mengulangi kebodohan yang sama, jika kita ingin memberdayakan mereka maka kita harus mempercayai mereka. Putuskan untuk percaya mereka melampaui semua fakta & kenyataan yang anda lihat tentang seseorang. Kepemimpinan memerlukan iman. Kita harus mempercayai & melibatkan Allah dalam setiap proses kepemimpinan ketika kita sedang memperlengkapi & memberdayakan orang lain.

Seorang pemimpin harus mendengarkan Allaah, sebelum ia ingin didengarkan orang lain.

Menghakimi berarti memberikan penilaian secara salah. Menghakimi juga bisa berarti memiliki sikap yang salah terhadap penilaian yang benar. Sikap menghakimi selalu diawali dari sikap hati yang salah tentang orang lain.

Di satu pihak, kita dipanggil untuk tidak menghakimi orang lain. Namun di sisi lain, kita tidak perlu takut dihakimi oleh orang lain. Just do your best! Hiduplah begitu luar biasa, sehingga penghakiman & penilaian yang salah dari orang lain terbukti salah. Ingatlah, bahwa jika kita hidup tidak benar & orang lain menilai kita tidak benar karena mereka mengetahui ketidakbenaran yang kita lakukan, anggaplah hal tersebut sebagai koreksi bukan penghakiman. Sepanjang saya belajar menjadi seorang pemimpin, saya belajar untuk tidak takut terhadap penghakiman orang sepanjang kita memiliki kehidupan yang benar & selalu memberi yang terbaik.

Hari-hari ini, gereja sangat perlu memiliki atmosfer komunitas yang benar. Jika kita tidak mengusahakan atmosfer komunitas yang benar, maka Iblis akan mudah bekerja di dalam gereja kita. Atmosfer gereja yang benar bukan berarti tidak ada konflik atau gesekan, tidak ada masalah. Atmosfer gereja yang benar membuat setiap pribadi (di mulai dari para pemimpinnya), untuk membuat keputusan untuk merespon sesuai dengan firman & mentalitas Kerajaan Allah.

Komunitas kita harus menjadi komunitas Kerajaan Allah di mana budaya & nilai-nilai Kerajaan Allah menjadi penentu atmosfer komunitas kita. Komunitas Kerajaan Allah adalah komunitas yang hidup di bawah pemerintahan Allah, bukan dikendalikan oleh emosi, pikiran negatif atau sentimen pribadi.

Gereja sebagai komunitas harus menjadi model bagi seluruh hubungan yang ada di dunia. "Gaya hidup saling" yang kita miliki lahir sebagai ekspresi penghormatan kita kepada Allah serta komitmen kita terhadap nilai-nilai & tujuan Kerajaan-Nya untuk mengembalikan setiap orang pada rencana Allah semula.

Senin, 24 November 2014

EXCUSE ME, YOUR ATTITUDE IS SHOWING by Dr. John C. Maxwell

Leaders are readers of people. They study a person like they would a book, by paying careful attention to words. If you listen careful to the words someone says, you will learn a lot about that person. Specifically, you’ll discover the person’s attitude toward life, which reveals his or her gratitude for life.

A positive attitude can be a person’s greatest asset. In fact, an upbeat attitude can take people to places that their ability could never carry them on its own. Attitude acts like a booster rocket, lifting people to a higher altitude than they could otherwise climb.

Oftentimes, motivational speakers present attitude like a magic tonic or cure-all for every ailment, but attitude isn’t everything. Some people have awesome attitudes and yet are awfully incompetent. While attitude alone won’t guarantee success, attitude is a difference-maker. All else being equal, attitude gives an advantage or edge over the competition. Therefore, whenever you have a choice to make between two business partners, vendors, or job candidates with similar credentials, pick the one with the better attitude.

A person’s attitude is more apparent in some conditions than in others. Here are three situations in which a person’s true attitude is likely to surface.

WHEN THEY EXPERIENCE NEGATIVE FEELINGS

A gray, rainy day reveals a lot about a person’s attitude by showing how they respond to negative emotions. In the face of difficult feelings, some people are like tumbleweed tossed about by the wind; they go whichever way their emotions blow them. Positive people are not controlled by atmosphere but by their attitude. It provides a rootedness that prevents them from being susceptible to fluctuating moods. Whiners want to feel good before acting; winners do what’s right regardless of how they feel and then experience positive emotions as a result of their actions.

WHEN THEY MUST DEAL WITH MUNDANE DETAILS

It’s said that the devil is in the details, and some people behave like devils when they have to deal with the less-than-thrilling aspects of their jobs. Every occupation has its inglorious tasks, and how a leader handles them says a lot about her attitude. The more a person complains, the less he’ll attain. Conversely, by approaching even minor responsibilities with positivity and a sense of purpose, a person sets himself up for success.

WHEN THEY FACE ADVERSITY

People either shrink from adversity or rise to meet it—largely on account of their attitude toward life. Thankfulness shines brightest during tribulation. Saint Paul exhorted his readers to “rejoice always” and to “give thanks in all circumstances.” When we encounter adversity, we can counter anxiety with appreciativeness. When we are grateful, fear disappears and faith appears.
 


Jumat, 03 Oktober 2014

Prinsip-Prinsip Rohani Tidak Dapat Menggantikan Tuntunan Allah Atas Hidup Kita

Pesan Tuhan untuk saya memasuki tahun 2014 ialah: Hiduplah oleh Roh... Berilah dirimu dipimpin oleh Roh. Meskipun hal ini terdengar hal yang umum & biasa, namun pesan tersebut bergolak dengan kuat di dalam diri saya.

Harus saya akui bahwa terkadang lebih mudah bagi saya untuk dipimpin oleh pikiran saya. Pengetahuan yang saya peroleh dari membaca banyak buku & pengalaman pelayanan yang saya miliki, menjadi tantangan tersendiri untuk hidup oleh Roh.

Mengacu pada Roma 8, jelas bahwa inti hidup Kristen kita ialah hidup oleh Roh. Tidak ada pertumbuhan rohani yang sejati tanpa hidup oleh Roh. Management, strategy, koneksi & trend, dapat menggantikan peran pimpinan Roh Kudus dalam kepemimpinan seseorang pemimpin rohani.

Saya mendapati bahwa ada pemimpin-pemimpin yang terlalu idealis memegang prinsip hingga ia mengabaikan pimpinan Roh Kudus. Prinsip-prinsip yang baik menjadi lebih penting daripada Allah. Prinsip-prinsip rohani sekalipun tidak dapat menggantikan pimpinan Allah atas hidup kita.

Jangan pegang prinsip begitu erat hanya supaya dibilang "tegas." Kita perlu memahami bahwa Allah tidak menuntun kita dengan prinsip, melainkan melalui Pribadi-Nya. Prinsip-prinsip yang kita pegang bisa menjadi "Taurat baru" yang menuntun kita dari luar, namun mengabaikan tuntunan Roh Kudus dari dalam kita.

Apa yang kita butuhkan bukanlah prinsip lebih banyak. Bukan juga prinsip-prinsip hebat yang terdengar "mind-blowing." Kita membutuhkan Allah lebih daripada kita membutuhkan prinsip-prinsip rohani terkini.

Saya tidak ingin berjalan terlalu jauh dengan pengertian yang salah. Saya ingin berjalan lebih jauh bersama dengan Allah. Saya menyadari bahwa kepemimpinan saya tidak sempurna. Saya harus berulang kali berlutut di hadapan Tuhan & menyadari bahwa saya membutuhkanNYA untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang IA percayakan untuk saya lakukan.

Minggu, 03 Mei 2015

Ada kalanya kita merasa segalanya baik-baik saja, tapi sesungguhnya kita sedang kehilangan api. Mungkin kita perlu berhenti sejak untuk melihat ke dalam diri kita, memeriksa dengan jujur segala persiapan kita & mengenali gerak hati kita. Apakah kamu terluka? Mungkin tidak. Apakah ada sesuatu yang mengganjal di hatimu tentang seseorang? Mungkin iya. Ganjalan-ganjalan di hati kita terkadang dapat mencuri api Allah dari hidup kita. Tiba-tiba pelayanan kita tidak seperti biasanya. Api tersebut padam perlahan. Bahkan terkadang kita masih mengira api tersebut masih menyala, ternyata tidak.


Bahkan terkadang api yang menyala di hati kita adalah jenis api yang salah!

Jika kita Lukas 9:55 di dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia, maka ada satu kalimat yang hilang di ayat tersebut. 

"Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka."
(Lukas 9:55)

But He turned and rebuked them, [and said, "You do not know what kind of spirit you are of; for the Son of Man did not come to destroy men's lives, but to save them." ] And they went on to another village.
(Luke‬ ‭9‬:‭55-56‬ NASB)

Penting bagi kita untuk selalu memeriksa, spirit (roh) macam apa yang mendasari pelayanan kita? 

Ketika itu, murid-murid sedang di utus pergi ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Murid-murid Yesus sedang melayani Dia, ketika akhirnya mereka melayani masalah. Masalah tersebut mereka tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus.

"Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?"

JANGAN BERUSAHA MENYELESAIKAN MASALAH DENGAN SPIRIT YANG SALAH!

Jangan melayani pekerjaan Tuhan dengan spirit yang salah!

Jangan hanya memeriksa pekerjaan pelayanan kita, tetapi periksa juga roh (spirit) apa yang mendasari setiap tindakan kita.

Hari-hari ini kita menemukan banyak pelayanan yang baik, bahkan hebat & luar biasa, namun tidak lahir & mengalir dari spirit yang benar.

ROH YANG TERLUKA
ROH YANG AROGAN
ROH YANG INDEPENDEN
ROH YANG EKLUSIF

Spirit yang salah dapat membuat sesuatu yang rohani berubah menjadi pekerjaan daging.

"Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." (Roma 8:6-8)

Ketika murid-murid hendak menawarkan solusi untuk menyelesaikan masalah dengan spirit yang salah, maka Yesus MENGHARDIK mereka. Menghardik merupakan sebuah kata yang biasanya dikenakan untuk Iblis. Ketika Yesus mengusir roh-roh jahat, maka digunakanlah kata "menghardik." Ketika kita berusaha menyelesaikan sebuah masalah dengan spirit yang salah, maka kita sedang membuka ruang bagi pekerjaan roh-roh jahat. 

Pelayanan yang dilakukan dengan spirit yang salah berpotensi menghancurkan hidup rohani seseorang. Di dalam pelayanan, target kita ialah menyelamatkan, bukan menghancurkan hidup rohani seseorang.

Persiapan-persiapan kita dalam pelayanan, harus melampaui persiapan-persiapan teknis. Banyak orang lebih suka & menghabiskan banyak waktu untuk persiapan-persiapan teknis, daripada persiapan roh. Kita perlu punya persiapan untuk dapat melayani pekerjaan Tuhan dengan spirit yang benar. Kondisi spirit yang salah dapat membawa kita pada arah pelayanan yang salah.

Ada kalanya kita perlu berdiam diri & menenangkan hati agar dapat mempersiapkan spirit yang tepat untuk mengatasi konflik. Melayani Tuhan & berusaha menyelesaikan masalah dengan spirit yang salah, mahal harganya.

Lukas 9:56 mengatakan: Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

What??? Yesus mengalah???

Yes! Yesus sedang memberitahu kita bahwa lebih baik mengalah daripada harus memperjuangkan sesuatu namun apa yang kita lakukan sebenarnya lahir dari spirit yang salah.

Meskipun identitas kita ialah umat Yang Lebih Dari Pemenang, nmun dalam banyak kesempatan Tuhan mau kita mengalah. Terkadang "mengalah" membantu kita untuk mempertahankan spirit yang baik. Namun ingat, jangan mengalah dengan bersungut-sungut! Jangan mengalah dalam sebuah konflik, namun kita melakukannya dengan spirit yang salah. Mengalahlah dengan sikap hati yang benar. Mengalah  merupakan ekspresi iman! Kita mempercayai Allah bahwa segala sesuatu tetap berada di dalam kendali Allah, jika kita senantiasa melibatkan Dia di dalam segala perkara.

Jumat, 01 Mei 2015

Suatu kali saya merasakan dorongan Roh Kudus untuk berdoa bagi seseorang. Maksud saya, berdoa langsung untuk seseorang yang bukan Kristen. Pikiran saya menyimpulkan, orang tersebut tidak memiliki masalah yang berarti. Riskan rasanya menawarkan diri untuk berdoa untuknya. Kesempatan berupa waktu yang cukup untuk mengubah keputusan saya telah Allah berikan. Namun yang menahan saya untuk tidak melakukannya ialah: sikap pengecut yang saya miliki.


Setelah kesempatan tersebut pergi, ada penyesalan & rasa bersalah di hati saya. Logika saya telah mengalahkan dorongan Roh Kudus. Rasa bersalah yang saya rasakan membantu saya untuk mengenali sesuatu di dalam diri saya. Sikap pengecut. Itulah yang harus ditaklukkan.

Kita suka jika terlihat berani di mata orang lain. Kita tidak ingin mereka tahu bahwa sebetulnya kita pengecut.

Allah perlu berulang kali menguji hati kita, agar kita dapat membereskan berbagai penghalangi bagi kehidupan yang berbuah. Pagi ini saya sedang membaca sebuah buku yang berjudul Broken For A Purpose yang ditulis oleh Gissela Yohannan. Ada sebuah kutipan menarik yang saya temukan di buku itu.

But why would God want to test anyone if He is  all-knowing, as the Bible says in these and many other Scriptures: 

“For the LORD searches all hearts, and understands every intent of the thoughts” (1 Chronicles 28:9).

 “For He knows the secrets of the heart” (Psalm 44:21).
 “. . . and able to judge the thoughts and intentions of the heart. . . . All things are open and laid bare to the eyes of Him” (Hebrews 4:12–13).

"He did not need any one to bear witness concerning man for He Himself knew what was in  man” (John 2:25). 

According to these verses, God doesn’t need to see the results from my testing. He knows me perfectly without it. So why then would He want to test me? Because He wants me to see the truth about my life as well! The test is not at all for Him. The test is for me, because I don’t know my own heart!

Allah menguji kita bukan karena Ia ingin mengetahui sesuatu tentang diri kita. Ia adalah Allah Yang Maha Tahu. Ia telah mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam kita. Allah menguji kita untuk membantu kita mengenali diri kita sendiri. Ada pewahyuan diri (self-revelation) yang hendak ia singkapkan kepada kita. Sebuah langkah bagi perubahan yang menjadi tanggungjawab kita.

Hidup kita setiap hari harus digerakkan oleh sense of urgency. Melakukan kehendak Allah, mengasihi Allah & sesama serta melakukan Amanat Agung melupakan sesuatu yang urgent untuk kita lakukan. Sifat pengecut di dalam diri kita akan menghalangi kita untuk menyelesaikan misi yang Allah berikan.

Sikap pengecut lahir karena kita terlalu mencintai diri kita sendiri. Kita hanya mengejar apa yang baik, apa yang nyaman, aman & menyenangkan bagi kita. Kita menghindar dari resiko yang harus bersedia kita hadapi untuk hidup dalam rencana Allah. Kita takut dengan konflik. Dan berusaha menghindar dari ketidaknyamanan & rusaknya sebuah hubungan, ketika Allah hendak membawa kita untuk mengerjakan misi Kerajaan-Nya.

Kita perlu bertobat dari "sikap pengecut" yang kita miliki. Sikap pengecut yang menandai ketidakmatangan jiwa kita. Sikap pengecut ini perlu disalibkan. Sikap pengecut yang membuat kita sama seperti Simon Petus, hanya pandai bicara tapi tidak melakukan apa yang kita katakan. Simon Petrus menyesali sikap pengecutnya yang membawa dirinya menyangkal Yesus tiga kali. Ia berani hanya ketika situasinya mendukung. Peristiwa Jumat Agung menjadi sebuah pewahyuan diri yang menyingkapkan "sikap pengecut" yang ada di dalam diri Simon. Dan hari itu, Yesus mati bagi disalibkan bagi sikap pengecut Simon, supaya Simon memiliki keberanian untuk hidup & menyelesaikan kehendak Allah.


Kadang kita berusaha membenarkan kemarahan kita... karena memang kita merasa benar. Apa yang membuat kita marah, seringkali menyingkapkan titik-titik kelemahan kita. Biasanya berupa sebuah ketakutan yang harus di atasi, sebelum akhirnya membatasi hidup kita untuk mengerjakan hal-hal yang besar bersama dengan Allah. Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah buku karangan seorang teolog bernama R.C. Sproul yang berjudul "What Can I Do With My Guilt?" Melalui buku tersebut saya belajar bahwa RASA BERSALAH seharusnya membawa kita pada REAL FORGIVENESS and REAL REPENTANCE. Rasa bersalah tidak selamanya buruk. Iblis dapat menggunakan rasa bersalah untuk menuduh (accuse) kita; namun Roh Kudus dapat menggunakan rasa bersalah untuk menyadarkan & meyakinian kita akan kehendak Allah.


Ketakutan-ketakutan kita seringkali menjadi penyebab dari kemarahan-kemarahan kita. Semakin banyak ketakutan yang kita miliki, sebanyak sering kita marah. Mungkinkah ketika kita menemukan orang yang sering marah, sebenarnya kita juga menemukan orang yang takut. Terkadang (mungkin tidak semua orang), orang yang marah adalah orang yang memiliki ketakutan.

Melalui kemarahan-kemarahan saya, saya belajar mengenali ketakutan-ketakutan saya. Tidak perlu terlalu "mellow" dan hanyut dengan perasaan mengasihani diri.... setiap kali saya merasa gagal, saya belajar memutuskan untuk cepat bangkit. Pekerjaan Allah begitu besar & banyak. Tidak ada waktu untuk mengasihani diri. Orang yang sering mengasihani diri adalah orang yang kalah. Setiap kesalahan yang kita buat harus dengan segera membawa kita ke kaki salib Kristus & menerima kasih karunia-Nya yang menyembuhkan jiwa kita dari rasa bersalah & perasaan tidak layak.

Tidak terlalu sulit untuk mengenali kelemahan-kelemahan saya ketika kemarahan mulai muncul. Yang lebih sulit adalah: menyingkarkan ketakutan mengenai "pandangan orang lain" ketika mereka mengetahui kelemahan saya. Atau lebih tajamnya lagi, bagaimana pandangan orang yang tidak / kurang mengenal saya jika mereka memgetahui titik-titik kelemahan saya. Orang-orang yang telah mengenal kita, biasanya mudah membuat kita merasa aman & nyaman. Namun, orang yang baru mengenal kita... kita baru mulai menentukan dengan reputasi seperti apa kita akan dikenal. Reputasi seseorang mudah melekat dalam diri seseorang. Bahkan secara umum, reputasi yang buruk lebih sulit disingkirkan daripada reputasi yang baik. Reputasi yang terbentuk dalam benak seseorang tentang kita, biasanya akan menjadi semacam kacamata yang akan digunakan untuk menilai kita.

Beberapa waktu terakhir ini, saya menyadari bahwa penilaian yang saya buat mengenai orang lain seringkali tidak akurat. Hal tersebut bukan saja membuat saya merasa malu, tapi tiba-tiba saja saya menyadari potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya. Salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin ialah: kemampuan untuk menilai orang lain dengan benar. Penilaian-penilaian yang kita buat akan menetukan keputusan, pilihan & sikap kita terhadap seseorang. Kadang saya menyesal, mendapati diri saya salah membuat penilaian terhadap orang lain. Bahkan sebagian besar masalah yang harus saya hadapi seringkali merupakan hasil dari penilaian yang salah.

Saya kembali belajar dari NOL. Seperti anak kecil, saya seperti baru mulai belajar melihat dunia. Dunia kepemimpinan. Dunia pelayanan. Dunia hubungan dan jejaring. Saya belajar menilai orang-orang di sekitar saya dengan kacamata yang baru, yaitu: kacamata kehendak Allah. Apaa kehendak Allah atas orang itu? Pertanyaan ini jadi sering saya utarakan kepada diri saya sendiri. Kacamata kehendak Allah membantu saya membuang berbagai penghakiman, dan mulai menjadikan saya pendoa bagi orang-orang di sekitar saya.

Jonathan Pattiasina mengatakan bahwa salah satu tanda MANUSIA BARU ialah: menilai dengan kacamata yang baru. Menilai menurut ukuran Allah kata rasul Paulus.

"Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. 
Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian."
(2 Korintus 5:16)

Seringkali ketakutan & kemarahan yang kita alami, terjadi karena kita menilai segala sesuatu menurut ukuran manusia, bukan menurut ukuran Allah. Setelah kemarahan saya reda, yang tersisa ialah rasa bersalah. Kembali saya harus menggerakkan hati saya untuk datang ke salib Tuhan & kembali mengalami kasih karunia-Nya yang berlimpah atas berbagai kebodohan dalam penilaian yang saya buat.

Sebagai seorang pemimpin rohani, saya rindu untuk terus diperbaiki oleh Allah. Saya ingin hidup sebagai MANUSIA BARU yang menilai segala sesuatu menurut ukuran Allah. Saya ingin orang-orang di sekitar saya tidak takut terhadap penilaian-penilaian yangsaya buat tentang diri mereka, sekeras apa pun pesan yang saya khotbahkan. Pesan yang keras lahir karena komitmen terhadap sebuah misi untuk memanifestasikan Kristus untuk menghancurkan setiap pekerjaan-pekerjaan Iblis yang dibangun di sekitar saya; dengan tetap memiliki hati  Tuhan yang lemah lembut yang bebas dari segala prasangka, asumsi, atau ketidaksukaan untuk menilai segala sesuatu menurut ukuran Kristus. Saya hanya tidak ingin prnilaian-penilaian saya menghalangi saya untuk hidup menggenapi rencana Allah. Saya hanya tidak ingin penilaian-penilaian saya memberikan sumbangsih bagi Iblis untuk mendaratkan rencanaNya. Saya tidak ingin penilaian-penilaian saya menghalangi saya menjadi seorang prajurit yang berkenan kepada Komandannya. Saya hanya tidak ingin penilaian yang saya buat justru menghalangi orang lain untuk hidup di dalam rencana Allah.

Rabu, 11 Maret 2015

Malam ini saya diminta untuk berkhotbah di acara 40 hari meninggalnya seseorang. Meski pernah beberapa kali berkhotbah di ibadah penghiburan, namun ini pertama kalinya saya harus berbicara di acara 40-an. Sebagai orang Kristen, pada umumnya kita tidak mempercayai bahwa roh (arwah) orang mati gentayangan di dunia selama 40 hari baru setelah itu naik ke akhirat. Iman Kristen mempercayai bahwa ketika seseorang mati, roh mereka langsung bersama-sama dengan Tuhan di Firdaus (bagi yang mati di dalam Kristus) & berada di hades bagi mereka yang hidup di luar Kristus.


Ketika melihat kembali ke Alkitab, saya mencoba menelusuri bagaimana istilah "40 hari" digunakan. Ternyata terdapat beberapa referensi tentang waktu "40 hari."

- Pada zaman Nuh, Air Bah menyapu seluruh bumi selama 40 hari.
- Musa naik ke Gunung Sinai untuk menerima 2 Loh Batu bertuliskan Sepuluh Perintah Allah selama 40 hari.
- Dua Belas Pengintai pergi mengintai Tanah Kanaan selama 40 hari.
- Elia berjalan selama 40 hari dari padang gurun tempat ia mengasihani diri menuju gunung Horeb tempat ia menerima pewahyuan.
- Yunus memperingatkan bahwa kota Niniwe diberi waktu selama 40 hari untuk bertobat sebelum kota tersebut akan ditunggangbalikkan.
- Yesus selama 40 hari berpuasa di Padang Gurun & dicobai oleh Iblis,
- Ketika bangkit, Yesus berulang kali menampakkan diri kepada murid-muridNya & mengajar tentang Kerajaan Allah selama 40 hari.

Seluruh rangkaian keterangan Alkitab mengenai penggunaan istilah "40 hari" dapat dirangkai menjadi 2 kata, yaitu: "WHAT'S NEXT?"

40 Hari menggambarkan TIME OF TRANSITION (waktu/masa transisi).
40 Hari menggambarkan TIME LIMIT OR DEADLINE (batas waktu yang ditetapkan).

Setiap orang pasti pernah/akan mengalami masa-masa transisi dalam hidupnya. Misalnya: ketika lulus kuliah, baru kembali ke Indonesia setelah lama tinggal di luar negeri, baru menikah, baru punya anak, baru ditinggal oleh orang yang dikasihi, dll.

Ada orang-orang yang berhasil melalui masa-masa transisi ini dengan baik, sehingga mereka keluar dari aitu & BE A BETTER PERSON. Namun ada juga yang tidak bisa "move on," menjadi frustasi, mengasihi diri bahkan melakukan tindakan yang destruktif.

"Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu JANGAN BERDUKACITA SEPERTI ORANG-ORANG LAIN YANG TIDAK MEMPUNYAI PENGHARAPAN. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia." [1 Tesalonika 4:13-14]

1. TEMUKAN KEHENDAK ALLAH DI DALAM MASA-MASA TRANSISI YANG KITA SEDANG HADAPI

Jangan kehilangan suara Tuhan hanya karena kita terlalu fokus pada diri sendiri. Allah telah selesai dengan "orang yang kita kasihi" (yang telah meninggal), tetapi Tuhan belum selesai dengan kita. Jangan habiskan energi kita untuk meratap, tetapi gunakan energi kita untuk bergumul agar kita tahu what's next yang Tuhan inginkan.

2. JANGAN TAKUT UNTUK BERUBAH, UBAHLAH APA YANG PERLU DIUBAH DI MASA TRANSISI YANG SEDANG KITA HADAPI

Jangan berubah ke arah yang salah hanya karena kita dikuasai oleh emosi negatif. Pastikan kasih & kebenaran Allah menguasai hati kita, sehingga kita mampu berubah ke arah yang benar.

SERENITY PRAYER
Reinhold Niebuhr (1892-1971)

God grant me the serenity
to accept the things I cannot change; 
courage to change the things I can; 
and wisdom to know the difference.


Living one day at a time; 
enjoying one moment at a time; 
accepting hardships as the pathway to peace; 
taking, as He did, this sinful world
as it is, not as I would have it; 
trusting that He will make all things right
if I surrender to His Will; 
that I may be reasonably happy in this life
and supremely happy with Him
forever in the next. 
Amen.


3. JANGAN MENOLEH KE BELAKANG UNTUK HIDUP DI MASA LALU, SEHINGGA KITA TIDAK SIAP (LAYAK) BAGI APA YANG TUHAN INGIN KERJAKAN DI HIDUP KITA

"Masa lalu adalah tempat yang baik untuk kita belajar, namun bukan tempat yang baik untuk kita hidup di dalamnya." [Philip Yancey]

Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." [Lukas 9:62]

Orang yang hidup di masa lalu akan membuat seseorang tidak siap untuk apa yang hendak Allah kerjakan di dalam hidupnya.


Ketika masa-masa transisi datang dalam hidup anda, pastikan anda mampu UNTUK BANGKIT, berubah ke arah yang lebih baik & menjadikan masa transisi tersebut sebuah titik balik di mana anda mendapat KEKUATAN BARU untuk hidup lebih luar biasa lagi.


Sabtu, 24 Januari 2015

Gereja dibuat lelah dengan penghakiman. Orang yang pernah mengalami kasih karunia & penerimaan pun bisa berubah menjadi seorang pendakwa yang menggunakan firman Allah untuk menjatuhkan orang lain, bukan untuk menolong orang lain. Kita dipanggil untuk jujur dalam mengenali kondisi hati kita. Kadang kita menemukan atmosfer yang salah di dalam keluarga rohani yang adalah Tubuh Kristus. "Like or Dislike Factor" mewarnai cara membangun hubungan, berkomunikasi, keterlibatan dan pemberin label kepada seseorang. Sebagai pemimpin, anda harus berhati-hati ketika mendapati diri anda tidak menyukai salah seorang di gereja anda. Hati anda harus tetap netral, sikap anda harus tetap objektif. Anda harus tetap memiliki pikiran & perasaan Tuhan dalam menilai semua orang.

Untuk orang yang anda sukai, 2 + 2 harus sama dengan 4. Bukan 5. Unttuk orang yang tidak anda sukai, 2 + 2 harus sama dengan 4. Bukan 3. Bisakah kita memandang semua orang di gereja dengan 2 + 2 sama dengan 4?

Hal ini bukan berarti kita menutup mata terhadap kelemahan atau kelebihan orang lain. Sebagai manusia baru, kita harus memiliki cara menilai yang baru terhadap setiap orang. Kita tidak hanya melihat mereka sebagaimana adanya mereka hari ini, melainkan apa yang menjadi rencana Allah atas orang tersebut.

Yesus tidak pernah menyerah dengan kegagalan Petrus. Allah memberikan kesempatan kedua kepada Yunus untuk pergi ke Niniwe setelah ia mencoba untuk kabur ke Tarsis. Yesus berkata kepada wanita yang berbuat zinah: "pergilah & jangan berbuat dosa lagi." Semua hal ini tidak sedang menunjukkan bahwa Allah mengizinkan atau membiarkan dosa & kesalahan. Allah yang kita percayai adalah Allah yang percaya kepada kita. Ken Blanchard pernah mengatakan, jika sebagai pemimpin kita ingin memberdayakan orang lain, maka kita hars berani mempercayai mereka. Meskipun mereka berulang kali gagal atau menunjukkan sikap tidak bisa dipercaya karena berulang kali mereka mengulangi kebodohan yang sama, jika kita ingin memberdayakan mereka maka kita harus mempercayai mereka. Putuskan untuk percaya mereka melampaui semua fakta & kenyataan yang anda lihat tentang seseorang. Kepemimpinan memerlukan iman. Kita harus mempercayai & melibatkan Allah dalam setiap proses kepemimpinan ketika kita sedang memperlengkapi & memberdayakan orang lain.

Seorang pemimpin harus mendengarkan Allaah, sebelum ia ingin didengarkan orang lain.

Menghakimi berarti memberikan penilaian secara salah. Menghakimi juga bisa berarti memiliki sikap yang salah terhadap penilaian yang benar. Sikap menghakimi selalu diawali dari sikap hati yang salah tentang orang lain.

Di satu pihak, kita dipanggil untuk tidak menghakimi orang lain. Namun di sisi lain, kita tidak perlu takut dihakimi oleh orang lain. Just do your best! Hiduplah begitu luar biasa, sehingga penghakiman & penilaian yang salah dari orang lain terbukti salah. Ingatlah, bahwa jika kita hidup tidak benar & orang lain menilai kita tidak benar karena mereka mengetahui ketidakbenaran yang kita lakukan, anggaplah hal tersebut sebagai koreksi bukan penghakiman. Sepanjang saya belajar menjadi seorang pemimpin, saya belajar untuk tidak takut terhadap penghakiman orang sepanjang kita memiliki kehidupan yang benar & selalu memberi yang terbaik.

Hari-hari ini, gereja sangat perlu memiliki atmosfer komunitas yang benar. Jika kita tidak mengusahakan atmosfer komunitas yang benar, maka Iblis akan mudah bekerja di dalam gereja kita. Atmosfer gereja yang benar bukan berarti tidak ada konflik atau gesekan, tidak ada masalah. Atmosfer gereja yang benar membuat setiap pribadi (di mulai dari para pemimpinnya), untuk membuat keputusan untuk merespon sesuai dengan firman & mentalitas Kerajaan Allah.

Komunitas kita harus menjadi komunitas Kerajaan Allah di mana budaya & nilai-nilai Kerajaan Allah menjadi penentu atmosfer komunitas kita. Komunitas Kerajaan Allah adalah komunitas yang hidup di bawah pemerintahan Allah, bukan dikendalikan oleh emosi, pikiran negatif atau sentimen pribadi.

Gereja sebagai komunitas harus menjadi model bagi seluruh hubungan yang ada di dunia. "Gaya hidup saling" yang kita miliki lahir sebagai ekspresi penghormatan kita kepada Allah serta komitmen kita terhadap nilai-nilai & tujuan Kerajaan-Nya untuk mengembalikan setiap orang pada rencana Allah semula.

Senin, 24 November 2014

Leaders are readers of people. They study a person like they would a book, by paying careful attention to words. If you listen careful to the words someone says, you will learn a lot about that person. Specifically, you’ll discover the person’s attitude toward life, which reveals his or her gratitude for life.

A positive attitude can be a person’s greatest asset. In fact, an upbeat attitude can take people to places that their ability could never carry them on its own. Attitude acts like a booster rocket, lifting people to a higher altitude than they could otherwise climb.

Oftentimes, motivational speakers present attitude like a magic tonic or cure-all for every ailment, but attitude isn’t everything. Some people have awesome attitudes and yet are awfully incompetent. While attitude alone won’t guarantee success, attitude is a difference-maker. All else being equal, attitude gives an advantage or edge over the competition. Therefore, whenever you have a choice to make between two business partners, vendors, or job candidates with similar credentials, pick the one with the better attitude.

A person’s attitude is more apparent in some conditions than in others. Here are three situations in which a person’s true attitude is likely to surface.

WHEN THEY EXPERIENCE NEGATIVE FEELINGS

A gray, rainy day reveals a lot about a person’s attitude by showing how they respond to negative emotions. In the face of difficult feelings, some people are like tumbleweed tossed about by the wind; they go whichever way their emotions blow them. Positive people are not controlled by atmosphere but by their attitude. It provides a rootedness that prevents them from being susceptible to fluctuating moods. Whiners want to feel good before acting; winners do what’s right regardless of how they feel and then experience positive emotions as a result of their actions.

WHEN THEY MUST DEAL WITH MUNDANE DETAILS

It’s said that the devil is in the details, and some people behave like devils when they have to deal with the less-than-thrilling aspects of their jobs. Every occupation has its inglorious tasks, and how a leader handles them says a lot about her attitude. The more a person complains, the less he’ll attain. Conversely, by approaching even minor responsibilities with positivity and a sense of purpose, a person sets himself up for success.

WHEN THEY FACE ADVERSITY

People either shrink from adversity or rise to meet it—largely on account of their attitude toward life. Thankfulness shines brightest during tribulation. Saint Paul exhorted his readers to “rejoice always” and to “give thanks in all circumstances.” When we encounter adversity, we can counter anxiety with appreciativeness. When we are grateful, fear disappears and faith appears.
 


Jumat, 03 Oktober 2014

Pesan Tuhan untuk saya memasuki tahun 2014 ialah: Hiduplah oleh Roh... Berilah dirimu dipimpin oleh Roh. Meskipun hal ini terdengar hal yang umum & biasa, namun pesan tersebut bergolak dengan kuat di dalam diri saya.

Harus saya akui bahwa terkadang lebih mudah bagi saya untuk dipimpin oleh pikiran saya. Pengetahuan yang saya peroleh dari membaca banyak buku & pengalaman pelayanan yang saya miliki, menjadi tantangan tersendiri untuk hidup oleh Roh.

Mengacu pada Roma 8, jelas bahwa inti hidup Kristen kita ialah hidup oleh Roh. Tidak ada pertumbuhan rohani yang sejati tanpa hidup oleh Roh. Management, strategy, koneksi & trend, dapat menggantikan peran pimpinan Roh Kudus dalam kepemimpinan seseorang pemimpin rohani.

Saya mendapati bahwa ada pemimpin-pemimpin yang terlalu idealis memegang prinsip hingga ia mengabaikan pimpinan Roh Kudus. Prinsip-prinsip yang baik menjadi lebih penting daripada Allah. Prinsip-prinsip rohani sekalipun tidak dapat menggantikan pimpinan Allah atas hidup kita.

Jangan pegang prinsip begitu erat hanya supaya dibilang "tegas." Kita perlu memahami bahwa Allah tidak menuntun kita dengan prinsip, melainkan melalui Pribadi-Nya. Prinsip-prinsip yang kita pegang bisa menjadi "Taurat baru" yang menuntun kita dari luar, namun mengabaikan tuntunan Roh Kudus dari dalam kita.

Apa yang kita butuhkan bukanlah prinsip lebih banyak. Bukan juga prinsip-prinsip hebat yang terdengar "mind-blowing." Kita membutuhkan Allah lebih daripada kita membutuhkan prinsip-prinsip rohani terkini.

Saya tidak ingin berjalan terlalu jauh dengan pengertian yang salah. Saya ingin berjalan lebih jauh bersama dengan Allah. Saya menyadari bahwa kepemimpinan saya tidak sempurna. Saya harus berulang kali berlutut di hadapan Tuhan & menyadari bahwa saya membutuhkanNYA untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang IA percayakan untuk saya lakukan.