Badai itu sudah berlalu. Awal tahun 2011 hingga menjelang hari pernikahan saya (14 Mei 2011), merupakan hari-hari yang sangat sulit untuk dilalui. Iman saya berada ditepian jurang. Apakah mungkin tanggal 14 Mei 2011 saya bisa menikah? Kami (saya & Vania) telah membayar DP untuk semua persiapan pernikahan kami.

14 Mei 2011 adalah tanggal pernikahan yang saya dapatkan dari Roh Kudus ketika sedang makan malam di hari ulang tahun Vania. Buzz Restaurant di Alila Hotel adalah tempat kami menikmati makan malam tepat tanggal 13 Januari 2010. Saya hampir tidak percaya bahwa Allah sungguh memberikan tanggal tersebut di hati saya pada saat saya sedang berada di toilet. Vania pun sulit untuk mempercayai tanggal yang saya sebut. 14 Mei 2011? Saya tidak ragu lagi setelah mendapati bahwa 14 Mei 2011 adalah hari Sabtu. Seandainya 14 Mei 2011 adalah hari Senin atau Rabu, mungkin saya akan meragukannya... 


"Now unto him that is able to do exceeding abundantly above all that we ask or think, according to the power that worketh in us, ..." -Ephesians 3:20 KJV

Ayat di atas menjadi dasar pernikahan kami. We believe ini miracle... sampai saat di mana ujian datang & menguji iman kami...

Setiap hari saya berseru kepada Tuhan memohon mujizat... mujizat tidak datang. Waktu terus berjalan. Keputusan harus dibuat. Banyak hal harus dibayar. Takut. Dipermalukan. Bingung. Kecewa. Marah.

Tiba-tiba saja saya menjadi akrab dengan perasaan-perasaan negatif yang ada.

Saya mempertanyakan keterlambatan Tuhan...
Saya menanyakan status Tuhan sebagai Bapa & saya sebagai anak...
Saya seperti Ayub yang kecewa & mempertanyakan di mana letak kesalahan saya...

Tuhan diam, sampai Ia mulai berbicara melalui banyak hal. Di antaranya ialah 2 buku di bawah ini: It's Your Time by Joel Osteen & Destined to Reign by Joseph Prince...


Saya membeli kedua buku tersebut dengan uang hasil pelayanan saya hari itu. Desakan Roh Kudus yang begitu kuat di sebuah toko buku rohani, membuat saya berani membeli kedua buku yang harganya cukup mahal, berhubung waktu itu saya sedang berhemat habis-habisan (mohon jangan salah sangka, starbucks di sebelahnya saya peroleh gratis dengan voucher...).

Melalui lembar-lembar buku tersebut, Tuhan menjawab banyak pertanyaan saya saat itu. Hati saya dikuatkan. Waktunya kembali melangkah. Namun saya terkejut. Setelah Tuhan berbicara melalui buku-buku tersebut, mujizat tetap tidak terjadi.

"Belajar percaya" bukan hal mudah. Jika ada orang yang berkata bahwa mereka ingin mengalami pernikahan yang penuh mujizat seperti yang pernah saya alami, saya akan mengatakan bahwa prosesnya sungguh tidak enak. Daging saya berteriak kesakitan. 

Saat-saat yang penuh badai ini menjadikan saya seorang pendoa. Saya tidak pernah lebih sungguh-sungguh dari waktu-waktu ini. Bukan hanya setiap hari, melainkan setiap saat... saya berdoa dengan sungguh-sungguh. Di kamar, di motor, di stasiun kereta api, di WC umum... saya merasakan Tuhan. Saya sangat membutuhkan Dia. Tanpa Tuhan saya pasti tenggelam. Begitu kuatnya saya berdoa sehingga dari saat-saat tersebut, lahirlah buku perdana saya yang berjudul "The Tremendous Power That Available." Buku ini menjadi salah satu gift yang kami berikan di Holy Matrimony pernikahan kami.




Dan hari itu pun datang juga...


Pdt. Jonathan Pattiasina memberkati pernikahan kami di Alila Hotel, Pecenongan pada tanggal 14 Mei 2011. Saya tidak dapat melupakan hari yang luar biasa tersebut. Allah mencukupkan segala sesuatunya. Pernikahan kami berlangsung dengan sangat luar biasa. Hari-hari yang penuh air mata ketakutan & kekecewaan berganti dengan air mata sukacita & ucapan syukur.

Tuhan Yesus memang sangat baik!

Sudah 5 bulan berlalu... Badai itu benar-benar telah berlalu... Tuhan memberkati pernikahan & pelayanan saya. Saya sedang menikmati hari-hari terbaik saya... hingga saya menyadari satu hal: saya tidak lagi berdoa seperti waktu-waktu di mana badai itu menghantam kehidupan saya. Saya sudah terlalu nyaman sehingga hampir-hampir saya tidak bisa berseru seperti ketika saya hampir tenggelam.

"Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui." -Yeremia 33:3

Saya tahu bahwa saat ini Roh Kudus sedang mengingatkan kembali untuk saya kembali berseru kepada Tuhan. Doa merupakan sebuah anugerah. Anugerah yang hanya dapat kita gunakan & nikmati di bumi. Kita tidak dapat berdoa di Sorga. Kita tidak membutuhkan kesembuhan, pemulihan & terobosan keuangan di Sorga. Di sana segala sesuatunya telah tersedia. Tidak ada lagi maslaah & air mata. Kita membutuhkannya di bumi. Melalui doa kita memerintah bersama-sama dengan Allah.

Saya masih harus berseru meskipun saya tidak sedang tenggalam... namun ada orang-orang yang sedang tenggelam. Kota Jakarta sedang tenggelam dengan dosa-dosanya. Orang-orang yang saya pimpin sedang tenggelam dengan kesibukannya. Kita tidak hanya dipanggil untuk berseru kepada Tuhan hanya untuk urusan pribadi. Kita dipanggil juga untuk berseru kepada Tuhan untuk orang-orang yang kita pimpin, keluarga kita, kota & bangsa kita. Itulah "syafaat"... Kata "syafaat" berasal dari kata Ibrani "paga" yang artinya: perjumpaan. Allah berjumpa dengan partner-Nya, Iblis berjumpa dengan musuh-Nya. Peperangan kembali berlanjut... namun kemenangan pasti di pihak Allah kita.