Ini hari ke-3 Vania bekerja di kantor barunya. Meski sebenarnya tidak terlalu jauh dari kantor sebelumnya, tapi kami harus melewati jalan yang luar biasa macetnya. Saya harus berpikir keras untuk menemukan jalan pulang tercepat. Sudah 2 hari ini saya mencari beberapa alternatif & masih belum menemukan jalan terbaik (please help me God!).

Di kantor sebelumnya Vania masuk kantor jam 7 pagi & pulang jam 4 sore. Kami berdua suka dengan jam kerja seperti ini. Walaupun berangkat lebih pagi, namun bisa pulang di waktu yang cukup ideal. Sekarang Vania masuk kantor jam 8 pagi & pulang jam 5 sore. Jam masuk & pulang kantornya merupakan jam-jam macet.

Sudah 2 hari ini Vania terlihat sangat lelah. Pagi ini dia bahkan sempat tidur di motor. Setiap kali dia tidur di motor, saya harus menyetir dengan sedikit kepayahan karena helm yang dipakainya berulangkali membentur helm saya. Begitu juga dengan posisi duduknya menjadi tidak seimbang. Membawa motor dengan kondisi seperti ini dalam keadaan macet sungguh tidak mudah.

Kemarin saya harus menunggu Vania selama 2,5 jam di Mangga Dua Mall. Saya tidak diberitahu bahwa sore itu ada training, sehingga dia tidak dapat pulang sesuai dengan waktu yang ditentukan. Saya kelelahan berjalan berkeliling mall. Hanya melihat-lihat & tidak membeli apa-apa, kecuali 1 kue cucur, 1 martabak goreng & 1 gelas cincau hitam... dan diakhir penantian saya, saya membeli McChicken & 1 gelas Sprite supaya bisa duduk di McDonald. Rencana ingin membaca buku di McDonald, yang ada saya malah ketiduran di meja. Bukan hanya Vania, saya juga sangat kelelahan.

Berkat yang baru menuntut adanya penyesuaian. Posisi Vania naik jauh lebih tinggi dari posisi terakhir di kantor sebelumnya. Hal ini menuntut adanya banyak perubahan. Belum lagi perubahan "culture" di perusahaan yang sekarang. Saya yakin dia dapat dengan mudah menyesuaikan diri.

Buat saya, mengantar & menjemput Vania setiap hari adalah sebuah hak istimewa (previllege). Sebagai suami, Allah memerintahkan saya untuk mengasihi isteri saya seperti Kristus mengasihi jemaat.

2,5 jam menunggu Vania pulang kantor bukan hal yang mudah. Namun saya senang. Saya tidak marah karena ia lupa memberitahu saya soal training hari itu. Lagi pula saya tidak memiliki janji apa-apa sore itu. Saya memiliki waktu untuk menunggu dia pulang.

Banyak orang suka marah untuk hal-hal sepele di dalam hubungan. Saya memilih untuk tidak marah, sekalipun menunggu Vania 2,5 jam karena ia lupa memberitahu. Saya mendukung Vania sepenuhnya. Saya ingin melihat isteri saya menjadi pribadi yang maksimal.

Salah satu ekspresi kasih yang nyata & dibutuhkan oleh banyak orang ialah dukungan. Semua manusia, pria-wanita, tua-muda, kaya-miskin... mengharapkan dukungan dari orang-orang yang dikasihinya.

Waktu kecil, saya tumbuh sebagai pribadi yang kurang banyak menerima dukungan. Saya sering berusaha mencari-cari perhatian, demi merasa didukung oleh orang lain. Kini saya telah dewasa. Kasih & kebenaran Allah telah mengubahkan hati saya. Salah satu pemberian yang saya ingin berikan kepada banyak orang ialah: dukungan. Tentunya saya tidak ingin memberikan dukungan untuk hal-hal yang salah. Namun saya ingin sebisa mungkin memberikan dukungan kepada orang-orang yang saya kasihi untuk hal-hal yang benar.

Memberikan dukungan membutuhkan pengorbanan. Kita tidak dapat menjadi orang yang memberikan dukungan pada orang lain jika kita "egois." Sikap mementingkan diri sendiri (egois), merupakan musuh utama dalam setiap bentuk hubungan. Kalau pun dalam keegoisan seseorang berhasil menunjukkan dukungan, maka yang terjadi ialah kepura-puraan (kemunafikan).

Sikap yang benar perlu dimulai dengan pengertian yang benar.

Saya membayangkan, suatu kali saya akan banyak meluangkan waktu bersama dengan anak-anak saya. Memberikan dukungan kepada mereka. Saya ingin menjadi orang pertama yang berdiri, tersenyum & memberikan dukungan bagi mereka. Hari ini saya memutuskan untuk siap berkorban lebih lagi untuk memberikan dukungan kepada orang lain... hanya untuk menolong orang lain untuk sukses.

Kita dapat dikatakan sukses, jika kita membantu orang lain untuk mencapai sukses. Bukan sekedar sukses di mata manusia, melainkan sukses di mata Allah. Mungkin itu sebabnya Allah memanggil saya menjadi seorang... pastor.