Rabu, 12 Desember 2012

INI BUKAN WAKTUNYA MENGASIHANI DIRI

Mengasihi dan berbuat baik kadang membuat kita lelah. Bukan hanya kelah secara fisik, tetapi juga lelah secara emosional. Manusia diberikan 2 kapasitas oleh Allah, yaitu: kapasitas untuk memberi dan kapasitas untuk menerima.

Ada saat di mana pelayanan menuntut kita untuk terus-menerus memberi dan berkorban bagi orang lain, tanpa menghiraukan diri kita sendiri. Kita terus memperhatikan kehidupan orang lain, hingga suatu ketika kita merasa sepertinya orang lain tidak terlalu mempedulikan kita. Kita seperti seseorang yang memperhatikan semua orang, tetapi kita merasa tidak ada seorang pun yang memperhatikan kita.

Menjadi seorang pemimpin artinya menjadi orang yang siap menghadapi tuntutan-tuntutan. Tidak ada satu orang pemimpin pun yang tidak menghadap tuntutan. Semakin besar pengaruh kepemimpinan seseorang, semakin besar tuntutan yang ia terima. Setiap pemimpin harus mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan tuntutan, sebelum tuntutan-tuntutan tersebut menghancurkan dirinya.

Saya mengambil waktu berdiam diri di tengah segala kesibukan saya memikirkan masalah-masalah orang lain. Ketidakseimbangan hidup dapat membuat kita mudah masuk ke dalam perangkap intimidasi. Iblis dengan gencar menyemburkan kebohongan ke kepala kita.

Ini bukan waktunya mengasihani diri. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jangan meminta kepada manusia apa yang hanya bisa diberikan oleh Allah. DIA adalah sumber segala sesuatu yang baik.

Meski kita merasa lelah dalam berbuat baik, namun jangan berhenti berbuat baik. Disiplinkan pikiran-pikiran kita tentang orang lain, agar kita tidak mudah terintimidasi oleh karena hal-hal kecil yang terjadi. Jangan takut dengan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Hiduplah begitu luar biasa, sehingga pikiran-pikiran buruk orang lain tentang kita terbukti salah.

Keberanian Untuk Berserah

Kata "surrender" paling sulit dipahami di saat-saat krisis. Kita tidak suka saat di mana kita tidak memiliki kendali ketika saat-saat sulit terjadi di hidup kita. Pengalaman penuh penyerahan diri bisa menjadi pengalaman paling menyakitkan secara emosional. Kita berada posisi direndahkan tanpa kemampuan membela diri.

Saat di mana kita berhasil lolos dari sebuah krisis, bisa menjauhkan kita dari "penyerahan diri." Pengalaman rohani dapat menjadi pengalaman traumatis di mana kita tidak ingin kembali lagi ke sana. Kita betul-betuk tidak suka dalam keadaan kalah, tidak berdaya, tidak punya pilihan, tidak memiliki kendali dan kemampuan untuk membela diri (atau bahkan melindungi orang-orang yang kita cintai).

Penyerahan diri merupakan prinsip ilahi yang memliki nilai kekal. Allah tidak pernah mengubah prinsip-prinsip Kerajaan Allah yang bersifat kekal. Teladan Anak Domba ada pada kata "penyerahan diri." Pertukaran terjadi ketika kita menyerahkan kendali kita dan hidup dalam kendali Allah.

Ada kalanya saya merasa Allah begitu "ngotot" dan memaksa saya untuk berserah. Kadang kita merasa begitu takut "dizolimi" oleh Allah. Walaupun Allah Yang Maha Kudus "tidak memiliki kemampuan" untuk berbuat curang kepada kita. Kekudusan Allah membuat Allah dapat dipercaya. Motif dan tujuan Allah dalam setiap tindakanNya kepada kita, selalu dimotivasi oleh kemahatahuan dan kasihNya yang begitu besar.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
(Yohanes 21:18)

Penyerahan diri kita menggambarkan tingkat kedewasaan rohani kita. Kita tidak dapat mengalami kedewasaan tanpa penyerahan diri, kita tidak dapat hidup dalam penyerahan diri tanpa kedewasaan.

Saya pernah mendengar seorang hamba Tuhan yang berkata: "Tidak ada istirahat tanpa penyerahan diri." Penyerahan diri bukan berarti bersikap pasif, melainkan secara aktif mencari tahu kehendak Tuhan.

Dibutuhkan keberanian untuk hidup dalam penyerahan diri kepada Tuhan. 








Rabu, 12 September 2012

The Pareto Principle (20/80): Kemampuan Menilai & Memilih Orang-Orang

Saya sudah mengenal prinsip 20/80 (the pareto principle) sejak kuliah. Dalam banyak bukunya, John C. Maxwell sering membahas tentang prinsip 20/80 ini ketika menerangkan mengenai prioritas. Saya tidak menyadari bahwa berulang kali saaya telah melanggar prinsip ini.

Untuk mendapatkan hasil 80% kita hanya perlu memfokuskan diri pada 20% hal yang paling penting. Di dalam kepemimpinan, kita harus meletakkan fokus kita pada 20% orang untuk kita kembangkan agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Terlalu sering, fokus saya terlalu melebar.Saya berusaha menolong semua orang. Bahkan menghabiskan waktu & energi saya untuk membangun orang-orang yang tidak mau berubah. Sedangkan mereka yang hmau berubah justru terbengkalai.

Memasuki masa-masa yang "crucial" di dalam kepemimpinan, membuat saya lebih "aware" terhadap prinsip-prinsip kepemimpinan yang saya telah pelajari selama ini. Baru semalam saya selesai membaca buku Learship 101 yang ditulis oleh John C. Maxwell kira-kira 10 tahun yang lalu. Apa yang sedang saya alami di dalam kepemimpinan saya hari-hari ini membuat saya semakin mengerti pentingnya prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut. Selama ini saya secara tidak sengaja mengabaikannya, karena tidak melihat pentingnya prinsip-prinsip tersebut sampai akhirnya ketika permasalahan-permasalahan mulai timbul, barulah prinsip-prinsip itu terlihat penting.

Kadang kita "berpikir terlalu positif" akan apa yang sedang kita lakukan hari-hari ini. Rasa bangga (proud) terhadap hasil-hasil yang terlihat dari kepemimpinan kita dapat membuat kita terlena, berpuas diri & menjadi kurang waspada. Itu sebabnya salah satu hal yang paling penting yang harus dilakukan oleh setiap pemimpin untuk mengalami kemajuan, ialah EVALUASI. Melakukan evaluasi secara berkala akan membantu kita mtuk mengembangkan diri & mengatasi kekurangan kita. Untuk mendapatkan hasil evaluasi yang maksimal, dibutuhkan mata yang obyektif. Kita harus melihat diri kita sebagaimana adanya.mKita haus berani berhadapan dengan realita, fakta & kebenaran.

Mengevaluasi orang-orang yang berada satu tim dengan kita juga sangat penting untuk mengatasi kekurangan & mengembangkan kemampuan tim. Terlalu sering saya menyangkal kelemahan anggota tim & "terlalu mudah percaya" akan seseorang. Pada prinsipmya bersikap positif & mempercayai anggota tim kita tentu merupakan hal yang sangat baik. Namun bersikap positif bukanlah menyangkali keadaan. Sikap positif yang salah ialah sikap positif yang disertai sikap menyangkal kelemahan, fakta & kebenaran.

Pemahaman akan prinsip-prinsip kepemimpinan membuat saya memandang setiap tim dengan perspektif yang berbeda. Saya bukan hanya perlu tahu kelebihan mereka, tetapi juga kelemahan mereka.

Ketika saya membuat list mengenai orang-orang yang ada di dalam kepemimpinan saya & menilai mereka berdasarkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang saya pahami, saya mendapati 20% orang yang harus saya prioritaskan ialah orang-orang yang berbeda dengan penilaian atau dugaan saya sebelumnya.

Sejak tahun yang lalu, saya mulai memahami bahwa para pemimpin yang sukses bukan hanya bisa bekerja sama dengan orang lain, mereka juga mampu menilai orang lain dengan tepat serta memilih anggota tim mereka dengan benar.

Kadang saya merasa miliki kemampuan ini. Namun ternyata saya salah. Cara saya menilai & memilih orang dalam kepemimpinan perlu diperbaiki.

Saya memiliki kebiasaan yang harus diubah. Kebiasaan ini sangat menyangkut dengan masalah prioritas. Saya sangat suka menyimpan yang terbaik untuk dinikmati terakhir. Ketika makan di sebuah restaurant, bagian terbaik biasanya akan saya nikmati belakangan. Saya akan menikmati makanan di mulai dari yang   biasa hingga ke yang paling nikmat. Masalahnya, ketika saya menikmati bagian terbaik tersebut, saya sudah agak kenyang. Alangkah lebih baik jika saya menikmati bagian terbaik di awal, ketika perut saya masih sangat lapar. Tentu makanan tersebut akan sangat lezat di mulut saya.

Belum lama ini saya membeli 30 buku ketika melayani di Sydney, Australia. Ketika memutuskan mulai untuk membaca buku-buku tersebut, saya selalu menyimpan buku-buku terbaik untuk dibaca "nanti." Padahal hal-hal terbaik harusnya kita nikmati lebih dulu, buku-buku terbaik kita baca lebih dulu, & orang-orang terbaik kita prioritaskan untuk dibangun lebih dulu sehingga kita bisa memperkuat "influence" untuk membangun orang-orang yang dalam kepemimpinan kita.

Meskipun buku-buku tentang kepemimpinan semakin banyak, ternyata menjadi seorang pemimpin tetap tidak mudah. Menjadi pemimpin bukan tentang apa yang kita ketahui, melainkan tentang apa yang kita lakukan. Setiap pemimpin dinilai dari tindakan, keputusan & pilihan yang ia buat. Pengetahuan bukanlah kekuatan sampai pengetahuan itu kepemimpinan.

Perasaan "sudah tahu" kadang lahir dari kesombongan hati yang dapat menghambat "pertumbuhan" pribadi kita. Agarvmenjadi pemimpin yang terus bertumbuh & meningkatkan pemgaruh yang kita miliki, kita harus belajar menjadi NOL sehingga kita selalu bisa diajar & belajar banyak hal.

Rabu, 05 September 2012

Kehilangan Pengurapan

"Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, & yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Matius 19:30)

Sudah 14 tahun saya menjadi orang Kristen yang lahir baru. Selama perjalanan rohani saya, Tuhan memakai banyak orang untuk terlibat dalam membentuk kehidupan rohani saya. Merupakan sebuah sukacita yang luar biasa mengetahui bahwa kita memiliki saudara seiman yang bertumbuh bersama dengan kita.

Saat menengok kembali ke belakang, saya menyadari sesuatu telah terjadi... saya kehilangan beberapa orang yang pernah Tuhan pakai begitu luar biasa untuk membantu saya bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus. Seorang sahabat yang selalu menjemput saya untuk pergi ke gereja di awal pertobatan saya, seorang kakak kelas yang memberikan saya banyak kesempatan untuk melayani Tuhan, seorang sahabat yang pernah menyampaikan sebuah nubuat yang begitu mempengaruhi jalan hidup saya.

"Kehilangan" adalah istilah yang saya pilih untuk menggambarkan kehidupan rohani mereka saat ini. Kami masih berhubungan baik hingga hari ini. Namun, mereka tidak lagi memiliki kehidupan rohani seperti dulu.mBerkaca dari kehidupan mereka saat ini, saya mencoba memasang rambu-rambu rohani. Saya tidak ingin suatu kali, hal yang sama terjadi kepada saya.

Mengembalikan sahabat-sahabat saya pada "kondisi" yang seharusnya bukan perkara mudah. Mereka bukannya tidak tahu kebenaran. Namun inilah yang terjadi jika orang-orang yang pernah mengerti kebenaran mundur dari Tuhan. Ada semacam benteng yang menghalangi mereka untuk kembali. Itu sebabnya, selalu dibutuhkan kerendahan hati untuk kembali ke tempat di mana kita memulai. Tanpa kerendahan hati, hampir-hampir kita tidak akan dapat dipulihkan.

Kecewa dengan orang Kristen, cinta akan uang, haus pengakuan, kejatuhan yang tidak diatasi dengan pola pemberesan (pertobatan) yang benar & kesombongan, dapat membawa kita menjauh dari Tuhan. Ada kalanya sindrom Saul terjadi di tengah-tengah kita. Kita sulit mengenali saat di mana sesungguhnya "roh Tuhan" sudah undur datri kehidupan kita. Roh Allah undur diam-diam, tidak ada seorang pun yang tahu & kita pun tidak menyadarinya.

Saul mencoba menjalankan tugasnya sebagai raja, tanpa pemgurapan seorang raja.

Kehilangan pengurapan bukan sekedar kehilangan kuasa Tuhan, melainkan kehilangan kepercayaan dari Tuhan.

Melihat kehidupan rohani yang sembrono dari beberapa orang Kristen & hamba Tuhan, sepertinya hari-hari ini banyak orang tidak takut kehilangan pengurapan. Jika kita tidak mengetahui tujuan pengurapan, kita tidak akan merasa membutuhkannya. Bahkan ketika kita kehilangan pengurapan tersebut, kita masih beranggapan bahwa hal itu bukan masalah besar.

Hey, kehilangan pengurapan merupakan sebuah masalah serius! Kehilangan pengurapan berarti kehilangan keperayaan dari Allah. Dibutuhkan integritas untuk mengaktifkan & melipatgandakan pengurapan di dalam roh kita.

Mereka yang berjalan di dalam pengurapan akan menyaksikan hasil-hasil yang berbeda dari mereka yang tidak berjalan di dalam pemgurapan.

MELAYANI DENGAN ROH KEPEMIMPINAN YANG BENAR: Mengalahkan Rasa Tidak Aman & Sikap Hati Yang Salah Dalam Diri Kita

"Melayani" sudah menjadi kata yang rancu di dalam kekristenan. Berbagai tujuan & agenda pribadi yang memberi warna lain dari warna yang diberikan Yesus, mendatangkan banyak kesalahpahaman & kebingungan di dalam Tubuh Kristus (baca: gereja).

Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Lukas 10:3)

Yang harus kita minta agar Tuhan mengirimkan kepada kita ialah "pekerja," bukan artis, CEO, bisnisman, maupun musisi handal. Mintalah pekerja!

Hari-hari ini kata "melayani" sering digunakan oleh orang-orang tertentu untuk mendapatkan pengaruh, kendali, popularitas maupun uang. Kata ini telah diselewengkan begitu rupa sehingga banyak orang mulai bersikap curiga kepada pelayanan-pelayanan sejati.

Melayani adalah cara Allah mengikis daging kita. Pelayanan yang sejati bukan memberikan kenyamanan kepada daging. Melalui pelayanan kita dipanggil untuk mendahulukan orang lain. Ini tentu sangat bertentangan dengasifat dasarvmanusia yang memiliki kecenderungan untuk bersikap egois.

Suatu hari saya begitu kelelahan dengan berbagai aktifitas & kesibukan yang ada. Bahkan hal-hal kecil pun begitu menyibukan & menguras energi saya. Dalam keadaan letih, saya masih harus berhadapan dengan sikap orang lain yang cukup "bossy" (sok main suruh & perintah). Saat kejengkelan mulai menyelinap masuk, Roh Kudus pun tidak kalah cepat untuk memanfaatkan peluang untuk memuridkan seorang murid yang sedang tidak siap belajar.

Di tengah kelelahan saya, Roh Kudus berbisik: "Kamu melayani karena kamu pemimpin! Melayani adalah cara Alkitabiah untuk menjadi besar!" Melayani adalah jalan menuju promosi ilahi!" Tiba-tiba saja keletihan & perasaan jengkel saya terangkat. Seandainya saja banyak orang Kristen memahami agenda Allah dibalik situasi tidak menyenangkan di mana kita merasa seperti "kacung," namun pada saat itulah Allah sedang mempersiapkan kita; kita tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Kesempatan-kesempatan besar seringkali bersembunyi di balik perkara-perkara kecil.

"Mengapa semuanya harus aku yang mengerjakannya?"
"Mengapa aku selalu disuruh-suruh sama orang ini?"
"Mengapa dia harus memintanya dengan cara (bicara) seenaknya seperti itu?"
"Tidakkah dia bisa bilang terima kasih atas semua yang sudah aku lakukan?"
"Apakah semua pengorbananku ini tidak artinya buat dia?"

Pernahkah anda merasakan perasaan-perasaan ini?

Harga diri kita seperti ditabrak dengan keras. Kadang kita berpikir, kalau terus dibiarkan nanti jadi seenaknya... atau kalau dibiarkan nanti seperti si ini, si anu, kasus keluarga ini, kasus perusahaan itu (& berbagai skenario lainnya).

Tidak dapat dipungkiri bahwa selalu saja ada orang-orang yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain. Dari teman, keluarga, pemimpin, bahkan partner pelayanan.

Ada kalanya saya lelah dengan sikap orang-orang tertentu. Dalam keadaan kesal, hindari untuk membuat kesimpulan. Kesimpulan yang salah akan menghasilkan tanggapan yang salah. Kenali "waktu kebodohan" kita, yaitu saat di mana kita paling sulit untuk menguasai diri.

Kesimpulan yang saya buat di tengah-tengah kekesalan, membuat saya kehilangan kelemahlembutan & kerendahan hati. Sikap satu dua orang yang menganggu, membuat saya membangun benteng kepada banyak orang. Saya sering sekali menggunakan kata "insecure" (tidak aman). Sampai tiba-tiba saya menyadari bahwa kata tersebut telah menyerga saya dengan diam-diam.

Saya pernah membaca sebuah buku yang bercerita tentang kehidupan Herodes. Dibalik tahta & kekuasaanya, Herodes adalah seorang pria yang "insecure" (tidak akan) dengan dirinya & keberadaan orang lain disekelilingnya. Herodes yang berbakat berubah menjadi Herodes yang keji, yang tidak sayang membunuh siapa pun (termasuk para kerabatnya), yang keberadaannya mendatangkan rasa tidak aman (insecure) dalam diri Herodes.

Roh Herodes adalah roh pembunuh potensi. Spiritual abortion (aborsi rohani) menjadi strategi pemimpin yang tidak aman dengan keberadaan orang lain, untuk menyingkirkan setiap orang yang ada di jalan mereka, karena takut kehilangan apa yang ia miliki hari ini.

Roh apa yang sedang menunggangi kepemimpinan kita? Roh Anak Domba yang lemah lembut atau roh Herodes yang licik & berbahaya?

Kepemimpinan bukan hanya soal skill, tetapi juga soal roh. Roh apa yang adapada kepemimpinan kita? Jika Roh Kristus yang menjadi nafas pelayanan kita, maka IA akan memberikan kita identitas & rasa berharga yang berakar di dalam karya penebusanNya sehingga kita dapat mengalahkan perasaan-perasaan "insecure" pada saat kita melayani dengan sikap hati & motivasi yang benar.

Jangan biarkan perlakuan buruk orang lain membuat kita kehilangan sikap hati & motivasi yang benar dalam melayani Allah & jiwa-jiwa.




Senin, 03 September 2012

BUKAN KARENA MURAH, TAPI KARENA WAKTU TUHAN

Salah satu kunci untuk mendapatkan yang terbaik dari Tuhan ialah: kesabaran. Memahami waktu Allah atas kehidupan kita memang tidak mudah. Perhitungan waktu Allah tidak bekerja sesuai dengan hitungan waktu kita. Kita menghitung waktu dengan hitungan detik, menit, & jam; sedangkan Allah menghitungnya dengan ketaatan, motivasi yang benar, penyerahan diri, kerendahan hati, kerelaan hati & persiapan.

Di awal pelayanan saya, saya mendapat pengertian yang sangat berharga mengenai "waktu Tuhan." Di dalam salah satu khotbahnya, Pdt. Gilbert Lumoindong berkata bahwa "waktu Tuhan adalah waktu kita siap." Perkataan tersebut melekat begitu kuat di hati saya, bahkan saya menjadikannya salah satu prinsip yang menuntun kehidupan saya.

Untuk memahami prinsip "waktu Tuhan adalah waktu kita siap," kita memerlukan hikmat untuk meng-interpretasikannya dengan baik. Dalam banyak kesempatan kitanbisa saja "merasa siap" untuk menerima atau dipercaya sesuatu. Seperti yang pernah saya dengar dari seorang Kristen yang berkata "Mengapa Allah belum memberkati saya dengan menjadikan kerja sama bisnis saya berhasil, padahal saya sudah siap untuk diberkati? Jika saya diberkati saat ini, saya pasti akan melakukan ini, melakukan ini, memberkati si ini & memberkati si itu."

Menjadi siap & merasa siap adalah dua hal yang berbeda. Kesiapan kita harus dinilai oleh Tuhan, bukan oleh diri sendiri. Kadang perasaan "over-confident" kta dalam sebuah situasi, memberikan "rasa aman yang palsu" dengan meyakinkan diri kita bahwa kita sudah siap.

Allah bukan Pribadi yang selalu terburu-buru. IA begitu berkuasa atas waktu, sehingga segala yang terjadi di dalam ruang & waktu sama sekali tidak dapat membatasi IA berkarya di dalam kehidupan kita. Dalam Yohanes 11 kita menjumpai kisah Lazarus yang dibangkitkan. Peristiwa kebangkitan Lazarus tidak lain dipicu oleh "keterlambatan" Yesus untuk hadir sebelum Lazarus akhirnya meninggal. Yesus "sengaja" menunda kedatanganNya untuk mengajarkan kita pelajaran berharga. Ada hal yang tidak dapat dilepaskan dengan "waktu Tuhan," yaitu "kuasa Tuhan."

Di awal tahun 2000-an, saya mendengar sebuah khotbah yang disampaikan oleh Pdt. Andreas Raharjo dari GKPB Masa Depan Cerah - Surabaya. Beliau berkata bahwa ada banyak orang Kristen yang terkadang memaksakan diri membeli sesuatu karena harganya sedang murah atau diskon. Padahal saat itu, apa yang dibeli belumlah menjadi hal yang sangat mendesak. Sikap memaksakan diri ini seringkali membuat banyak orang Kristen kehilangan "waktu Tuhan" atas kehidupan mereka. Mereka terjebak pada sikap mengandalkan pengertian sendiri & tidak menanti-nantikan Tuhan. Bukankah kebanyakan kita juga seringkali bertindak sama. Seperti halnya bulan lalu saya memborong beberapa buku John C. Maxwell di toko buku Immanuel, karena di bulan tersebut koleksi buku-buku John C. Maxwell discount 20%. Kita pasti akan berpikir "kapan lagi... mumpung lagi diskon."

Pdt. Andreas Raharjo mengatakan agar kita tidak membeli sesuatu karena sesuatu tersebut lagi murah atau mumpung diskon. Jika harga sesuatu itu tidak terlalu mahal sehingga jika kita membelinya, cashflow kita tidak mengalami gangguan, hal ini masih sah-sah saja. Tapi hal yang penting untuk kita ingat ialah: belilah sesuatu karena kita butuh, bukan karena mumpung harganya masih murah. Sikap memaksakan diri yang membawa kita keluar dari waktu Allah tentulah bukanlah sebuah keputusan yang bijaksana. Seperti halnya Pengkhotbah 3:11 berkata "segala sesuatu indah pada waktunya..."

Jika memang kita butuh & kita berada pada waktunya Tuhan untuk membeli atau memiliki sesuatu, jika harga barang yang ingin kita beli menjadi sangat mahal sekalipun, Allah pasti akan memberkati kita sehingga kita mampu membeli atau memilikinya.

Untuk selalu hidup di dalam waktu Tuhan, kita harus memiliki "kesabaran." Kesabaran merupakan salah satu ekspresi iman. Mengapa kita bersedia menunggu? Karena kita mempercayai Allah!

Seperti halnya memasak atau membuat kue, kita tidak boleh terburu-buru sehingga mendapati masakan atau kur tersebut setengah matang & tidak bisa dinikmati. Sebuah masakan memiliki rasa yang maksimal jika dimasak dengan lama waktu tertentu. Bersabarlah terhadap waktu Tuhan. Dan jangan sekedar menjadi pasif dalam menantikan waktu Tuhan. Kerjakan hal-hal yang harus kita kerjakan, nantikan Allah dalam doa & penyembahan, berjalanlah di dalam ketaatan, & jadilah produktif di dalam masa-masa penantian kita.

Petualangan Kepemimpinan: Keluar Dari Kubangan Kekecewaan

Jika suatu hari saya berkesempatan menulis buku tentang Leadership, saya ingin sekali membagikan sebuah pesan kepemimpinan yang menurut saya sangat penting. Bahwa menjadi pemimpin kita harus berhadapan dengan kekecewaan. Tidak ada pemimpin yang baik yang tidak pernah kecewa. Pemimpin menjadi kecewa karena ia memiliki pengharapan (ekspektasi). Ia mengharapkan kemajuan organisasi, pertumbuhan orang-orang yang ada di dalamnya, dan banyak hal lainnya.

Satu hal yang paling sulit dalam kepemimpinan ialah berurusan dengan orang (deal with people). Tapi itulah gunanya kepemimpinan. Kita harus belajar bagaimana berkomunikasi, membangun teamwork, menggerakkan orang lain, mendelegasikan tugas, bahkan mengangkat & memecat orang.

Meskipun kekecewaan pasti terjadi di dalam setiap kepemimpinan, namun para pemimpin tidak dipanggil untuk tinggal di dalamnya. Tinggal di dalam kekecewaan dapat menghancurkan kekuatan kita. Terlalu mahal harganya untuk menukar visi yang kita miliki dan tinggal di dalam kubangan kekecewaan dengan sikap mengasihani diri.

Pemimpin terkadang adalah orang yang paling sulit dipahami. Kita cenderung berpikir lebih jauh dari kebanyakan orang, melihat lenih luas dari penglihatan kebanyakan orang, membayar lebih mahal dibanding semua orang yang terlibat, menerima tuntunan lebih banyak dari yang sanggup kita pikul, & memiliki ikatan emosi terhadap visi jauh lebih dalam dari semua orang yang terlibat.

Proses menjadi seorang pemimpin bukanlah sebuah perjalanan yang mudah. Seandainya kepemimpinan hanyalah soal "posisi" maka kepemimpinan tidak akan serumit ini. Namun masalahnya, kepemimpinan adalah kombinasi antara panggilan, kemampuan/keterampilan, karakter & hubungan-hubungan yang kita miliki.

Salah satu judul buku Joyce Meyer yang paling saya ingat ialah: Pemimpin Yang Sedang Dibentuk. Judul ini merangkum tahun-tahun kehidupan saya sebagai seorang hamba Tuhan. "Sedang dibentuk"... sampai kapan? Apakah tandanya bahwa pembentukan tersebut telah selesai?

Berulang kali saya mengambil waktu untuk introspeksi diri. Jika ada sesuatu yang salah di dalam pelayanan atau orang-orang yang saya pimpin, maka sebagai pemimpin, saya harus terlebih dahulu mengevaluasi diri.

Berulang kali kebingungan menghempaskan saya ke dinding permasalahan. Saya berulang kali kelelahan dengan perjalanan kepemimpinan ini. Memiliki orang-orang dengan potensi luar biasa barulah satu hal. Tetapi memimpin mereka adalah persoalan lain. Kata "penundukkan diri" yang selama ini saya hindari, justru bisa menimbulkan masalah baru. Setiap orang yang "merasa memiliki pewahyuannya sendiri" kadang sulit diarahkan. Membawa seseorang mengalami pengalaman rohani yang dahsyat & memberikan kepercayaan lebih, justru dapat membuat orang-orang tertentu sulit untuk hidup dengan penundukan diri & keterbukaan. Kadang hal ini memberi ruang bagi roh kemunafikan untuk beroperasi di dalam diri orang-orang yang memiliki potensi & panggilan yang luar biasa.

Sebelum terlambat, saya ingin berulang kali menyadarkan diri saya, bahwa sebagai seorang pemimpin saya harus berjalan di dalam "the spirit of sonship." Roh keputraan (the spirit of sonship) ini dibutuhkan oleh banyak pemimpin rohani agar mereka tidak mengerjakan tugas & tanggungjawab mereka dengan spirit yang salah. Seseorang bisa saja menjabat kepemimpinan rohani, namun bertindak dengan spirit yang salah, yaitu roh Herodes & roh Firaun. Kedua roh ini menggambarkan bentuk rasa tidak aman (insecurity) di dalam kepemimpinan. Kepemimpinan diktator yang tangan besi merupakan ekspresi dari kedua roh ini. Berbeda sekali jika kita melayani dengan roh Anak Domba yang rela berkorban & melayani orang-orang yang kita pimpin.

Saya masih ingat, ketika pertama kali saya ditahbiskan sebagai hamba Tuhan, Roh Kudus memberikan sebuah pesan melalui Yoh 10:11 yang berbunyi "gembala yang baik menyerahkan nyawanya bagi domba-dombaNya..." Saya ingin terus berjalan di dalam spirit ini. Inilah sebuah pewahyuan kepemimpinan yang pertama kali saya terima. Saya tidak ingin membandingkan kepemimpinan saya dengan orang lain. Karena sikap membanding-bandingkan selalu lahir dari "insecurity." Saya hanya ingin hidup sebagai mana saya dipanggil & menaati apa yang diperintahkan Allah untuk saya lakukan. Kiranya Allah terus membentuk saya sesuai dengan "gambar & rupaNya" (healthy self-image), sehingga saya dapat berfungsi dalam tanggungjawab kepemimpinan (berkuasa) yang Allah percayakan kepada saya (Kej 1:26-18).


From Realistic To Idealist

Pernahkah anda mengalami kehilangan visi? Tiba-tiba anda seperti kehilangan arah dan tidak ada sesuatu yang ingin dituju. Kehilangan visi merupakan sebuah keadaan yang berbahaya. Saat sessorang tidak memiliki visi, maka ia akan mudah tergoda dengan berbagai tawaran yang datang. Beberapa hari lalu saya mendengarkan CD khotbah Ps. Jeffrey Rachmat saat ia berbicara di dalam acara Relevant Leadership 2006. Beliau mengatakan bahwa orang yang nganggur (nggak punya kerjaan) yang mau diajak ke mana aja (apalagi jika tujuannya nggak jelas).

Pengalaman kehilangan visi sangat tidak menyenangkan. Kehilangan visi akan menyebabkan kita kehilangan gairah (passion).

Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, ada banyak orang yang menasehati saya untuk "be realistic!" Sepertinya udah bukan umurnya lagi untuk hidup idealis. Nggak kalah, pihak keluarga biasanya menjadi orang no.1 untuk mendorong kita menjadi lebih realistis dalam hidup.

Bahasa lain dari "realistis" adalah "main aman." Tiba-tiba saja saya mulai muak dengan nasihat-nasihat yang mendorong saya untuk bermain aman di dalam kehidupan.

Saya masih ingat salah satu khotbah Ps. Brian Houston ketika ia datang ke JPCC tahun 2011. Ps. Brian Houston berbicara bagaimana kitanharus berani mengambil resiko dalam hidup. Tanpa resiko tidak akan ada kebesaran. Kita ditantang untuk membayar harga untuk melihat visi Allah itu tergenapi di dalam hidup kita.

Saat kita bingung karena kehilangan visi, ada baiknya kita kembali ke dasar. Saya kembali membuka buku-buku catatan saya di masa lalu, membuka buku-buku yang pernah menginspirasi saya di awal-awal pelayanan saya, duduk dengan beberapa orang muda yang belum menjadi realistis, kembali kepada pesan Tuhan yang pernah saya terima di tahun-tahun penting dalam perjalanan rohani saya.

Waktu tidak akan menunggu kita. Ia akan terus berjalan, entah kitabsiap atau tidak siap. 5 - 10 tahun dari sekarang, apakah kita akan menjadi lebih baik. Di manakah kita akan berada.

Masihkah pesan-pesan mengenai hukum potensi yang pernah saya baca dari buku Dr. Myles Munroe dapat dihidupkan kembali? Apakah pewahyuan tentang "tujuan hidup" dari buku The Purpose Driven Life yang ditulis oleh Rick Warren merupakan sesuatu yang basi? Apakah pewahyuan-pewahyuan dari buku John Mason untuk hidup sebagai orginal dan keluar dari mentalitas mediokritas masih dapat mendobrak keragu-raguan di hati?

John C. Maxwell berhasil menemukan kemaksimalan hidupnya, justru di usia tuanya. Ia menjadi semakin produktif ketika ia memutuskan untuk meninggalkan penggembalaan & terjun sebagai guru kepemimpinan bagi banyak orang di dunia.

Kita masih terlalu mudah untuk menyerah. Menyerah dengan mimpi-mimpi yang kadang mengintimidasi diri kita sendiri. Karena kita mendapati bahwa mimpi-mimpi itu jauh lebih besar daripada kemampuan kita. Itu sebabnya kita harus bergantung sepenuhnya pada Allah. Ialah meletakkan visi di hati kita. Sehinggankitantahuuntuk apa Ia menciptakan kita. Ia jugalah yang akan memampukan kita untuk menghidupi visi tersebut, bukan dengan kekuatan daging, melainkan dengan hidup menurut Roh.

Jika kita benar-benar menginginkannya, maka kita akan menemukannya. Tahun 2004, saya memahami visi Allah seperti halnya perumpamaan Harta Terpendam & Mutiara Berharga (Matius 13:43-45). Kita harus mencarinya, & ketika menemukannya kita harus bersedia membayar harganya dengan "menjual segala milik kita."

Apakah anda sepakat dengan saya untuk tidak berhenti di sini? Kembali melanjutkan petualangan rohani ini. Di mulai dengan mencari apa yang menjadi visi Allah bagi hidup kita, & bersiap untuk menjual seluruh milik kita untuk terjadinya sebuah pertukaran. Ini bukan harga yang impas. Meskipun kita membayarnya dengan seluruh milik kita, kita tidak akan pernah mengalami kerugian. Biarkan Sorga membuktikan apa yang telah ditulisNya.


Senin, 06 Februari 2012

30th: TODAY IS MY BIRTHDAY!

Today is my birthday! Nggak terasa udah memasuki usia 30 tahun.

Sungguh hari imi adalah hari yang patut disyukuri. Berbeda dengan tahun lalu. Tahun di mana saya mengalami pergumulan yang begitu menyesakkan hati. Saya masih ingat, persis tahun lalu... ketika bangun pagi saya menerima banyak sms, bbm & postingan di facebook berupa ucapan ulang tahun. Sungguh senang rasa dicintai oleh banyak orang. Tapi pada saat yang bersamaan, ada seseorang yang memaki & mengancam saya. Akibat mempercayai orang yang salah, nyaris saja saya kehilangan reputasi & banyak hubungan baik. Satu ancaman & makian di hari ulang tahun saya tahun lalu, cukup untuk menghilangkan sukacita akibat ucapan yang diucapak oleh ratusan orang lainnya.

Syukurlah, semua sudah lewat... Oleh anugerah-Nya, hari ini untuk pertama kalinya saya merayakan ulang tahun sebagai seorang suami.

Tepat jam 12 malam, isteri saya berdoa untuk saya...

Saya memutuskan untuk mengisi hari ulang tahun saya dengan baik:

1. Saya melakukan doa puasa di hari ulang tahun saya... Tidak terasa usia saya sudah 30 tahun. Saya harus lebih sungguh hidup di dalam panggilan Tuhan. Saya berdoa puasa untuk mempertajam visi Allah dalam hidup saya.

2. Saya memutuskan untuk menaikkan doa syafaat khusus bagi banyak orang di hari ulang tahun saya. Saya sudah menyelesaikannya pagi ini...

3. Sebagai bentuk penghormatan saya akan Tuhan & firman-Nya yang telah menuntun saya hari ini, saya berkomitmen untuk membaca 30 pasal firman Tuhan di hari ulang tahun saya ini... Oleh karena firman itu menuntun saya, hari ini saya ada. Dan saya berjanji untuk terus hidup di dalam firman-Nya di tahun-tahun yang akan datang.

4. Melakukan perjamuan kudus untuk meneguhkan kembali perjanjian saya dengan Tuhan

5. Membalas setiap ucapan selamat dari sms, bbm, facebook & twitter. Saya senang mengekspresikan rasa terima kasih saya.

6. Dinner bersama isteri saya... Malam ini kami akan makan malam di Sushi Tei. Sejak pacaran kami suka makan Sushi Tei. Selain makanannya yang enak, kami juga memiliki kenangan di sana.

I declare God's favor in my life! Today will be a great day! Halelujah!!!

Jumat, 27 Januari 2012

API YANG HAMPIR PADAM

Letih! Tangki emosional saya terkuras habis. Perasaan kesepian menyergap. Saya merasa seperti Elia yang sembunyi di gua. Tidak tahu apa penyebabnya munculnya perasaan ini. Bohong rasanya kalo saya bilang bahwa saya tidak pernah lelah dengan "penggembalaan." Kadang saya mendapati diri saya sendirian & kesepian. Berada di tengah-tengah kebingungan & kehilangan arah.

Sebagai seorang pemimpin & bapa di dalam komunitas, saya menjadi penentu arah & kondisi komunitas. Kami seperti sekumpulan pasukan yang sedang tersesat di hutan, kehilangan arah, capek & lapar. Kami tahu bahwa kami baru saja berhadapan dengan musuh & melewatkan pertempuran yang tidak begitu buruk. Namun sekarang apa lagi...

Pasukan seperti kehilangan gairah. Mereka menunggu. Seperti yang saya duga, mereka menunggu saya. Saya pernah menemukan kebenaran ini ketika melayani sebuah Camp anak muda di Salatiga: "Ada 2 alasan mengapa kita sulit untuk bangkit: 1. Karena kita terlalu terluka atau 2. karena kita terlalu nyaman." Tapi bagaimana jika seandainya kita berada di antara keduanya. Di antara terluka & nyaman.

I Raja-raja  19:9 
Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"

Ketika kita kehilangan roh yang menyala-nyala, kita nyaris tidak mampu lagi untuk melayani Tuhan. Tidak seorang pun mampu melayani Allah dengan kekuatan daging. Untuk melayani Dia & hidup berkenan kepada-Nya, kita harus hidup di dalam roh. Kita harus dipimpin oleh Roh Kudus.

Tindakan mengisolasi diri dapat memadamkan api & gairah rohani yang kita miliki. Hidup berkomunitas bukan sekedar "status," melainkan "terlibat." Mereka yang tidak terlibat, jarang mendapat manfaat. Keterlibatan merupakan bukti dari komitmen. Sepertinya kata "komitmen" telah luntur maknanya. Kita sedang hidup di tengah-tengah generasi yang "terluka" dengan kata "komitmen." Komitmen dilanggar oleh para suami, isteri, atasan, karyawan, pemimpin rohani, presiden, politikus dll.

Kita harus mengembalikan kekuatan kata "komitmen" sesuai dengan bagaimana Allah menggunakannya. Allah berkomitmen terhadap kita, itu sebabnya Ia menyerahkan nyawa-Nya. Mereka yang betul-betul berkomitmen akan bersedia berkorban.

Tanpa kekuatan komitmen, sebuah gereja tidak dapat dibangun & berkembang. Tidak ada pertumbuhan gereja tanpa passion and commitment. Passionate terhadap hal-hal yang salah & berkomitmen kepada hal-hal yang salah... sepertinya kita kurang serius untuk belajar dari Tuhan untuk mengenali perbedaan antara hal-hal yang benar & hal-hal yang salah. Kita terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga proses pembelajaran tidak terlalu berdampak pada "jiwa" kita. Indera kita yang beroperasi di luar kendali Roh Kudus masih memimpin hidup kita, bukan roh yang ada di dalam kita.
Saat kita membutuhkan passion, kita perlu naik ke atas mezbah. Dengan segala penyerahan diri kita harus mengizinkan Allah menurunkan api-Nya untuk "membakar" hati kita. Terlalu sering "api asing" yang menggerakkan kita untuk hidup & melayani Tuhan. Itu sebabnya yang lahir ialah buah daging.

Ada saat di mana kita dapat dengan mudah menaikkan doa-doa yang penuh terobosan. Namun ada kalanya kita perlu "memaksakan diri" untuk masuk ke dalam terobosan. Mempercayai kekuatan Roh berarti menolak untuk memanjakan daging kita. "Menyangkal diri" itulah inti "pemuridan." Kita ingin pelajaran rohani tanpa penyangkalan diri. Yang kita terima hanyalah "hikmat dunia." Tidak ada pewahyuan Allah tanpa penyangkalan diri. Allah tidak akan mengubah standard-Nya. Kita tidak akan berhasil menghidupi standard Allah tanpa hidup di dalam DIA.

Teruskan perjuangan... Alami terobosan...
Melekatlah pada Pokok Anggur, karena DIALAH sumbermu!


Roma 12:11 
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

Kamis, 26 Januari 2012

HABIT OF READING


Sudah 27 hari. Saya sedang akan menghabiskan buku ke 7 tahun ini.

Sejak tahun 2004, saya menetapkan target baca buku setiap tahunnya. Dimulai dari 30 buku pada tahun tersebut. Rekor yang pernah capai ialah sebanyak 70 buku, yaitu pada tahun 2007. Rata-rata saya membaca 50 buku dalam setahun.

Beberapa waktu belakangan ini saya merasa lebih mudah menghabiskan sebuah buku. Antara 2-3 hari untuk satu buku setebal kurang dari 200 halaman. Padahal sejak kecil saya bukan "kutu buku."

Kebiasaan membaca saya bangun ketika saya mulai lahir baru. Banyak hal seputar iman Kristen ingin saya ketahui. Buku-buku "bapa rohani" saya yang kala itu ssedang menyelesaikan studi di Sekolah Theologia menjadi incaran saya. Saya membaca karena saya di dorong oleh tujuan. Manfaat yang saya dapatkan dari membaca, membuat saya tidak pernah berpikir untuk berhenti membaca.

Setiap tahun saya menghabiskan uang yang sangat banyak untuk membeli buku. Pada tahun 2008, saya mendapat kesempatan untuk melayani ke luar negeri. Sydney, Australia menjadi kota & negara pertama yang saya injak. Saya harus berterima kasih kepada kedua sahabat saya: Andry Sugandi & Wigand Sugandi yang mengantar saya ke toko buku Koorong. Saya pulang ke Indonesia membawa 35 buku. Bayangkan, saya menghabiskan uang sekitar 300 dollar Australia untuk membeli buku-buku tersebut.
Beberapa bulan lagi saya akan kembali datang ke Sydney, Australia. Tentu toko buku Koorong telah menjadi salah satu "destination" di mana saya akan menggunakan sebagian uang saya.

Pembelajaranlah yang membawa saya pertama kali ke kota Sydney untuk berkhotbah sebanyak 11 kali dalam waktu 3 minggu 10 hari. Waktu itu saya sungguh-sungguh mempersiapkan diri selama 4 tahun dengan banyak membaca. 4 tahun setelah kedatangan saya terakhir, kini saya kembali ke sana. Saya rasa 4 tahun ini saya telah belajar lebih banyak. Lebih tepatnya, bertobat lebih banyak. Belajar berarti bertobat. Menambah pengetahuan tidak akan membawa dampak apapun, jika kita tidak membuat keputusan untuk berubah dengan membuang apa yang salah & menerima apa yang benar.

Saat ini saya jauh lebih siap untuk melayani ke luar negeri. Persiapan yang saya lakukan bukan hanya dengan membaca, tetapi juga dalam latihan rohani. Saya belajar bertanya kepada Tuhan mengenai buku yang harus saya baca. Membaca buku yang tepat di waktu yang tepat sangat penting. Allah sering berbicara kepada saya melalui buku-buku yang saya baca. Belajar tidak mengabaikan impresi yang datang untuk membaca atau membeli sebuah buku, telah mendatangkan banyak keuntungan bagi kehidupan rohani saya. Saya mencintai buku. Allah menggunakan kecintaan saya pada buku untuk mengajar, mewahyukan Diri & berbicara kepada saya.

Setiap orang percaya harus hidup dipimpin Roh. Ini bukan sekedar sebuah ungkapan. Inilah kebenarannya! Bahkan dalam soal membaca buku pun, kita harus bertanya: buku apa yang Tuhan ingin kita baca saat ini! Ada kalanya Tuhan meminta saya untuk berhenti membaca buku sejenak, karena ia hendak berbicara dengan cara yang lain. Saya belajar menaatinya. Walaupun saya suka membaca buku-buku rohani, namun kecintaan saya terhadap buku tidak boleh melebihi kecintaan saya kepada Tuhan. Bahkan saya tidak boleh lebih suka membaca buku-buku rohani daripada membaca Alkitab (the anointed Book).

Sejak awal pelayanan, saya selalu memegang perkataan John C. Maxwell: "Pembaca adalah Pemimpin." Jika sampai hari ini saya membaca, itu karena saya masih ingin terus berfungsi sebagai seorang pemimpin. Setiap pemimpin akan diperhadapkan pada situasi pembuatan keputusan yang sulit. Kita membutuhkan wawasan untuk membuat keputusan dengan benar. Kebiasaan membaca akan membantu para pemimpin untuk membuat keputusan dengan benar.

Kebiasan membaca membuat saya tidak pernah bosan dengan hidup saya. Di dalam buku-buku tersebut, saya menemukan banyak hal yang baru untuk dipelajari.

Dipercaya untuk menolong banyak orang melalui konseling & konsultasi merupakan sebuah anugerah Tuhan bagi hidup saya. Dengan membaca, saya menyambut kepercayaan yang Tuhan berikan dengan penuh tanggungjawab. Saya tidak dapat membagi apa yang tidak saya miliki. Mentalitas pembelajar adalah hal yang mutlak dimiliki oleh setiap para pelayan Tuhan. Itu sebabnya para pengikut Yesus disebut "disciples." Mereka dipakai karena mereka mau terus belajar.

Kamis, 19 Januari 2012

MATA PELAJARAN YANG SELALU DIULANG


Pengalaman hidup dengan akar penolakan membuat seseorang sulit untuk bersikap tegas. Tegas adalah sebuah kata yang mengingatkan saya pada sebuah buku yang pernah saya baca di awal pertobatan. Buku tersebut berjudul "Berani Berkata TIDAK Tanpa Merasa Bersalah" yang ditulis oleh Robert Liardon. Kegagalan saya menghidupi pelajaran ini di masa lalu, membuat saya harus terus mengulang kembali pelajaran yang sama. Pelajaran ketegasan.

Ketegasan merupakan sikap yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pria & seorang pemimpin. Tanpa ketegasan, tidak akan ada kemajuan. Bukan hanya itu. Ketegasan juga dapat mencegah terjadinya kehancuran. Takut penolakan telah membuat saya sering membiarkan suatu masalah serius, meskipun gejala-gejalanya telah terlihat sangat jelas.

Saya sering menyesal. Menyesal untuk apa yang tidak saya lakukan untuk melindungi orang-orang yang saya kasihi. Saya tidak berani mengatakan kebenaran hanya karena takut menyinggung perasaan orang lain. Dalam gaya kepemimpinan, saya cenderung untuk selalu menghindari konfrontasi. Ada banyak dalih yang bisa saya berikan untuk menutupi ketakutan & ketidaktegasan saya. Salah alasannya ialah: kasih. Dengan pengertian yang dangkal, saya beranggapan bahwa ketegasan berlawanan dengan kasih. Sikap "permisif" dengan mudah tumbuh, sehingga menghasilkan buah-buah kompromi dalam hidup banyak orang.

Orang-orang Kristen yang senang hidup di dalam dosa & suka memaklumi kejatuhan sangat menyukai gaya kepemimpinan saya. Sikap suka memaklumi, permisif & tidak tegas memang membuat saya menjadi pemimpin yang disukai. Namun menjadi pemimpin yang disukai bukan tanda keberhasilan. Tanpa saya sadari, orang-orang yang saya pimpin menunjukkan gejala kehidupan Kristen yang tidak sehat. Hidup seenaknya, tidak memiliki disiplin rohani, moody & tidak banyak yang muncul sebagai pemimpin yang kuat.

Meskipun saya sering menerima pujian dari banyak orang, namun saya mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan gaya kepemimpinan saya. Telah terjadi ketidakseimbangan dalam prinsip kepemimpinan. Kasih karunia tidak berjalan dengan kebenaran, hingga ketimpangan tersebut menghasilkan "penyalahgunaan kasih karunia."

Dua tahun terakhir, Allah banyak mengajar saya mengenai "ketegasan." Bidang di mana saya telah berulang kali gagal. Allah menggiring saya masuk ke dalam konfrontasi-konfrontasi langsung. Beberapa pewahyuan menyingkapkan bagaimana cara konfrontasi itu seharusnya dilakukan.

Bahkan memasuki tahun 2012 ini, saya banyak berurusan dengan masalah ketegasan. Waktu-waktu doa menjelang pergantian tahun, menjadi saat di mana Allah sering menyingkapkan pesan-pesan untuk tahun yang akan datang. Roh Kudus berbicara bahwa tahun 2012 akan menjadi "The Year of Spiritual Leadership" bagi saya. Allah meminta agar saya lebih lagi hidup dipimpin oleh Roh Kudus di dalam pengambilan keputusan. Ternyata "ketegasan" menjadi area yang sangat berperan.

Untuk setiap permintaan & tawaran yang tidak sesuai dengan firman Tuhan & hati nurani yang murni, saya memberanikan diri berkata "tidak." Saya menyadari bahwa beberapa orang tidak suka dengan jawaban yang saya berikan. Bahkan lebih jauh dari itu, beberapa dari mereka benar-benar tidak menyukai saya. 

Saya ingat salah satu nubuatan yang diberikan kepada saya dipertengahan tahun 1999. Tuhan akan memakai pelayanan saya seperti Yohanes Pembaptis. Nubuatan ini terkubur begitu dalam. Saya tidak bisa melihat kesamaan Yohanes Pembaptis yang pemberani dengan diri saya yang penakut & cenderung main aman. Saat ini saya sedang melihat nubuatan tersebut mulai digenapi. Pengurapan Allah yang terus bertumbuh seiring dengan pertumbuhan rohani yang saya terima dari Allah, mendatangkan banyak keberanian di dalam diri saya. Saya tidak laku takut ditolak ataupun dibenci karena melakukan & mengatakan kebenaran. Saya harus mempertanggungjawabkan seluruh pelayanan saya kepada Allah, bukan kepada manusia. Penilaian yang sejati datang dari Allah, bukan manusia. Saya tidak boleh membangun pelayanan saya, tetapi harus membangun Kerajaan-Nya. Saya tidak boleh mencari pengikut, tapi menjadikan semua orang murid Yesus (bukan murid saya).

Saya berharap pelayanan saya kali ini semakin matang & didewasakan oleh Allah. Saya tidak terlalu peduli pada berapa banyak undangan khotbah keliling yang saya terima dalam satu tahun. Bukan hal ini lagi yang saya kejar. Saya cuma mau tahu Tuhan mau apa dari hidup saya. Saya ingin hidup berkenan kepada-Nya. Saya ingin menjadi seorang hampa Tuhan yang "accountable & responsible" dihadapan Tuhan. Mungkin saat ini saya masih jauh dari ini semua. Namun saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan untuk melayani DIA. Saya menerima cuma-cuma, dan saya akan berikan secara cuma-cuma. Seperti janji Allah di awal pelayanan penggembalaan saya: "Kamu tidak hidup dari pemberian orang lain, melainkan hidup dari pemberianmu. Mulailah menabur & Aku akan memberkatimu." Terima kasih untuk janji-Mu Bapa. i love you so much...

Minggu, 15 Januari 2012

WHAT IS YOUR JOB?



Sampai sekarang saya masih sering mendengar pertanyaan: "what is your job?" Pekerjaan seseorang menggambarkan banyak hal tentang orang tersebut. Namun pekerjaan bukan sekedar masalah status atau jabatan. Bukan apa yang tertera di kartu nama kita. Pekerjaan adalah sebuah pengabdian diri, bersedia berbagi & menolong orang lain sesuai dengan kemampuan ataupun ketrampilan yang kita miliki, untuk kebaikan orang lain. Pada umumnya orang mengukur pekerjaan berdasarkan posisi, nama perusahaan, besarnya gaji & tunjangan. Memang betul bahwa hal tersebut sangat penting sekali. Namun, jika kita bekerja hanya untuk status & uang, maka kita bisa kehilangan hakikat kerja sebagaimana Allah merancangkannya untuk kita.

Banyak orang berpikir bahwa pekerjaan seorang pendeta (pastor atau gembala jemaat) adalah berkhotbah. Saya sering mengatakan bahwa tugas pendeta (pastor atau gembala) bukan HANYA berkhotbah. Berkhotbah hanya salah satu dari sekian banyak tugas pelayanan yang dilakukan oleh seorang pastor atau gembala jemaat.

Hari-hari ini saya sedang mengatasi sebuah permasalahan yang sangat serius di dalam jemaat. Dibutuhkan karakter, kepemimpinan, doa, hikmat & kerja sama tim yang baik untuk bisa membuat keputusan dengan benar. Saya harus membuat keputusan yang cukup sulit. Menghadapi banyak serangan & kritik. Disalahpahami. Terancam kehilangan hubungan-hubungan tertentu.

Beberapa tahun lalu (mungkin masih sampai sekarang), banyak orang ingin menjadi pendeta. Kisah pertobatan yang dramatis, membuat orang-orang tertentu dikagumi karena kesaksian-kesaksian mereka yang luar biasa. Manusia suka dengan pengaruh, posisi & kekuasaan. Pujian orang lain bisa membawa kita ke jalur di mana sebenarnya bukan bagian kita. Tiba-tiba "menjadi pendeta" menjadi trend & tujuan dari banyak orang Kristen. Anak muda, pengusaha, artis, dan berbagai profesi lainnya, berbondong-bondong meninggalkan pekerjaan mereka yang sebelumnya untuk menjadi pendeta. Jika itu memang panggilan Tuhan, tidak masalah. Namun, berapa banyak orang yang menjadi pendeta & menggembalakan gereja tahu persis apa tugas & pekerjaan mereka? Apakah mereka tahu bagaimana mengajar, memuridkan, mengkonseling dengan benar, melakukan "truth confrontation", mendoakan orang lain, merintis gereja, dll? Membuat keputusan dalam tingkat kepemimpinan rohani bukan perkara mudah. Kita tidak bisa memutuskan dengan pertimbangan manusia. Seperti kata Edwin Louis Cole, "hikmat manusia mengacaukan kebenaran Allah." That's true!

Sebagai pendeta muda, saya belajar menghayati panggilan, peran, tigas & tanggungjawab saya. Ada saat di mana saya melakukan pemberkatan nikah, membaptis orang, melakukan penyerahan anak di gereja, berkhotbah, membangun hubungan dengan gereja/pendeta lain... Saya belajar memahami panggilan hidup saya bukan hanya sebatas jabatan & status, melainkan apa yang Tuhan inginkan dari saya di waktu-waktu tertentu.

Hari ini saya sudah melayani konslutasi 4 orang melalui BBM. Menjawab pertanyaan mereka, memberi saran & pengajaran sesuai Firman Tuhan. Pekerjaan saya tidak terbatas oleh ruang & waktu. Saya harus siap kapan pun Allah hendak memakai saya. Itu sebabnya, saya belajar mempersiapkan diri sebaik mungkin setiap hari. Displin doa puasa minimal seminggu sekali, membaca 50 buku setahun, setiap hari membaca 9 pasal ayat Firman Tuhan, melakukan pembapaan & pemuridan untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin masa depan & membangun hubungan dengan orang-orang yang saya pimpin.

Beberapa pengalaman rohani yang Allah berikan membuat saya tidak ingin lagi untuk "kejar setoran" (khotbah keliling dari satu gereja ke gereja lain setiap minggu dengan harapan mendapatkan banyak uang persembahan kasih). Saya tahu bahwa konsekuensi finansial untuk keputusan ini. Namun, saya memilih untuk menjalaninya tanpa rasa takut. Larry S. Julian dalam buku God is My Success mengatakan bahwa finansial freedom adalah ketika kita berani mengambil keputusan yang benar tanpa takut akan konsekuensi finansial, karena kita percaya bahwa Allah itu sendirilah sumber berkat.

Dampak yang muncul dalam setiap pelayanan saya sebenarnya merupakan hasil dari apa yang saya lakukan setiap hari. Apa yang orang tidak lihat ketika saya berdoa di kamar. Membaca & meneliti Firman Tuhan untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Masih terjaga untuk membaca buku ketika isteri saya sudah tertidur lelap.

Jika kita tidak menghargai panggilan Tuhan, kita akan kehilangan panggilan tersebut. Iblis ingin mengaborsi panggilan Tuhan dalam hidup kita, sehingga ia dapat menghancurkan banyak kehidupan. Tahun 2012, saya berkomitmen lebih lagi untuk membangun kehidupan roh saya sebagai seorang pemimpin, karena percaya bahwa waktunya sudah sangat singkat. Status pekerjaan saya tidak sepenting panggilan hidup saya. Saya akan membayarnya dengan hidup & nyawa saya sehingga semua yang Allah rencanakan terjadi dalam hidup saya.

Jumat, 13 Januari 2012

Holy Matrimony 7 January 2012



7 January 2012, untuk kedua kalinya saya memberkati pasangan yang menikah. Kali ini pasangan begitu spesial. Ia anak rohani saya. Perkenalan kami sudah hampir 12 tahun. Tuhan mengizinkan saya terlibat dalam berbagai keputusan penting dalam hidupnya & menyaksikan kasih setia Tuhan yang begitu hebat dalam setiap kesempatan. Tuhan tidak pernah menyerah menghadapi setiap kegagalan & kesalahannya. Dalam keberhasilan yang paling menggembirakan, hingga kegagalan yang paling memalukan, Ia selalu ada bersama-sama dengan kita.

Saya senang dia menemukan pasangan yang sepadan. Sesi-sesi konseling pra-nikah kami lalui tahap demi tahap, hingga saat yang dinanti pun tiba.

Saya tiba di Hotel Padma Bandung dengan kondisi tubuh yang kurang baik akibat kurang istirahat selama 3 hari. Belum lagi saya tidak cukup siap dengan pesan yang harus saya khotbahkan di ibadah pemberkatan nikah keesokan sorenya.

Dalam melayani pekerjaan Tuhan, saya belajar untuk tidak menganggap remeh setiap kesempatan untuk melayani Dia. Mentalitas menganggap remeh menyebabkan seseorang tidak siap & tidak memberi yang terbaik. Akibatnya adalah penyesalan. Banyak penyesalan yang telah saya alami di dalam hal berkhotbah, yang disebabkan oleh mentalitas ini: khotbah yang terdengar asal-asalan & tidak siap. Berbagai tanggapan yang kurang menyenangkan menjadi salah satu konsekuensinya. Saya tahu itu bukan salah siapa-siapa, itu salah saya & saya harus berubah.

Menjelang pemberkatan nikah anak rohani saya, pikiran saya tidak tenang. Selain kondisi badan yang kurang sehat, saya juga sedang memikirkan suatu masalah yang sedang terjadi di dalam jemaat. Saya betul-betul merasa "stuck." Tidak bisa berpikir. Bahkan saya kesulitan membaca Firman Tuhan karena susahnya berkonsntrasi akibat kurang istirahat & kepala cenat-cenut karena masuk angin. Malam itu saya berusaha keras menyelesaikan komitmen harian saya membaca 9 pasal ayat Alkitab (5 Perjanjian Lama & 4 Perjanjian Baru). Sungguh suatu perjuangan yang luar biasa.

Secara ajaib Tuhan membantu saya mempersiapkan pesan pemberkatan nikah sekitar 1 jam menjelang pemberkatan nikah di mulai. Saya begitu bersemangat sore itu. Pemberkatan Nikah yang seharusnya dilakukan outdoor, berubah menjadi indoor karena hujan turun sore itu. Luar biasa, pemberkatan nikah sore itu berjalan dengan sangat baik. Hal yang tidak disangka, malam itu saya menerima begitu banyak pujian baik dari pihak keluarga, tamu maupun pendeta-pendeta lain yang hadir di sana. Jujur saja, sebenarnya saya merasa tidak layak menerima semua pujian itu. Saya bukan orang yang cukup fasih membawakan khotbah di acara se-resmi ini. Apalagi melihat ketidaksiapan saya sebelumnya. Sungguh, ini semua adalah anugerah Tuhan.

Hari itu saya mengalami mujizat & pertolongan Tuhan dalam menyiapkan khotbah. Bagaimana seandainya saya berkhotbah dengan sangat buruk sehingga mengacaukan kebahagiaan orang lain (kedua mempelai & keluarga). Pelayanan adalah sebuah kepercayaan. Setiap kepercayaan yang diberikan kepada kita layak untuk dilakukan dengan sebaik mungkin.

Setelah acara pemberkatan nikah, saya kembali ke kamar hotel untuk ganti kemeja & dasi. Saya siap untuk menikmati resepsi pernikahan dengan warna kemeja & dasi yang berbeda. Saya berpikir setidaknya orang-orang yang tadi hadir di acara pemberkatan nikah sore tidak akan terlalu menyadari atau mengenali kehadiran saya di tengah kerumunan. Ketika hendak memasuki ruang resepsi, seorang ibu berbaju orange yang baru saja melewati saya, kembali untuk menyapa saya sambil berkata "Pak pendeta, terima kasih. Tadi khotbahnya sangat bagus. Saya sangat terberkati." Perasaan malu bercampur senang melingkupi hati saya. Setidaknya pesan yang saya sampaikan bukan hanya memberkati kedua mempelai, tetapi juga semua yang hadir. Saya lega karena Roh Kudus menolong saya untuk memberikan pesan yang terbaik di hari pernikahan anak rohani saya. Sampai kapan pun saya tetap ingin bisa dipercaya. Karena itu, saya harus terus belajar untuk tidak menganggap remeh apa yang dipercayakan kepada saya.

Gagasan Yang Hebat Harus Ditindaklanjuti


Saya sedang membaca buku "Berpikir dan Berjiwa Besar" yang ditulis oleh David J. Schwartz. Saya merasa tertemplak ketika membaca sebuah cerita dari buku tersebut.

Lima atau enam tahun yang lalu, seorang profesor yang sangat ahli mengatakan kepada saya tentang rencananya untuk menulis buku, biografi dari tokoh kontroversial beberapa dasawarsa yang lalu. gagasannya sangat menarik; gagasan tersebut hidup & mempesona. Profesor tersebut tahu apa yang ingin ia katakan, & ia mempunyai keahlian & energi untuk mengatakannya. Proyek tersebut ditakdirkan untuk memberinya imbalan berupa kepuasan batin yang besar, prestise & uang.

Musim semi yang lalu, saya bertemu kembali dengan teman saya ini & dengan lugu bertanya kepadanya apakah buku tersebut sudah hampir selesai. (Ini kesalahan besar; ini membuka luka lama).

Belum, ia belum menulis buku itu. Ia bergulat dengan dirinya sendiri untuk sesaat seolah ia sedang berdebat dengan dirinya apakah perlu menjelaskan alasannya. Akhirnya ia mengatakan bahwa ia terlalu sibuk, ia mempunyai "tanggungjawab" lebih besar & benar-benar tidak dapat menulis bukunya.

Setiap hari ribuan orang mengubur gagasan yang bagus karena mereka takut untuk melaksanakannya. Gagasan yang bagus saja tidak cukup. Gagasan sederhana yang dilaksanakan, & dikembangkan, adalah seratus persen lebih baik daripada gagasan hebat yang mati karena tidak ditindaklanjuti.

Sejak beberapa bulan lalu, saya ingin sekali menulis sebuah buku berjudul "Equipped For Hope." Ketika hasrat tersebut muncul di hati saya, saya menulis beberapa draft tentang buku tersebut. Sampai saya sadari bahwa saya tidak pernah lagi menyentuhnya. Penundaan, entah apapun alasannya, membuat seseorang menjadi tidak produktif. Saya harus kembali meneruskan apa yang telah saya mulai, sehingga di tahun ini, buku "Equipped For Hope" bisa terbit & menjadi berkat bagi banyak orang.

Rabu, 12 Desember 2012

Mengasihi dan berbuat baik kadang membuat kita lelah. Bukan hanya kelah secara fisik, tetapi juga lelah secara emosional. Manusia diberikan 2 kapasitas oleh Allah, yaitu: kapasitas untuk memberi dan kapasitas untuk menerima.

Ada saat di mana pelayanan menuntut kita untuk terus-menerus memberi dan berkorban bagi orang lain, tanpa menghiraukan diri kita sendiri. Kita terus memperhatikan kehidupan orang lain, hingga suatu ketika kita merasa sepertinya orang lain tidak terlalu mempedulikan kita. Kita seperti seseorang yang memperhatikan semua orang, tetapi kita merasa tidak ada seorang pun yang memperhatikan kita.

Menjadi seorang pemimpin artinya menjadi orang yang siap menghadapi tuntutan-tuntutan. Tidak ada satu orang pemimpin pun yang tidak menghadap tuntutan. Semakin besar pengaruh kepemimpinan seseorang, semakin besar tuntutan yang ia terima. Setiap pemimpin harus mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan tuntutan, sebelum tuntutan-tuntutan tersebut menghancurkan dirinya.

Saya mengambil waktu berdiam diri di tengah segala kesibukan saya memikirkan masalah-masalah orang lain. Ketidakseimbangan hidup dapat membuat kita mudah masuk ke dalam perangkap intimidasi. Iblis dengan gencar menyemburkan kebohongan ke kepala kita.

Ini bukan waktunya mengasihani diri. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jangan meminta kepada manusia apa yang hanya bisa diberikan oleh Allah. DIA adalah sumber segala sesuatu yang baik.

Meski kita merasa lelah dalam berbuat baik, namun jangan berhenti berbuat baik. Disiplinkan pikiran-pikiran kita tentang orang lain, agar kita tidak mudah terintimidasi oleh karena hal-hal kecil yang terjadi. Jangan takut dengan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Hiduplah begitu luar biasa, sehingga pikiran-pikiran buruk orang lain tentang kita terbukti salah.

Kata "surrender" paling sulit dipahami di saat-saat krisis. Kita tidak suka saat di mana kita tidak memiliki kendali ketika saat-saat sulit terjadi di hidup kita. Pengalaman penuh penyerahan diri bisa menjadi pengalaman paling menyakitkan secara emosional. Kita berada posisi direndahkan tanpa kemampuan membela diri.


Saat di mana kita berhasil lolos dari sebuah krisis, bisa menjauhkan kita dari "penyerahan diri." Pengalaman rohani dapat menjadi pengalaman traumatis di mana kita tidak ingin kembali lagi ke sana. Kita betul-betuk tidak suka dalam keadaan kalah, tidak berdaya, tidak punya pilihan, tidak memiliki kendali dan kemampuan untuk membela diri (atau bahkan melindungi orang-orang yang kita cintai).

Penyerahan diri merupakan prinsip ilahi yang memliki nilai kekal. Allah tidak pernah mengubah prinsip-prinsip Kerajaan Allah yang bersifat kekal. Teladan Anak Domba ada pada kata "penyerahan diri." Pertukaran terjadi ketika kita menyerahkan kendali kita dan hidup dalam kendali Allah.

Ada kalanya saya merasa Allah begitu "ngotot" dan memaksa saya untuk berserah. Kadang kita merasa begitu takut "dizolimi" oleh Allah. Walaupun Allah Yang Maha Kudus "tidak memiliki kemampuan" untuk berbuat curang kepada kita. Kekudusan Allah membuat Allah dapat dipercaya. Motif dan tujuan Allah dalam setiap tindakanNya kepada kita, selalu dimotivasi oleh kemahatahuan dan kasihNya yang begitu besar.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
(Yohanes 21:18)

Penyerahan diri kita menggambarkan tingkat kedewasaan rohani kita. Kita tidak dapat mengalami kedewasaan tanpa penyerahan diri, kita tidak dapat hidup dalam penyerahan diri tanpa kedewasaan.

Saya pernah mendengar seorang hamba Tuhan yang berkata: "Tidak ada istirahat tanpa penyerahan diri." Penyerahan diri bukan berarti bersikap pasif, melainkan secara aktif mencari tahu kehendak Tuhan.

Dibutuhkan keberanian untuk hidup dalam penyerahan diri kepada Tuhan. 








Rabu, 12 September 2012

Saya sudah mengenal prinsip 20/80 (the pareto principle) sejak kuliah. Dalam banyak bukunya, John C. Maxwell sering membahas tentang prinsip 20/80 ini ketika menerangkan mengenai prioritas. Saya tidak menyadari bahwa berulang kali saaya telah melanggar prinsip ini.

Untuk mendapatkan hasil 80% kita hanya perlu memfokuskan diri pada 20% hal yang paling penting. Di dalam kepemimpinan, kita harus meletakkan fokus kita pada 20% orang untuk kita kembangkan agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Terlalu sering, fokus saya terlalu melebar.Saya berusaha menolong semua orang. Bahkan menghabiskan waktu & energi saya untuk membangun orang-orang yang tidak mau berubah. Sedangkan mereka yang hmau berubah justru terbengkalai.

Memasuki masa-masa yang "crucial" di dalam kepemimpinan, membuat saya lebih "aware" terhadap prinsip-prinsip kepemimpinan yang saya telah pelajari selama ini. Baru semalam saya selesai membaca buku Learship 101 yang ditulis oleh John C. Maxwell kira-kira 10 tahun yang lalu. Apa yang sedang saya alami di dalam kepemimpinan saya hari-hari ini membuat saya semakin mengerti pentingnya prinsip-prinsip kepemimpinan tersebut. Selama ini saya secara tidak sengaja mengabaikannya, karena tidak melihat pentingnya prinsip-prinsip tersebut sampai akhirnya ketika permasalahan-permasalahan mulai timbul, barulah prinsip-prinsip itu terlihat penting.

Kadang kita "berpikir terlalu positif" akan apa yang sedang kita lakukan hari-hari ini. Rasa bangga (proud) terhadap hasil-hasil yang terlihat dari kepemimpinan kita dapat membuat kita terlena, berpuas diri & menjadi kurang waspada. Itu sebabnya salah satu hal yang paling penting yang harus dilakukan oleh setiap pemimpin untuk mengalami kemajuan, ialah EVALUASI. Melakukan evaluasi secara berkala akan membantu kita mtuk mengembangkan diri & mengatasi kekurangan kita. Untuk mendapatkan hasil evaluasi yang maksimal, dibutuhkan mata yang obyektif. Kita harus melihat diri kita sebagaimana adanya.mKita haus berani berhadapan dengan realita, fakta & kebenaran.

Mengevaluasi orang-orang yang berada satu tim dengan kita juga sangat penting untuk mengatasi kekurangan & mengembangkan kemampuan tim. Terlalu sering saya menyangkal kelemahan anggota tim & "terlalu mudah percaya" akan seseorang. Pada prinsipmya bersikap positif & mempercayai anggota tim kita tentu merupakan hal yang sangat baik. Namun bersikap positif bukanlah menyangkali keadaan. Sikap positif yang salah ialah sikap positif yang disertai sikap menyangkal kelemahan, fakta & kebenaran.

Pemahaman akan prinsip-prinsip kepemimpinan membuat saya memandang setiap tim dengan perspektif yang berbeda. Saya bukan hanya perlu tahu kelebihan mereka, tetapi juga kelemahan mereka.

Ketika saya membuat list mengenai orang-orang yang ada di dalam kepemimpinan saya & menilai mereka berdasarkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang saya pahami, saya mendapati 20% orang yang harus saya prioritaskan ialah orang-orang yang berbeda dengan penilaian atau dugaan saya sebelumnya.

Sejak tahun yang lalu, saya mulai memahami bahwa para pemimpin yang sukses bukan hanya bisa bekerja sama dengan orang lain, mereka juga mampu menilai orang lain dengan tepat serta memilih anggota tim mereka dengan benar.

Kadang saya merasa miliki kemampuan ini. Namun ternyata saya salah. Cara saya menilai & memilih orang dalam kepemimpinan perlu diperbaiki.

Saya memiliki kebiasaan yang harus diubah. Kebiasaan ini sangat menyangkut dengan masalah prioritas. Saya sangat suka menyimpan yang terbaik untuk dinikmati terakhir. Ketika makan di sebuah restaurant, bagian terbaik biasanya akan saya nikmati belakangan. Saya akan menikmati makanan di mulai dari yang   biasa hingga ke yang paling nikmat. Masalahnya, ketika saya menikmati bagian terbaik tersebut, saya sudah agak kenyang. Alangkah lebih baik jika saya menikmati bagian terbaik di awal, ketika perut saya masih sangat lapar. Tentu makanan tersebut akan sangat lezat di mulut saya.

Belum lama ini saya membeli 30 buku ketika melayani di Sydney, Australia. Ketika memutuskan mulai untuk membaca buku-buku tersebut, saya selalu menyimpan buku-buku terbaik untuk dibaca "nanti." Padahal hal-hal terbaik harusnya kita nikmati lebih dulu, buku-buku terbaik kita baca lebih dulu, & orang-orang terbaik kita prioritaskan untuk dibangun lebih dulu sehingga kita bisa memperkuat "influence" untuk membangun orang-orang yang dalam kepemimpinan kita.

Meskipun buku-buku tentang kepemimpinan semakin banyak, ternyata menjadi seorang pemimpin tetap tidak mudah. Menjadi pemimpin bukan tentang apa yang kita ketahui, melainkan tentang apa yang kita lakukan. Setiap pemimpin dinilai dari tindakan, keputusan & pilihan yang ia buat. Pengetahuan bukanlah kekuatan sampai pengetahuan itu kepemimpinan.

Perasaan "sudah tahu" kadang lahir dari kesombongan hati yang dapat menghambat "pertumbuhan" pribadi kita. Agarvmenjadi pemimpin yang terus bertumbuh & meningkatkan pemgaruh yang kita miliki, kita harus belajar menjadi NOL sehingga kita selalu bisa diajar & belajar banyak hal.

Rabu, 05 September 2012

"Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, & yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Matius 19:30)


Sudah 14 tahun saya menjadi orang Kristen yang lahir baru. Selama perjalanan rohani saya, Tuhan memakai banyak orang untuk terlibat dalam membentuk kehidupan rohani saya. Merupakan sebuah sukacita yang luar biasa mengetahui bahwa kita memiliki saudara seiman yang bertumbuh bersama dengan kita.

Saat menengok kembali ke belakang, saya menyadari sesuatu telah terjadi... saya kehilangan beberapa orang yang pernah Tuhan pakai begitu luar biasa untuk membantu saya bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus. Seorang sahabat yang selalu menjemput saya untuk pergi ke gereja di awal pertobatan saya, seorang kakak kelas yang memberikan saya banyak kesempatan untuk melayani Tuhan, seorang sahabat yang pernah menyampaikan sebuah nubuat yang begitu mempengaruhi jalan hidup saya.

"Kehilangan" adalah istilah yang saya pilih untuk menggambarkan kehidupan rohani mereka saat ini. Kami masih berhubungan baik hingga hari ini. Namun, mereka tidak lagi memiliki kehidupan rohani seperti dulu.mBerkaca dari kehidupan mereka saat ini, saya mencoba memasang rambu-rambu rohani. Saya tidak ingin suatu kali, hal yang sama terjadi kepada saya.

Mengembalikan sahabat-sahabat saya pada "kondisi" yang seharusnya bukan perkara mudah. Mereka bukannya tidak tahu kebenaran. Namun inilah yang terjadi jika orang-orang yang pernah mengerti kebenaran mundur dari Tuhan. Ada semacam benteng yang menghalangi mereka untuk kembali. Itu sebabnya, selalu dibutuhkan kerendahan hati untuk kembali ke tempat di mana kita memulai. Tanpa kerendahan hati, hampir-hampir kita tidak akan dapat dipulihkan.

Kecewa dengan orang Kristen, cinta akan uang, haus pengakuan, kejatuhan yang tidak diatasi dengan pola pemberesan (pertobatan) yang benar & kesombongan, dapat membawa kita menjauh dari Tuhan. Ada kalanya sindrom Saul terjadi di tengah-tengah kita. Kita sulit mengenali saat di mana sesungguhnya "roh Tuhan" sudah undur datri kehidupan kita. Roh Allah undur diam-diam, tidak ada seorang pun yang tahu & kita pun tidak menyadarinya.

Saul mencoba menjalankan tugasnya sebagai raja, tanpa pemgurapan seorang raja.

Kehilangan pengurapan bukan sekedar kehilangan kuasa Tuhan, melainkan kehilangan kepercayaan dari Tuhan.

Melihat kehidupan rohani yang sembrono dari beberapa orang Kristen & hamba Tuhan, sepertinya hari-hari ini banyak orang tidak takut kehilangan pengurapan. Jika kita tidak mengetahui tujuan pengurapan, kita tidak akan merasa membutuhkannya. Bahkan ketika kita kehilangan pengurapan tersebut, kita masih beranggapan bahwa hal itu bukan masalah besar.

Hey, kehilangan pengurapan merupakan sebuah masalah serius! Kehilangan pengurapan berarti kehilangan keperayaan dari Allah. Dibutuhkan integritas untuk mengaktifkan & melipatgandakan pengurapan di dalam roh kita.

Mereka yang berjalan di dalam pengurapan akan menyaksikan hasil-hasil yang berbeda dari mereka yang tidak berjalan di dalam pemgurapan.

"Melayani" sudah menjadi kata yang rancu di dalam kekristenan. Berbagai tujuan & agenda pribadi yang memberi warna lain dari warna yang diberikan Yesus, mendatangkan banyak kesalahpahaman & kebingungan di dalam Tubuh Kristus (baca: gereja).


Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Lukas 10:3)

Yang harus kita minta agar Tuhan mengirimkan kepada kita ialah "pekerja," bukan artis, CEO, bisnisman, maupun musisi handal. Mintalah pekerja!

Hari-hari ini kata "melayani" sering digunakan oleh orang-orang tertentu untuk mendapatkan pengaruh, kendali, popularitas maupun uang. Kata ini telah diselewengkan begitu rupa sehingga banyak orang mulai bersikap curiga kepada pelayanan-pelayanan sejati.

Melayani adalah cara Allah mengikis daging kita. Pelayanan yang sejati bukan memberikan kenyamanan kepada daging. Melalui pelayanan kita dipanggil untuk mendahulukan orang lain. Ini tentu sangat bertentangan dengasifat dasarvmanusia yang memiliki kecenderungan untuk bersikap egois.

Suatu hari saya begitu kelelahan dengan berbagai aktifitas & kesibukan yang ada. Bahkan hal-hal kecil pun begitu menyibukan & menguras energi saya. Dalam keadaan letih, saya masih harus berhadapan dengan sikap orang lain yang cukup "bossy" (sok main suruh & perintah). Saat kejengkelan mulai menyelinap masuk, Roh Kudus pun tidak kalah cepat untuk memanfaatkan peluang untuk memuridkan seorang murid yang sedang tidak siap belajar.

Di tengah kelelahan saya, Roh Kudus berbisik: "Kamu melayani karena kamu pemimpin! Melayani adalah cara Alkitabiah untuk menjadi besar!" Melayani adalah jalan menuju promosi ilahi!" Tiba-tiba saja keletihan & perasaan jengkel saya terangkat. Seandainya saja banyak orang Kristen memahami agenda Allah dibalik situasi tidak menyenangkan di mana kita merasa seperti "kacung," namun pada saat itulah Allah sedang mempersiapkan kita; kita tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Kesempatan-kesempatan besar seringkali bersembunyi di balik perkara-perkara kecil.

"Mengapa semuanya harus aku yang mengerjakannya?"
"Mengapa aku selalu disuruh-suruh sama orang ini?"
"Mengapa dia harus memintanya dengan cara (bicara) seenaknya seperti itu?"
"Tidakkah dia bisa bilang terima kasih atas semua yang sudah aku lakukan?"
"Apakah semua pengorbananku ini tidak artinya buat dia?"

Pernahkah anda merasakan perasaan-perasaan ini?

Harga diri kita seperti ditabrak dengan keras. Kadang kita berpikir, kalau terus dibiarkan nanti jadi seenaknya... atau kalau dibiarkan nanti seperti si ini, si anu, kasus keluarga ini, kasus perusahaan itu (& berbagai skenario lainnya).

Tidak dapat dipungkiri bahwa selalu saja ada orang-orang yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain. Dari teman, keluarga, pemimpin, bahkan partner pelayanan.

Ada kalanya saya lelah dengan sikap orang-orang tertentu. Dalam keadaan kesal, hindari untuk membuat kesimpulan. Kesimpulan yang salah akan menghasilkan tanggapan yang salah. Kenali "waktu kebodohan" kita, yaitu saat di mana kita paling sulit untuk menguasai diri.

Kesimpulan yang saya buat di tengah-tengah kekesalan, membuat saya kehilangan kelemahlembutan & kerendahan hati. Sikap satu dua orang yang menganggu, membuat saya membangun benteng kepada banyak orang. Saya sering sekali menggunakan kata "insecure" (tidak aman). Sampai tiba-tiba saya menyadari bahwa kata tersebut telah menyerga saya dengan diam-diam.

Saya pernah membaca sebuah buku yang bercerita tentang kehidupan Herodes. Dibalik tahta & kekuasaanya, Herodes adalah seorang pria yang "insecure" (tidak akan) dengan dirinya & keberadaan orang lain disekelilingnya. Herodes yang berbakat berubah menjadi Herodes yang keji, yang tidak sayang membunuh siapa pun (termasuk para kerabatnya), yang keberadaannya mendatangkan rasa tidak aman (insecure) dalam diri Herodes.

Roh Herodes adalah roh pembunuh potensi. Spiritual abortion (aborsi rohani) menjadi strategi pemimpin yang tidak aman dengan keberadaan orang lain, untuk menyingkirkan setiap orang yang ada di jalan mereka, karena takut kehilangan apa yang ia miliki hari ini.

Roh apa yang sedang menunggangi kepemimpinan kita? Roh Anak Domba yang lemah lembut atau roh Herodes yang licik & berbahaya?

Kepemimpinan bukan hanya soal skill, tetapi juga soal roh. Roh apa yang adapada kepemimpinan kita? Jika Roh Kristus yang menjadi nafas pelayanan kita, maka IA akan memberikan kita identitas & rasa berharga yang berakar di dalam karya penebusanNya sehingga kita dapat mengalahkan perasaan-perasaan "insecure" pada saat kita melayani dengan sikap hati & motivasi yang benar.

Jangan biarkan perlakuan buruk orang lain membuat kita kehilangan sikap hati & motivasi yang benar dalam melayani Allah & jiwa-jiwa.




Senin, 03 September 2012

Salah satu kunci untuk mendapatkan yang terbaik dari Tuhan ialah: kesabaran. Memahami waktu Allah atas kehidupan kita memang tidak mudah. Perhitungan waktu Allah tidak bekerja sesuai dengan hitungan waktu kita. Kita menghitung waktu dengan hitungan detik, menit, & jam; sedangkan Allah menghitungnya dengan ketaatan, motivasi yang benar, penyerahan diri, kerendahan hati, kerelaan hati & persiapan.

Di awal pelayanan saya, saya mendapat pengertian yang sangat berharga mengenai "waktu Tuhan." Di dalam salah satu khotbahnya, Pdt. Gilbert Lumoindong berkata bahwa "waktu Tuhan adalah waktu kita siap." Perkataan tersebut melekat begitu kuat di hati saya, bahkan saya menjadikannya salah satu prinsip yang menuntun kehidupan saya.

Untuk memahami prinsip "waktu Tuhan adalah waktu kita siap," kita memerlukan hikmat untuk meng-interpretasikannya dengan baik. Dalam banyak kesempatan kitanbisa saja "merasa siap" untuk menerima atau dipercaya sesuatu. Seperti yang pernah saya dengar dari seorang Kristen yang berkata "Mengapa Allah belum memberkati saya dengan menjadikan kerja sama bisnis saya berhasil, padahal saya sudah siap untuk diberkati? Jika saya diberkati saat ini, saya pasti akan melakukan ini, melakukan ini, memberkati si ini & memberkati si itu."

Menjadi siap & merasa siap adalah dua hal yang berbeda. Kesiapan kita harus dinilai oleh Tuhan, bukan oleh diri sendiri. Kadang perasaan "over-confident" kta dalam sebuah situasi, memberikan "rasa aman yang palsu" dengan meyakinkan diri kita bahwa kita sudah siap.

Allah bukan Pribadi yang selalu terburu-buru. IA begitu berkuasa atas waktu, sehingga segala yang terjadi di dalam ruang & waktu sama sekali tidak dapat membatasi IA berkarya di dalam kehidupan kita. Dalam Yohanes 11 kita menjumpai kisah Lazarus yang dibangkitkan. Peristiwa kebangkitan Lazarus tidak lain dipicu oleh "keterlambatan" Yesus untuk hadir sebelum Lazarus akhirnya meninggal. Yesus "sengaja" menunda kedatanganNya untuk mengajarkan kita pelajaran berharga. Ada hal yang tidak dapat dilepaskan dengan "waktu Tuhan," yaitu "kuasa Tuhan."

Di awal tahun 2000-an, saya mendengar sebuah khotbah yang disampaikan oleh Pdt. Andreas Raharjo dari GKPB Masa Depan Cerah - Surabaya. Beliau berkata bahwa ada banyak orang Kristen yang terkadang memaksakan diri membeli sesuatu karena harganya sedang murah atau diskon. Padahal saat itu, apa yang dibeli belumlah menjadi hal yang sangat mendesak. Sikap memaksakan diri ini seringkali membuat banyak orang Kristen kehilangan "waktu Tuhan" atas kehidupan mereka. Mereka terjebak pada sikap mengandalkan pengertian sendiri & tidak menanti-nantikan Tuhan. Bukankah kebanyakan kita juga seringkali bertindak sama. Seperti halnya bulan lalu saya memborong beberapa buku John C. Maxwell di toko buku Immanuel, karena di bulan tersebut koleksi buku-buku John C. Maxwell discount 20%. Kita pasti akan berpikir "kapan lagi... mumpung lagi diskon."

Pdt. Andreas Raharjo mengatakan agar kita tidak membeli sesuatu karena sesuatu tersebut lagi murah atau mumpung diskon. Jika harga sesuatu itu tidak terlalu mahal sehingga jika kita membelinya, cashflow kita tidak mengalami gangguan, hal ini masih sah-sah saja. Tapi hal yang penting untuk kita ingat ialah: belilah sesuatu karena kita butuh, bukan karena mumpung harganya masih murah. Sikap memaksakan diri yang membawa kita keluar dari waktu Allah tentulah bukanlah sebuah keputusan yang bijaksana. Seperti halnya Pengkhotbah 3:11 berkata "segala sesuatu indah pada waktunya..."

Jika memang kita butuh & kita berada pada waktunya Tuhan untuk membeli atau memiliki sesuatu, jika harga barang yang ingin kita beli menjadi sangat mahal sekalipun, Allah pasti akan memberkati kita sehingga kita mampu membeli atau memilikinya.

Untuk selalu hidup di dalam waktu Tuhan, kita harus memiliki "kesabaran." Kesabaran merupakan salah satu ekspresi iman. Mengapa kita bersedia menunggu? Karena kita mempercayai Allah!

Seperti halnya memasak atau membuat kue, kita tidak boleh terburu-buru sehingga mendapati masakan atau kur tersebut setengah matang & tidak bisa dinikmati. Sebuah masakan memiliki rasa yang maksimal jika dimasak dengan lama waktu tertentu. Bersabarlah terhadap waktu Tuhan. Dan jangan sekedar menjadi pasif dalam menantikan waktu Tuhan. Kerjakan hal-hal yang harus kita kerjakan, nantikan Allah dalam doa & penyembahan, berjalanlah di dalam ketaatan, & jadilah produktif di dalam masa-masa penantian kita.

Jika suatu hari saya berkesempatan menulis buku tentang Leadership, saya ingin sekali membagikan sebuah pesan kepemimpinan yang menurut saya sangat penting. Bahwa menjadi pemimpin kita harus berhadapan dengan kekecewaan. Tidak ada pemimpin yang baik yang tidak pernah kecewa. Pemimpin menjadi kecewa karena ia memiliki pengharapan (ekspektasi). Ia mengharapkan kemajuan organisasi, pertumbuhan orang-orang yang ada di dalamnya, dan banyak hal lainnya.

Satu hal yang paling sulit dalam kepemimpinan ialah berurusan dengan orang (deal with people). Tapi itulah gunanya kepemimpinan. Kita harus belajar bagaimana berkomunikasi, membangun teamwork, menggerakkan orang lain, mendelegasikan tugas, bahkan mengangkat & memecat orang.

Meskipun kekecewaan pasti terjadi di dalam setiap kepemimpinan, namun para pemimpin tidak dipanggil untuk tinggal di dalamnya. Tinggal di dalam kekecewaan dapat menghancurkan kekuatan kita. Terlalu mahal harganya untuk menukar visi yang kita miliki dan tinggal di dalam kubangan kekecewaan dengan sikap mengasihani diri.

Pemimpin terkadang adalah orang yang paling sulit dipahami. Kita cenderung berpikir lebih jauh dari kebanyakan orang, melihat lenih luas dari penglihatan kebanyakan orang, membayar lebih mahal dibanding semua orang yang terlibat, menerima tuntunan lebih banyak dari yang sanggup kita pikul, & memiliki ikatan emosi terhadap visi jauh lebih dalam dari semua orang yang terlibat.

Proses menjadi seorang pemimpin bukanlah sebuah perjalanan yang mudah. Seandainya kepemimpinan hanyalah soal "posisi" maka kepemimpinan tidak akan serumit ini. Namun masalahnya, kepemimpinan adalah kombinasi antara panggilan, kemampuan/keterampilan, karakter & hubungan-hubungan yang kita miliki.

Salah satu judul buku Joyce Meyer yang paling saya ingat ialah: Pemimpin Yang Sedang Dibentuk. Judul ini merangkum tahun-tahun kehidupan saya sebagai seorang hamba Tuhan. "Sedang dibentuk"... sampai kapan? Apakah tandanya bahwa pembentukan tersebut telah selesai?

Berulang kali saya mengambil waktu untuk introspeksi diri. Jika ada sesuatu yang salah di dalam pelayanan atau orang-orang yang saya pimpin, maka sebagai pemimpin, saya harus terlebih dahulu mengevaluasi diri.

Berulang kali kebingungan menghempaskan saya ke dinding permasalahan. Saya berulang kali kelelahan dengan perjalanan kepemimpinan ini. Memiliki orang-orang dengan potensi luar biasa barulah satu hal. Tetapi memimpin mereka adalah persoalan lain. Kata "penundukkan diri" yang selama ini saya hindari, justru bisa menimbulkan masalah baru. Setiap orang yang "merasa memiliki pewahyuannya sendiri" kadang sulit diarahkan. Membawa seseorang mengalami pengalaman rohani yang dahsyat & memberikan kepercayaan lebih, justru dapat membuat orang-orang tertentu sulit untuk hidup dengan penundukan diri & keterbukaan. Kadang hal ini memberi ruang bagi roh kemunafikan untuk beroperasi di dalam diri orang-orang yang memiliki potensi & panggilan yang luar biasa.

Sebelum terlambat, saya ingin berulang kali menyadarkan diri saya, bahwa sebagai seorang pemimpin saya harus berjalan di dalam "the spirit of sonship." Roh keputraan (the spirit of sonship) ini dibutuhkan oleh banyak pemimpin rohani agar mereka tidak mengerjakan tugas & tanggungjawab mereka dengan spirit yang salah. Seseorang bisa saja menjabat kepemimpinan rohani, namun bertindak dengan spirit yang salah, yaitu roh Herodes & roh Firaun. Kedua roh ini menggambarkan bentuk rasa tidak aman (insecurity) di dalam kepemimpinan. Kepemimpinan diktator yang tangan besi merupakan ekspresi dari kedua roh ini. Berbeda sekali jika kita melayani dengan roh Anak Domba yang rela berkorban & melayani orang-orang yang kita pimpin.

Saya masih ingat, ketika pertama kali saya ditahbiskan sebagai hamba Tuhan, Roh Kudus memberikan sebuah pesan melalui Yoh 10:11 yang berbunyi "gembala yang baik menyerahkan nyawanya bagi domba-dombaNya..." Saya ingin terus berjalan di dalam spirit ini. Inilah sebuah pewahyuan kepemimpinan yang pertama kali saya terima. Saya tidak ingin membandingkan kepemimpinan saya dengan orang lain. Karena sikap membanding-bandingkan selalu lahir dari "insecurity." Saya hanya ingin hidup sebagai mana saya dipanggil & menaati apa yang diperintahkan Allah untuk saya lakukan. Kiranya Allah terus membentuk saya sesuai dengan "gambar & rupaNya" (healthy self-image), sehingga saya dapat berfungsi dalam tanggungjawab kepemimpinan (berkuasa) yang Allah percayakan kepada saya (Kej 1:26-18).


Pernahkah anda mengalami kehilangan visi? Tiba-tiba anda seperti kehilangan arah dan tidak ada sesuatu yang ingin dituju. Kehilangan visi merupakan sebuah keadaan yang berbahaya. Saat sessorang tidak memiliki visi, maka ia akan mudah tergoda dengan berbagai tawaran yang datang. Beberapa hari lalu saya mendengarkan CD khotbah Ps. Jeffrey Rachmat saat ia berbicara di dalam acara Relevant Leadership 2006. Beliau mengatakan bahwa orang yang nganggur (nggak punya kerjaan) yang mau diajak ke mana aja (apalagi jika tujuannya nggak jelas).

Pengalaman kehilangan visi sangat tidak menyenangkan. Kehilangan visi akan menyebabkan kita kehilangan gairah (passion).

Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, ada banyak orang yang menasehati saya untuk "be realistic!" Sepertinya udah bukan umurnya lagi untuk hidup idealis. Nggak kalah, pihak keluarga biasanya menjadi orang no.1 untuk mendorong kita menjadi lebih realistis dalam hidup.

Bahasa lain dari "realistis" adalah "main aman." Tiba-tiba saja saya mulai muak dengan nasihat-nasihat yang mendorong saya untuk bermain aman di dalam kehidupan.

Saya masih ingat salah satu khotbah Ps. Brian Houston ketika ia datang ke JPCC tahun 2011. Ps. Brian Houston berbicara bagaimana kitanharus berani mengambil resiko dalam hidup. Tanpa resiko tidak akan ada kebesaran. Kita ditantang untuk membayar harga untuk melihat visi Allah itu tergenapi di dalam hidup kita.

Saat kita bingung karena kehilangan visi, ada baiknya kita kembali ke dasar. Saya kembali membuka buku-buku catatan saya di masa lalu, membuka buku-buku yang pernah menginspirasi saya di awal-awal pelayanan saya, duduk dengan beberapa orang muda yang belum menjadi realistis, kembali kepada pesan Tuhan yang pernah saya terima di tahun-tahun penting dalam perjalanan rohani saya.

Waktu tidak akan menunggu kita. Ia akan terus berjalan, entah kitabsiap atau tidak siap. 5 - 10 tahun dari sekarang, apakah kita akan menjadi lebih baik. Di manakah kita akan berada.

Masihkah pesan-pesan mengenai hukum potensi yang pernah saya baca dari buku Dr. Myles Munroe dapat dihidupkan kembali? Apakah pewahyuan tentang "tujuan hidup" dari buku The Purpose Driven Life yang ditulis oleh Rick Warren merupakan sesuatu yang basi? Apakah pewahyuan-pewahyuan dari buku John Mason untuk hidup sebagai orginal dan keluar dari mentalitas mediokritas masih dapat mendobrak keragu-raguan di hati?

John C. Maxwell berhasil menemukan kemaksimalan hidupnya, justru di usia tuanya. Ia menjadi semakin produktif ketika ia memutuskan untuk meninggalkan penggembalaan & terjun sebagai guru kepemimpinan bagi banyak orang di dunia.

Kita masih terlalu mudah untuk menyerah. Menyerah dengan mimpi-mimpi yang kadang mengintimidasi diri kita sendiri. Karena kita mendapati bahwa mimpi-mimpi itu jauh lebih besar daripada kemampuan kita. Itu sebabnya kita harus bergantung sepenuhnya pada Allah. Ialah meletakkan visi di hati kita. Sehinggankitantahuuntuk apa Ia menciptakan kita. Ia jugalah yang akan memampukan kita untuk menghidupi visi tersebut, bukan dengan kekuatan daging, melainkan dengan hidup menurut Roh.

Jika kita benar-benar menginginkannya, maka kita akan menemukannya. Tahun 2004, saya memahami visi Allah seperti halnya perumpamaan Harta Terpendam & Mutiara Berharga (Matius 13:43-45). Kita harus mencarinya, & ketika menemukannya kita harus bersedia membayar harganya dengan "menjual segala milik kita."

Apakah anda sepakat dengan saya untuk tidak berhenti di sini? Kembali melanjutkan petualangan rohani ini. Di mulai dengan mencari apa yang menjadi visi Allah bagi hidup kita, & bersiap untuk menjual seluruh milik kita untuk terjadinya sebuah pertukaran. Ini bukan harga yang impas. Meskipun kita membayarnya dengan seluruh milik kita, kita tidak akan pernah mengalami kerugian. Biarkan Sorga membuktikan apa yang telah ditulisNya.


Senin, 06 Februari 2012

Today is my birthday! Nggak terasa udah memasuki usia 30 tahun.

Sungguh hari imi adalah hari yang patut disyukuri. Berbeda dengan tahun lalu. Tahun di mana saya mengalami pergumulan yang begitu menyesakkan hati. Saya masih ingat, persis tahun lalu... ketika bangun pagi saya menerima banyak sms, bbm & postingan di facebook berupa ucapan ulang tahun. Sungguh senang rasa dicintai oleh banyak orang. Tapi pada saat yang bersamaan, ada seseorang yang memaki & mengancam saya. Akibat mempercayai orang yang salah, nyaris saja saya kehilangan reputasi & banyak hubungan baik. Satu ancaman & makian di hari ulang tahun saya tahun lalu, cukup untuk menghilangkan sukacita akibat ucapan yang diucapak oleh ratusan orang lainnya.

Syukurlah, semua sudah lewat... Oleh anugerah-Nya, hari ini untuk pertama kalinya saya merayakan ulang tahun sebagai seorang suami.

Tepat jam 12 malam, isteri saya berdoa untuk saya...

Saya memutuskan untuk mengisi hari ulang tahun saya dengan baik:

1. Saya melakukan doa puasa di hari ulang tahun saya... Tidak terasa usia saya sudah 30 tahun. Saya harus lebih sungguh hidup di dalam panggilan Tuhan. Saya berdoa puasa untuk mempertajam visi Allah dalam hidup saya.

2. Saya memutuskan untuk menaikkan doa syafaat khusus bagi banyak orang di hari ulang tahun saya. Saya sudah menyelesaikannya pagi ini...

3. Sebagai bentuk penghormatan saya akan Tuhan & firman-Nya yang telah menuntun saya hari ini, saya berkomitmen untuk membaca 30 pasal firman Tuhan di hari ulang tahun saya ini... Oleh karena firman itu menuntun saya, hari ini saya ada. Dan saya berjanji untuk terus hidup di dalam firman-Nya di tahun-tahun yang akan datang.

4. Melakukan perjamuan kudus untuk meneguhkan kembali perjanjian saya dengan Tuhan

5. Membalas setiap ucapan selamat dari sms, bbm, facebook & twitter. Saya senang mengekspresikan rasa terima kasih saya.

6. Dinner bersama isteri saya... Malam ini kami akan makan malam di Sushi Tei. Sejak pacaran kami suka makan Sushi Tei. Selain makanannya yang enak, kami juga memiliki kenangan di sana.

I declare God's favor in my life! Today will be a great day! Halelujah!!!

Jumat, 27 Januari 2012

Letih! Tangki emosional saya terkuras habis. Perasaan kesepian menyergap. Saya merasa seperti Elia yang sembunyi di gua. Tidak tahu apa penyebabnya munculnya perasaan ini. Bohong rasanya kalo saya bilang bahwa saya tidak pernah lelah dengan "penggembalaan." Kadang saya mendapati diri saya sendirian & kesepian. Berada di tengah-tengah kebingungan & kehilangan arah.

Sebagai seorang pemimpin & bapa di dalam komunitas, saya menjadi penentu arah & kondisi komunitas. Kami seperti sekumpulan pasukan yang sedang tersesat di hutan, kehilangan arah, capek & lapar. Kami tahu bahwa kami baru saja berhadapan dengan musuh & melewatkan pertempuran yang tidak begitu buruk. Namun sekarang apa lagi...

Pasukan seperti kehilangan gairah. Mereka menunggu. Seperti yang saya duga, mereka menunggu saya. Saya pernah menemukan kebenaran ini ketika melayani sebuah Camp anak muda di Salatiga: "Ada 2 alasan mengapa kita sulit untuk bangkit: 1. Karena kita terlalu terluka atau 2. karena kita terlalu nyaman." Tapi bagaimana jika seandainya kita berada di antara keduanya. Di antara terluka & nyaman.

I Raja-raja  19:9 
Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"

Ketika kita kehilangan roh yang menyala-nyala, kita nyaris tidak mampu lagi untuk melayani Tuhan. Tidak seorang pun mampu melayani Allah dengan kekuatan daging. Untuk melayani Dia & hidup berkenan kepada-Nya, kita harus hidup di dalam roh. Kita harus dipimpin oleh Roh Kudus.

Tindakan mengisolasi diri dapat memadamkan api & gairah rohani yang kita miliki. Hidup berkomunitas bukan sekedar "status," melainkan "terlibat." Mereka yang tidak terlibat, jarang mendapat manfaat. Keterlibatan merupakan bukti dari komitmen. Sepertinya kata "komitmen" telah luntur maknanya. Kita sedang hidup di tengah-tengah generasi yang "terluka" dengan kata "komitmen." Komitmen dilanggar oleh para suami, isteri, atasan, karyawan, pemimpin rohani, presiden, politikus dll.

Kita harus mengembalikan kekuatan kata "komitmen" sesuai dengan bagaimana Allah menggunakannya. Allah berkomitmen terhadap kita, itu sebabnya Ia menyerahkan nyawa-Nya. Mereka yang betul-betul berkomitmen akan bersedia berkorban.

Tanpa kekuatan komitmen, sebuah gereja tidak dapat dibangun & berkembang. Tidak ada pertumbuhan gereja tanpa passion and commitment. Passionate terhadap hal-hal yang salah & berkomitmen kepada hal-hal yang salah... sepertinya kita kurang serius untuk belajar dari Tuhan untuk mengenali perbedaan antara hal-hal yang benar & hal-hal yang salah. Kita terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga proses pembelajaran tidak terlalu berdampak pada "jiwa" kita. Indera kita yang beroperasi di luar kendali Roh Kudus masih memimpin hidup kita, bukan roh yang ada di dalam kita.
Saat kita membutuhkan passion, kita perlu naik ke atas mezbah. Dengan segala penyerahan diri kita harus mengizinkan Allah menurunkan api-Nya untuk "membakar" hati kita. Terlalu sering "api asing" yang menggerakkan kita untuk hidup & melayani Tuhan. Itu sebabnya yang lahir ialah buah daging.

Ada saat di mana kita dapat dengan mudah menaikkan doa-doa yang penuh terobosan. Namun ada kalanya kita perlu "memaksakan diri" untuk masuk ke dalam terobosan. Mempercayai kekuatan Roh berarti menolak untuk memanjakan daging kita. "Menyangkal diri" itulah inti "pemuridan." Kita ingin pelajaran rohani tanpa penyangkalan diri. Yang kita terima hanyalah "hikmat dunia." Tidak ada pewahyuan Allah tanpa penyangkalan diri. Allah tidak akan mengubah standard-Nya. Kita tidak akan berhasil menghidupi standard Allah tanpa hidup di dalam DIA.

Teruskan perjuangan... Alami terobosan...
Melekatlah pada Pokok Anggur, karena DIALAH sumbermu!


Roma 12:11 
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

Kamis, 26 Januari 2012


Sudah 27 hari. Saya sedang akan menghabiskan buku ke 7 tahun ini.

Sejak tahun 2004, saya menetapkan target baca buku setiap tahunnya. Dimulai dari 30 buku pada tahun tersebut. Rekor yang pernah capai ialah sebanyak 70 buku, yaitu pada tahun 2007. Rata-rata saya membaca 50 buku dalam setahun.

Beberapa waktu belakangan ini saya merasa lebih mudah menghabiskan sebuah buku. Antara 2-3 hari untuk satu buku setebal kurang dari 200 halaman. Padahal sejak kecil saya bukan "kutu buku."

Kebiasaan membaca saya bangun ketika saya mulai lahir baru. Banyak hal seputar iman Kristen ingin saya ketahui. Buku-buku "bapa rohani" saya yang kala itu ssedang menyelesaikan studi di Sekolah Theologia menjadi incaran saya. Saya membaca karena saya di dorong oleh tujuan. Manfaat yang saya dapatkan dari membaca, membuat saya tidak pernah berpikir untuk berhenti membaca.

Setiap tahun saya menghabiskan uang yang sangat banyak untuk membeli buku. Pada tahun 2008, saya mendapat kesempatan untuk melayani ke luar negeri. Sydney, Australia menjadi kota & negara pertama yang saya injak. Saya harus berterima kasih kepada kedua sahabat saya: Andry Sugandi & Wigand Sugandi yang mengantar saya ke toko buku Koorong. Saya pulang ke Indonesia membawa 35 buku. Bayangkan, saya menghabiskan uang sekitar 300 dollar Australia untuk membeli buku-buku tersebut.
Beberapa bulan lagi saya akan kembali datang ke Sydney, Australia. Tentu toko buku Koorong telah menjadi salah satu "destination" di mana saya akan menggunakan sebagian uang saya.

Pembelajaranlah yang membawa saya pertama kali ke kota Sydney untuk berkhotbah sebanyak 11 kali dalam waktu 3 minggu 10 hari. Waktu itu saya sungguh-sungguh mempersiapkan diri selama 4 tahun dengan banyak membaca. 4 tahun setelah kedatangan saya terakhir, kini saya kembali ke sana. Saya rasa 4 tahun ini saya telah belajar lebih banyak. Lebih tepatnya, bertobat lebih banyak. Belajar berarti bertobat. Menambah pengetahuan tidak akan membawa dampak apapun, jika kita tidak membuat keputusan untuk berubah dengan membuang apa yang salah & menerima apa yang benar.

Saat ini saya jauh lebih siap untuk melayani ke luar negeri. Persiapan yang saya lakukan bukan hanya dengan membaca, tetapi juga dalam latihan rohani. Saya belajar bertanya kepada Tuhan mengenai buku yang harus saya baca. Membaca buku yang tepat di waktu yang tepat sangat penting. Allah sering berbicara kepada saya melalui buku-buku yang saya baca. Belajar tidak mengabaikan impresi yang datang untuk membaca atau membeli sebuah buku, telah mendatangkan banyak keuntungan bagi kehidupan rohani saya. Saya mencintai buku. Allah menggunakan kecintaan saya pada buku untuk mengajar, mewahyukan Diri & berbicara kepada saya.

Setiap orang percaya harus hidup dipimpin Roh. Ini bukan sekedar sebuah ungkapan. Inilah kebenarannya! Bahkan dalam soal membaca buku pun, kita harus bertanya: buku apa yang Tuhan ingin kita baca saat ini! Ada kalanya Tuhan meminta saya untuk berhenti membaca buku sejenak, karena ia hendak berbicara dengan cara yang lain. Saya belajar menaatinya. Walaupun saya suka membaca buku-buku rohani, namun kecintaan saya terhadap buku tidak boleh melebihi kecintaan saya kepada Tuhan. Bahkan saya tidak boleh lebih suka membaca buku-buku rohani daripada membaca Alkitab (the anointed Book).

Sejak awal pelayanan, saya selalu memegang perkataan John C. Maxwell: "Pembaca adalah Pemimpin." Jika sampai hari ini saya membaca, itu karena saya masih ingin terus berfungsi sebagai seorang pemimpin. Setiap pemimpin akan diperhadapkan pada situasi pembuatan keputusan yang sulit. Kita membutuhkan wawasan untuk membuat keputusan dengan benar. Kebiasaan membaca akan membantu para pemimpin untuk membuat keputusan dengan benar.

Kebiasan membaca membuat saya tidak pernah bosan dengan hidup saya. Di dalam buku-buku tersebut, saya menemukan banyak hal yang baru untuk dipelajari.

Dipercaya untuk menolong banyak orang melalui konseling & konsultasi merupakan sebuah anugerah Tuhan bagi hidup saya. Dengan membaca, saya menyambut kepercayaan yang Tuhan berikan dengan penuh tanggungjawab. Saya tidak dapat membagi apa yang tidak saya miliki. Mentalitas pembelajar adalah hal yang mutlak dimiliki oleh setiap para pelayan Tuhan. Itu sebabnya para pengikut Yesus disebut "disciples." Mereka dipakai karena mereka mau terus belajar.

Kamis, 19 Januari 2012


Pengalaman hidup dengan akar penolakan membuat seseorang sulit untuk bersikap tegas. Tegas adalah sebuah kata yang mengingatkan saya pada sebuah buku yang pernah saya baca di awal pertobatan. Buku tersebut berjudul "Berani Berkata TIDAK Tanpa Merasa Bersalah" yang ditulis oleh Robert Liardon. Kegagalan saya menghidupi pelajaran ini di masa lalu, membuat saya harus terus mengulang kembali pelajaran yang sama. Pelajaran ketegasan.

Ketegasan merupakan sikap yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pria & seorang pemimpin. Tanpa ketegasan, tidak akan ada kemajuan. Bukan hanya itu. Ketegasan juga dapat mencegah terjadinya kehancuran. Takut penolakan telah membuat saya sering membiarkan suatu masalah serius, meskipun gejala-gejalanya telah terlihat sangat jelas.

Saya sering menyesal. Menyesal untuk apa yang tidak saya lakukan untuk melindungi orang-orang yang saya kasihi. Saya tidak berani mengatakan kebenaran hanya karena takut menyinggung perasaan orang lain. Dalam gaya kepemimpinan, saya cenderung untuk selalu menghindari konfrontasi. Ada banyak dalih yang bisa saya berikan untuk menutupi ketakutan & ketidaktegasan saya. Salah alasannya ialah: kasih. Dengan pengertian yang dangkal, saya beranggapan bahwa ketegasan berlawanan dengan kasih. Sikap "permisif" dengan mudah tumbuh, sehingga menghasilkan buah-buah kompromi dalam hidup banyak orang.

Orang-orang Kristen yang senang hidup di dalam dosa & suka memaklumi kejatuhan sangat menyukai gaya kepemimpinan saya. Sikap suka memaklumi, permisif & tidak tegas memang membuat saya menjadi pemimpin yang disukai. Namun menjadi pemimpin yang disukai bukan tanda keberhasilan. Tanpa saya sadari, orang-orang yang saya pimpin menunjukkan gejala kehidupan Kristen yang tidak sehat. Hidup seenaknya, tidak memiliki disiplin rohani, moody & tidak banyak yang muncul sebagai pemimpin yang kuat.

Meskipun saya sering menerima pujian dari banyak orang, namun saya mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan gaya kepemimpinan saya. Telah terjadi ketidakseimbangan dalam prinsip kepemimpinan. Kasih karunia tidak berjalan dengan kebenaran, hingga ketimpangan tersebut menghasilkan "penyalahgunaan kasih karunia."

Dua tahun terakhir, Allah banyak mengajar saya mengenai "ketegasan." Bidang di mana saya telah berulang kali gagal. Allah menggiring saya masuk ke dalam konfrontasi-konfrontasi langsung. Beberapa pewahyuan menyingkapkan bagaimana cara konfrontasi itu seharusnya dilakukan.

Bahkan memasuki tahun 2012 ini, saya banyak berurusan dengan masalah ketegasan. Waktu-waktu doa menjelang pergantian tahun, menjadi saat di mana Allah sering menyingkapkan pesan-pesan untuk tahun yang akan datang. Roh Kudus berbicara bahwa tahun 2012 akan menjadi "The Year of Spiritual Leadership" bagi saya. Allah meminta agar saya lebih lagi hidup dipimpin oleh Roh Kudus di dalam pengambilan keputusan. Ternyata "ketegasan" menjadi area yang sangat berperan.

Untuk setiap permintaan & tawaran yang tidak sesuai dengan firman Tuhan & hati nurani yang murni, saya memberanikan diri berkata "tidak." Saya menyadari bahwa beberapa orang tidak suka dengan jawaban yang saya berikan. Bahkan lebih jauh dari itu, beberapa dari mereka benar-benar tidak menyukai saya. 

Saya ingat salah satu nubuatan yang diberikan kepada saya dipertengahan tahun 1999. Tuhan akan memakai pelayanan saya seperti Yohanes Pembaptis. Nubuatan ini terkubur begitu dalam. Saya tidak bisa melihat kesamaan Yohanes Pembaptis yang pemberani dengan diri saya yang penakut & cenderung main aman. Saat ini saya sedang melihat nubuatan tersebut mulai digenapi. Pengurapan Allah yang terus bertumbuh seiring dengan pertumbuhan rohani yang saya terima dari Allah, mendatangkan banyak keberanian di dalam diri saya. Saya tidak laku takut ditolak ataupun dibenci karena melakukan & mengatakan kebenaran. Saya harus mempertanggungjawabkan seluruh pelayanan saya kepada Allah, bukan kepada manusia. Penilaian yang sejati datang dari Allah, bukan manusia. Saya tidak boleh membangun pelayanan saya, tetapi harus membangun Kerajaan-Nya. Saya tidak boleh mencari pengikut, tapi menjadikan semua orang murid Yesus (bukan murid saya).

Saya berharap pelayanan saya kali ini semakin matang & didewasakan oleh Allah. Saya tidak terlalu peduli pada berapa banyak undangan khotbah keliling yang saya terima dalam satu tahun. Bukan hal ini lagi yang saya kejar. Saya cuma mau tahu Tuhan mau apa dari hidup saya. Saya ingin hidup berkenan kepada-Nya. Saya ingin menjadi seorang hampa Tuhan yang "accountable & responsible" dihadapan Tuhan. Mungkin saat ini saya masih jauh dari ini semua. Namun saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan untuk melayani DIA. Saya menerima cuma-cuma, dan saya akan berikan secara cuma-cuma. Seperti janji Allah di awal pelayanan penggembalaan saya: "Kamu tidak hidup dari pemberian orang lain, melainkan hidup dari pemberianmu. Mulailah menabur & Aku akan memberkatimu." Terima kasih untuk janji-Mu Bapa. i love you so much...

Minggu, 15 Januari 2012



Sampai sekarang saya masih sering mendengar pertanyaan: "what is your job?" Pekerjaan seseorang menggambarkan banyak hal tentang orang tersebut. Namun pekerjaan bukan sekedar masalah status atau jabatan. Bukan apa yang tertera di kartu nama kita. Pekerjaan adalah sebuah pengabdian diri, bersedia berbagi & menolong orang lain sesuai dengan kemampuan ataupun ketrampilan yang kita miliki, untuk kebaikan orang lain. Pada umumnya orang mengukur pekerjaan berdasarkan posisi, nama perusahaan, besarnya gaji & tunjangan. Memang betul bahwa hal tersebut sangat penting sekali. Namun, jika kita bekerja hanya untuk status & uang, maka kita bisa kehilangan hakikat kerja sebagaimana Allah merancangkannya untuk kita.

Banyak orang berpikir bahwa pekerjaan seorang pendeta (pastor atau gembala jemaat) adalah berkhotbah. Saya sering mengatakan bahwa tugas pendeta (pastor atau gembala) bukan HANYA berkhotbah. Berkhotbah hanya salah satu dari sekian banyak tugas pelayanan yang dilakukan oleh seorang pastor atau gembala jemaat.

Hari-hari ini saya sedang mengatasi sebuah permasalahan yang sangat serius di dalam jemaat. Dibutuhkan karakter, kepemimpinan, doa, hikmat & kerja sama tim yang baik untuk bisa membuat keputusan dengan benar. Saya harus membuat keputusan yang cukup sulit. Menghadapi banyak serangan & kritik. Disalahpahami. Terancam kehilangan hubungan-hubungan tertentu.

Beberapa tahun lalu (mungkin masih sampai sekarang), banyak orang ingin menjadi pendeta. Kisah pertobatan yang dramatis, membuat orang-orang tertentu dikagumi karena kesaksian-kesaksian mereka yang luar biasa. Manusia suka dengan pengaruh, posisi & kekuasaan. Pujian orang lain bisa membawa kita ke jalur di mana sebenarnya bukan bagian kita. Tiba-tiba "menjadi pendeta" menjadi trend & tujuan dari banyak orang Kristen. Anak muda, pengusaha, artis, dan berbagai profesi lainnya, berbondong-bondong meninggalkan pekerjaan mereka yang sebelumnya untuk menjadi pendeta. Jika itu memang panggilan Tuhan, tidak masalah. Namun, berapa banyak orang yang menjadi pendeta & menggembalakan gereja tahu persis apa tugas & pekerjaan mereka? Apakah mereka tahu bagaimana mengajar, memuridkan, mengkonseling dengan benar, melakukan "truth confrontation", mendoakan orang lain, merintis gereja, dll? Membuat keputusan dalam tingkat kepemimpinan rohani bukan perkara mudah. Kita tidak bisa memutuskan dengan pertimbangan manusia. Seperti kata Edwin Louis Cole, "hikmat manusia mengacaukan kebenaran Allah." That's true!

Sebagai pendeta muda, saya belajar menghayati panggilan, peran, tigas & tanggungjawab saya. Ada saat di mana saya melakukan pemberkatan nikah, membaptis orang, melakukan penyerahan anak di gereja, berkhotbah, membangun hubungan dengan gereja/pendeta lain... Saya belajar memahami panggilan hidup saya bukan hanya sebatas jabatan & status, melainkan apa yang Tuhan inginkan dari saya di waktu-waktu tertentu.

Hari ini saya sudah melayani konslutasi 4 orang melalui BBM. Menjawab pertanyaan mereka, memberi saran & pengajaran sesuai Firman Tuhan. Pekerjaan saya tidak terbatas oleh ruang & waktu. Saya harus siap kapan pun Allah hendak memakai saya. Itu sebabnya, saya belajar mempersiapkan diri sebaik mungkin setiap hari. Displin doa puasa minimal seminggu sekali, membaca 50 buku setahun, setiap hari membaca 9 pasal ayat Firman Tuhan, melakukan pembapaan & pemuridan untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin masa depan & membangun hubungan dengan orang-orang yang saya pimpin.

Beberapa pengalaman rohani yang Allah berikan membuat saya tidak ingin lagi untuk "kejar setoran" (khotbah keliling dari satu gereja ke gereja lain setiap minggu dengan harapan mendapatkan banyak uang persembahan kasih). Saya tahu bahwa konsekuensi finansial untuk keputusan ini. Namun, saya memilih untuk menjalaninya tanpa rasa takut. Larry S. Julian dalam buku God is My Success mengatakan bahwa finansial freedom adalah ketika kita berani mengambil keputusan yang benar tanpa takut akan konsekuensi finansial, karena kita percaya bahwa Allah itu sendirilah sumber berkat.

Dampak yang muncul dalam setiap pelayanan saya sebenarnya merupakan hasil dari apa yang saya lakukan setiap hari. Apa yang orang tidak lihat ketika saya berdoa di kamar. Membaca & meneliti Firman Tuhan untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Masih terjaga untuk membaca buku ketika isteri saya sudah tertidur lelap.

Jika kita tidak menghargai panggilan Tuhan, kita akan kehilangan panggilan tersebut. Iblis ingin mengaborsi panggilan Tuhan dalam hidup kita, sehingga ia dapat menghancurkan banyak kehidupan. Tahun 2012, saya berkomitmen lebih lagi untuk membangun kehidupan roh saya sebagai seorang pemimpin, karena percaya bahwa waktunya sudah sangat singkat. Status pekerjaan saya tidak sepenting panggilan hidup saya. Saya akan membayarnya dengan hidup & nyawa saya sehingga semua yang Allah rencanakan terjadi dalam hidup saya.

Jumat, 13 Januari 2012



7 January 2012, untuk kedua kalinya saya memberkati pasangan yang menikah. Kali ini pasangan begitu spesial. Ia anak rohani saya. Perkenalan kami sudah hampir 12 tahun. Tuhan mengizinkan saya terlibat dalam berbagai keputusan penting dalam hidupnya & menyaksikan kasih setia Tuhan yang begitu hebat dalam setiap kesempatan. Tuhan tidak pernah menyerah menghadapi setiap kegagalan & kesalahannya. Dalam keberhasilan yang paling menggembirakan, hingga kegagalan yang paling memalukan, Ia selalu ada bersama-sama dengan kita.

Saya senang dia menemukan pasangan yang sepadan. Sesi-sesi konseling pra-nikah kami lalui tahap demi tahap, hingga saat yang dinanti pun tiba.

Saya tiba di Hotel Padma Bandung dengan kondisi tubuh yang kurang baik akibat kurang istirahat selama 3 hari. Belum lagi saya tidak cukup siap dengan pesan yang harus saya khotbahkan di ibadah pemberkatan nikah keesokan sorenya.

Dalam melayani pekerjaan Tuhan, saya belajar untuk tidak menganggap remeh setiap kesempatan untuk melayani Dia. Mentalitas menganggap remeh menyebabkan seseorang tidak siap & tidak memberi yang terbaik. Akibatnya adalah penyesalan. Banyak penyesalan yang telah saya alami di dalam hal berkhotbah, yang disebabkan oleh mentalitas ini: khotbah yang terdengar asal-asalan & tidak siap. Berbagai tanggapan yang kurang menyenangkan menjadi salah satu konsekuensinya. Saya tahu itu bukan salah siapa-siapa, itu salah saya & saya harus berubah.

Menjelang pemberkatan nikah anak rohani saya, pikiran saya tidak tenang. Selain kondisi badan yang kurang sehat, saya juga sedang memikirkan suatu masalah yang sedang terjadi di dalam jemaat. Saya betul-betul merasa "stuck." Tidak bisa berpikir. Bahkan saya kesulitan membaca Firman Tuhan karena susahnya berkonsntrasi akibat kurang istirahat & kepala cenat-cenut karena masuk angin. Malam itu saya berusaha keras menyelesaikan komitmen harian saya membaca 9 pasal ayat Alkitab (5 Perjanjian Lama & 4 Perjanjian Baru). Sungguh suatu perjuangan yang luar biasa.

Secara ajaib Tuhan membantu saya mempersiapkan pesan pemberkatan nikah sekitar 1 jam menjelang pemberkatan nikah di mulai. Saya begitu bersemangat sore itu. Pemberkatan Nikah yang seharusnya dilakukan outdoor, berubah menjadi indoor karena hujan turun sore itu. Luar biasa, pemberkatan nikah sore itu berjalan dengan sangat baik. Hal yang tidak disangka, malam itu saya menerima begitu banyak pujian baik dari pihak keluarga, tamu maupun pendeta-pendeta lain yang hadir di sana. Jujur saja, sebenarnya saya merasa tidak layak menerima semua pujian itu. Saya bukan orang yang cukup fasih membawakan khotbah di acara se-resmi ini. Apalagi melihat ketidaksiapan saya sebelumnya. Sungguh, ini semua adalah anugerah Tuhan.

Hari itu saya mengalami mujizat & pertolongan Tuhan dalam menyiapkan khotbah. Bagaimana seandainya saya berkhotbah dengan sangat buruk sehingga mengacaukan kebahagiaan orang lain (kedua mempelai & keluarga). Pelayanan adalah sebuah kepercayaan. Setiap kepercayaan yang diberikan kepada kita layak untuk dilakukan dengan sebaik mungkin.

Setelah acara pemberkatan nikah, saya kembali ke kamar hotel untuk ganti kemeja & dasi. Saya siap untuk menikmati resepsi pernikahan dengan warna kemeja & dasi yang berbeda. Saya berpikir setidaknya orang-orang yang tadi hadir di acara pemberkatan nikah sore tidak akan terlalu menyadari atau mengenali kehadiran saya di tengah kerumunan. Ketika hendak memasuki ruang resepsi, seorang ibu berbaju orange yang baru saja melewati saya, kembali untuk menyapa saya sambil berkata "Pak pendeta, terima kasih. Tadi khotbahnya sangat bagus. Saya sangat terberkati." Perasaan malu bercampur senang melingkupi hati saya. Setidaknya pesan yang saya sampaikan bukan hanya memberkati kedua mempelai, tetapi juga semua yang hadir. Saya lega karena Roh Kudus menolong saya untuk memberikan pesan yang terbaik di hari pernikahan anak rohani saya. Sampai kapan pun saya tetap ingin bisa dipercaya. Karena itu, saya harus terus belajar untuk tidak menganggap remeh apa yang dipercayakan kepada saya.


Saya sedang membaca buku "Berpikir dan Berjiwa Besar" yang ditulis oleh David J. Schwartz. Saya merasa tertemplak ketika membaca sebuah cerita dari buku tersebut.

Lima atau enam tahun yang lalu, seorang profesor yang sangat ahli mengatakan kepada saya tentang rencananya untuk menulis buku, biografi dari tokoh kontroversial beberapa dasawarsa yang lalu. gagasannya sangat menarik; gagasan tersebut hidup & mempesona. Profesor tersebut tahu apa yang ingin ia katakan, & ia mempunyai keahlian & energi untuk mengatakannya. Proyek tersebut ditakdirkan untuk memberinya imbalan berupa kepuasan batin yang besar, prestise & uang.

Musim semi yang lalu, saya bertemu kembali dengan teman saya ini & dengan lugu bertanya kepadanya apakah buku tersebut sudah hampir selesai. (Ini kesalahan besar; ini membuka luka lama).

Belum, ia belum menulis buku itu. Ia bergulat dengan dirinya sendiri untuk sesaat seolah ia sedang berdebat dengan dirinya apakah perlu menjelaskan alasannya. Akhirnya ia mengatakan bahwa ia terlalu sibuk, ia mempunyai "tanggungjawab" lebih besar & benar-benar tidak dapat menulis bukunya.

Setiap hari ribuan orang mengubur gagasan yang bagus karena mereka takut untuk melaksanakannya. Gagasan yang bagus saja tidak cukup. Gagasan sederhana yang dilaksanakan, & dikembangkan, adalah seratus persen lebih baik daripada gagasan hebat yang mati karena tidak ditindaklanjuti.

Sejak beberapa bulan lalu, saya ingin sekali menulis sebuah buku berjudul "Equipped For Hope." Ketika hasrat tersebut muncul di hati saya, saya menulis beberapa draft tentang buku tersebut. Sampai saya sadari bahwa saya tidak pernah lagi menyentuhnya. Penundaan, entah apapun alasannya, membuat seseorang menjadi tidak produktif. Saya harus kembali meneruskan apa yang telah saya mulai, sehingga di tahun ini, buku "Equipped For Hope" bisa terbit & menjadi berkat bagi banyak orang.