Menjalani suatu hubungan sangat sulit jika kita tidak memiliki penguasaan diri. Konflik mudah di atasi jika kita melatih pengendalian diri. Hidup dipimpin oleh Roh Kudus merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam membangun dan menjalani sebuah hubungan. Jika kita tidak belajar mendengarkan Allah ketika konflik terjadi di hidup kita, maka hasilnya kita akan melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan Firman Allah.

Untuk menjalani sebuah hubungan yang berkemenangan, setiap pribadi yang terlibat harus mau terus-menerus diubahkan dan mengalami pemulihan. Kematian terhadap diri sendiri merupakan kunci menjadi pribadi seperti Kristus. Sejak manusia ada di bumi dan jatuh ke dalam dosa, keegoisan dan sikap mementingkan diri sendiri telah menjadi musuh besar dari hubungan. Jika kita penuh dengan diri sendiri (agenda-agenda, keinginan-keinginan, apa yang kita rasakan...), kita tidak akan bisa menjadi seorang "partner" yang membangun hidup pasangan kita.

Prioritas yang salah selalu mewarnai hubungan yang bermasalah. Alkitab memberitahu kita bahwa "mengasihi Allah dengan segenap hati", merupakan prioritas yang benar dalam hidup. Yang paling buruk di dalam sebuah hubungan ialah ketika setiap pribadi berebut untuk merasa dirinya penting. Hubungan bukan alat pemuas kebutuhan kita. Hubungan tidak boleh menjadi alat untuk memuaskan kebutuhan emosional, kebutuhan jasmani apalagi kebutuhan seksual. Sebuah hubungan akan bekerja dengan baik jika kita berfokus pada memberi, bukan menerima.

Dulu saya pernah merasa bahwa saya adalah orang yang sabar. Namun di dalam hubungan, saya menemukan banyak ketidaksabaran di dalam diri saya. Banyak ketidak dewasaan yang harus dibenahi. Banyak cara berpikir yang harus dikoreksi. Saya harus belajar meminta maaf dengan penuh kerendahan hati. Belajar memaafkan dengan tidak mengingat, apalagi mengungkit-ungkit kesalahan. Yang terpenting dari semua ini ialah menentukan dari sumber mana kita akan belajar mengenai hubungan.

Roh Kudus pernah mengingatkan bahwa kehidupan saya seperti Musa. Si pemimpin besar yang dijuluki "orang yang paling lemah lembut di muka bumi" ini, tidak selalu bersikap selembut julukannya. Ia pernah menjadi pembunuh. Dan yang paling buruk ialah, ia tidak bisa memasuki Tanah Perjanjian karena dia emosi dengan orang-orang yang ia pimpin.

Seringkali kesalahpahaman dan sikap pasangan kita yang salah di dalam hubungan dapat membuat kita begitu emosi. Kita mungkin tidak terima karena menganggap tidak perlu membesar-besarkan masalah atau meributkan hal yang sepele. Dalam beberapa kesempatan kita mungkin berhasil menguasai diri. Tapi dalam banyak kesempatan lainnya kita kehilangan kendali dan menjadi sangat marah.

Saya menulis tulisan ini untuk mengingatkan diri saya. Saya seorang yang melayani Tuhan sepenuh waktu, tapi saya bukan Tuhan. Berulangkali saya marah dan membenci diri saya sendiri oleh karena menyesal dengan sikap-sikap saya ketika saya sedang marah. Saya berusaha membenarkan alasan-alasan mengapa saya marah. Namun, firman Tuhan berkata: "... sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1:20). Saya ingin dipakai oleh Tuhan sama seperti Tuhan memakai Musa. Namun saya tidak ingin mengalami apa yang Musa alami: menerima janji Tuhan, tetapi tidak menerima penggenapan janji Tuhan. Saya tidak ingin kehilangan janji Tuhan hanya karena saya tidak bisa menguasai diri (emosi).


Mazmur 106:32-33
"Mereka menggusarkan Dia dekat air Meriba, sehingga Musa kena celaka karena mereka;
sebab mereka memahitkan hatinya, sehingga ia teledor dengan kata-katanya."

Kiranya firman ini selalu mengingatkan saya, bahwa saya bisa kehilangan apa yang telah Allah sediakan bagi saya, jika saya tidak belajar mengendalikan diri. Saya tidak hanya ingin menerima janji, saya ingin menerima penggenapan janji.

"... let Your will be done!"